Kebangkrutan Forever 21, Kebangkitan E-Commerce

Kini, kantung belanja berwarna kuning menyala khas Forever 21 jarang terlihat di antara konsumen Generasi Z yang minat fesyennya semakin bergeser ke merek streetwear dan lebih senang berbelanja melalui platform e-commerce.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 30 September 2019  |  15:48 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Forever 21 unggul di antara para remaja pada 2000-an berkat desain yang modis dan harganya yang terjangkau.

Kini, kantung belanja berwarna kuning menyala khas Forever 21 jarang terlihat di antara konsumen Generasi Z yang minat fesyennya semakin bergeser ke merek streetwear dan lebih senang berbelanja melalui platform e-commerce.

Keberadaan Forever 21, yang berawal dari Amerika Serikat, kemudian merambah pasar internasional, selama beberapa tahun belakangan dihadapi dengan persaingan ketat bersamaan dengan hadirnya sejumlah e-commerce seperti Amazon dan Alibaba serta merek fesyen serupa antara lain Zara, H&M, dan Stradivarius.

Forever 21 Inc. mengajukan perlindungan kebangkrutan, perusahaan mengaku tidak dapat memenuhi kewajiban sewa yang tinggi dan persaingan yang ketat ketika konsumen beralih ke e-commerce, memotong jalan melalui pengecer tradisional.

Dengan mengajukan perlindungan di bawah Chapter 11 atau Bab 11 Undang-Undang Kepailitan Amerika Serikat, memungkinkan perusahaan yang berbasis di Los Angeles itu untuk tetap beroperasi sambil menyusun rencana untuk membayar kreditornya dan membalikkan bisnis.

Pengajuan kebangkrutan dapat membantu Forever 21 menutup toko-toko yang tidak menguntungkan dan mengumpulkan dana segar, sehingga perusahaan swasta yang didirikan oleh pebisnis Amerika-Korea itu untuk merestrukturisasi bisnisnya dan memulai lembaran baru.

Pembiayaan yang diberikan oleh JPMorgan dan TPG Sixth Street Partners akan mempersenjatai Forever 21 dengan modal yang diperlukan untuk melakukan perubahan kritis di AS dan luar negeri untuk merevitalisasi merek dan mendorong pertumbuhan perusahaan.

"Sehingga kami dapat memenuhi kewajiban berkelanjutan kami kepada pelanggan, vendor, dan karyawan,” ujar Linda Chang, wakil presiden eksekutif Forever 21, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip melalui Bloomberg, Senin (30/9/2019).

Pengajuan kebangkrutan Forever 21 dapat menjadi masalah bagi pemilik pusat perbelanjaan di AS, termasuk Simon Property Group Inc. dan Brookfield Property Partners LP, karena ini adalah salah satu penyewa mal terbesar yang masih berdiri setelah gelombang kebangkrutan.

Simon mengungkapkan Forever 21 sebagai penyewa terbesar keenamnya di luar penyewa department store, dengan 99 outlet seluas 1,5 juta kaki persegi pada 31 Maret.

Simon dan Brookfield tercantum dalam surat-surat pengadilan tentang penghitungan kreditor terbesar tanpa jaminan Forever 21.

Namun, peritel tersebut tidak memiliki pengaruh besar terhadap bisnis penyewanya. Menurut Bloomberg Intelligence, dalam laporan pada 27 September mengungkapkan bahwa Forever 21 menyumbang hanya 1,4% dari sewa tahunan Simon.

Forever 21 mengoperasikan lebih dari 800 toko di AS, Eropa, Asia, dan Amerika Latin.

Mereka mengkhususkan diri dalam bisnis fast-fashion, atau tiruan dari desain asli yang trendi, murah, cepat dibuat. Produk semacam ini sering dipakai hanya beberapa kali sebelum diberikan atau dibuang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
e commerce

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top