Kronisme Parpol, Mampukah Politisi Milenial Dongkrak Kualitas DPR?

Dua pekan menjelang berakhirnya masa bakti anggota DPR periode 2014-2019, perbincangan mengenai profil maupun kualitas calon ‘penghuni Senayan’ yang berasal dari kalangan milenial cukup menarik untuk disimak.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 18 September 2019  |  16:08 WIB
Kronisme Parpol, Mampukah Politisi Milenial Dongkrak Kualitas DPR?
Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (16/8/2019). - ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA - Dua pekan menjelang berakhirnya masa bakti anggota DPR periode 2014-2019, perbincangan mengenai profil maupun kualitas calon ‘penghuni Senayan’ yang berasal dari kalangan milenial cukup menarik untuk disimak.

Kehadiran mereka akan menjadi bagian dari jumlah anggota DPR yang berbeda dari periode sebelumnya. Pasalnya, kalau pada periode 2014-2019 jumlah mereka sebanyak 560 orang, nanti mereka yang akan dilantik naik menjadi 575 orang sesuai dengan perubahan UU MD3

Tidak hanya itu, kini jumlah kalangan politisi milenial yang berusia di bawah 30 tahun mengalami lonjakan nyata. Di antara mereka ada beberapa nama yang berusia di bawah 26 tahun atau lebih muda dari politisi termuda Ade Rizki Pratama dari Partai Gerindra saat dilantik lima tahun lalu.

Fenomena ini cukup menarik, karena mereka tidak saja memiliki pendidikan tinggi, tapi juga mampu mendongrak raihan suara dengan segala daya tarik mereka masing-masing. Kebanyakan dari mereka juga tercatat berasal dari keluarga politisi maupun kepala daerah.

Sebelum, membahas soal kulitas dan harapan publik kepada para wanita muda itu, mari kita lihat dulu profil mereka yang telah ‘mengukur baju’ untuk selanjutnya dilantik pada 1 Oktober mendatang sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan mereka.

Anggota DPR dari Partai Golkar Puteri Anetta Komarudin./Facebook  @puterikom

Parpol Penyumbang Milenial Terbanyak

Partai Golkar tercatat sebagai penyumbang anggota DPR termuda disusul Partai Demokrat, PAN sampai Gerindra.

Siapakah Mereka?

Sebagai salah satu partai tertua, Golkar menempatkan politisi Puteri Anetta Komarudin. Puteri adalah putri dari dari mantan Ketua DPR Ade Komarudin yang saat ini baru berusia 26 tahun.

Mengikuti bakat orangtuanya sebagai vote getter di wilayah Jawa Barat, pada pemilu kali ini Puteri yang merupakan lulusan University of Melbourne itu lolos ke Senayan dengan perolehan suara 70.164 dari Dapil Jawa Barat VI.

Sama halnya dengan Puteri, Dyah Roro Esti yang merupakan putri dari Anggota Komisi I DPR Satya Widya Yudha juga tengah bersiap untuk dilantik jadi anggota DPR.

Dia lolos dengan memperoleh 48.377 suara mewakili Dapil Jawa Timur X. Menempuh pendidikan sarjana Jurusan Ekonomi dan Sosiologi di University of Manchester serta S2 di Imperial College London, Dyah siap beradu argumen di Senayan.

Tidak ketinggalan pula politisi muda Golkar Adrian Jopie Paruntu. Pria berusia 25 tahun itu memperoleh suara 70.621 dari daerah pemilihan (dapil) Sulawesi Utara.

Adrian adalah putra dari Bupati Minahasa Selatan, Christiany Eugenia Tetty Paruntu. 

Anggota DPR dari Partai Dempkrat Bramantyo Suwondo./Facebook @MasBramantyoID

Politisi Muda dari Demokrat

Kalau pada periode lalu Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) tercatat sebagai ketua fraksi termuda di DPR, kali ini Partai Demokrat juga menyumbang politisi muda untuk duduk di Senayan.

Salah satunya adalah Bramantyo Suwondo yang kini berusia 26 tahun dan maju dari Dapil Jawa Tengah VI dengan perolehan suara 27.934.

Bramantyo merupakan cucu dari almarhum Jenderal Sarwo Edhie Wibowo. Dia tercatat menyelesaikan Bachelor of Arts–Politic and Behavioral Studies di Monash University, Australia tahun 2015.

Bramantyo tidak sendiri. Ada Rizki Aulia Rahman Natakusumah yang juga berusia 25 tahun dari Dapil Banten I. Dengan perolehan suara 56.123, Rizki siap melenggang ke Senayan bersama bapaknya yang tidak lain adalah Dimyati Natakusumah.

Dimyati sendiri merupakan mantan Wakil Ketua MPR dan bupati Pandeglang yang kini menggunakan bendera PKS setelah ‘hijrah’ dari PPP pada periode 2014-2019.

Sedangkan, anggota DPR termuda  dari Partai NasDem adalah Hillary Brigitta Lasut yang berusia 23 tahun dari Dapil Sulawesi Utara dengan perolehan suara 70.345. Hillary adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (UPH) sebelum melanjutkan di Washington Law University.

Selanjutnya, ada Arkanata Akram, 24 tahun, dari dapil Kalimantan Utara dengan perolehan suara 30.315. Dia berhasil mendapat gelar S2 di Jurusan Teknik Kimia Queensland University (UQ), Brisbane-Australia.

 Anggota DPR termuda yang berasal dari Partai Amanat Nasional (PAN) bernama Farah Puteri Nahlia. Wanita berusia 23 tahun dari Dapil Jabar IX itu berhasil memperoleh tiket ke Senayan dengan 113.263 suara.

 Dia berhasil menyelesaikan pendidikannya SI di Royal Holloway, University of London tahun 2013-2016 dan menyelesaikan S2 nya di universitas yang sama tahun 2016-2017 bidang politik hubungan internasional.

 Kemudian, ada Fachry Pahlevi Konggoasa yang berusia 24 tahun dari Dapil Sulawesi Tenggara dengan perolehan suara 101.727. Dia merupakan anak dari Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa. 

Untuk Partai Gerindra, anggota DPR  termudanya adalah Muhammad Rahul, 23 tahun. Kaum milenial dari dapil Riau I tersebut memperolehan suara 58.565. Rahul sendiri berasal dari keluarga politisi.

Ayahnya adalah anggota Komisi VII DPR, Muhammad Natsir dari Partai Demokrat.

Peneliti senior Pusat Penelitian Politik LIPI Siti Zuhro./Istimewa

Kualitas DPR Berubah?

Meski diwarnai banyak politisi milenial, namun pertanyaannya adalah : “Apakah kehadiran mereka yang rata-rata berusia di bawah 30 tahun tersebut akan mampu meningkatkan kinerja DPR yang selama ini tak kunjung menanjak?

Setidaknya, kinerja DPR stagnan untuk fungsi legislasi atau pembuatan undang-undang. 

Mencermati dinamika tersebut, pengamat politik yang juga peneliti senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro mengaku tidak terlalu optimistis akan terjadinya perbaikan kinerja DPR untuk periode 2019-2024. 

Dia mengapresiasi munculnya para politisi milenial di Senayan, namun  bercermin dari kinerja DPR dari periode ke periode, keberadaan mereka tidak akan banyak berpengaruh karena sistem perekrutan di parpol tidak berubah.

Kelompok milenial memang sudah ada sejak dulu di DPR meski tidak sebanyak sekarang.

Sistem oligarki dan kronisme di parpol akan sulit menjaring mereka yang berkualitas sebagai angota DPR, terlepas apakah mereka dari kalangan milenial atau tidak.

Peneliti senior Pusat Penelitian Politik LIPI Siti Zuhro mengatakan bahwa politisi milenial mampu mendongkrak suara partai, itu benar. Akan tetapi, mereka belum tentu mampu membenahi kualitas fungsi legislasi DPR yang seama ini punya ‘rapor merah’. 

“Dari periode ke periode kualitas DPR tidak pernah tidak dapat rapor merah, selalu mengecewakan,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (17/9/2019). 

Sekalipun mereka memiliki pendidikan tinggi, akan tetapi realita sebagai wakil rakyat itu berbeda karena diperlukan  kemampuan menyerap aspirasi rakyat selain memahami setiap bahasan di masing-masing komisi nantinya.

“Apakah mereka hanya untuk menambah suara supaya kursinya banyak? Kalau itu yang terjadi maka prospek kualitas DPR tidak akan jauh beda,” ujarnya.

Karena itulah profesor riset itu tidak terlalu optimistis kehadiran para milenial akan membawa perubahan signifikan pada DPR periode baru nantinya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
parpol, anggota dpr, UU MD3

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top