Kritik Desain Ibu Kota Baru, Ridwan Kamil Bertemu Jokowi

Menurut Ridwan Kamil yang dimaksud dengan humanis adalah jarak perumahan dengan fasilitas umum, misalnya sekolah, pasar, dan kantor harus bisa diakses dengan berjalan kaki. Dengan luas lahan maksimal 30.000 hektar, penggunaan kendaraan umum atau pribadi bisa diminimalisasi.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  15:49 WIB
Kritik Desain Ibu Kota Baru, Ridwan Kamil Bertemu Jokowi
Gagasan rencana dan kriteria desain ibu kota negara. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA--Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyebutkan desain ibu kota baru seharusnya membutuhkan sekitar 17.000 hektar-30.000 hektar dengan pendekatan humanis.

Menurut Ridwan Kamil yang dimaksud dengan humanis adalah jarak perumahan dengan fasilitas umum, misalnya sekolah, pasar, dan kantor harus bisa diakses dengan berjalan kaki. Dengan luas lahan maksimal 30.000 hektar, penggunaan kendaraan umum atau pribadi bisa diminimalisasi.

"Kalau pakai teori Washington DC, sekitar 17.000 hektare. Maksimal 30.000-an hektare. Itu sudah cukup. Enggak usah 180.000 hektare. 30 berbanding 180 ," kata Ridwan Kamil di Istana Negara, Rabu (28/8/2019).

Menurut Ridwan Kamil desain yang ada saat ini harus dikaji ulang supaya ibu kota yang baru nantinya tidak berorientasi mobil lagi. Dia tidak keberatan jika konsep kota baru itu berbasis hutan (forest city).

Adapun desain ibu kota baru yang dikemukakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional membutuhkan lahan sekitar 180.000 hektar.

Direncanakan ibu kota baru tersebut terletak di Kecamatan Samboja dan Kecamatan Sepaku.  Tahap awal, pembangunan kota induk diperkirakan membutuhkan lahan seluas 40.000 hektare.

Jika mengacu pada sejarah perkotaan terkait pemindahan ibu kota baru, Ridwan Kamil menilai Washington DC adalah contoh terbaik. Di kota ini masyarakat hanya perlu berjalanan kaki karena karena jarak fasilitas umum ke perumahan sangat dekat.

Tak hanya itu, selepas jam kantor, perkotaan masih ramai sehingga kegiatan ekonomi bisa berjalan dengan semestinya. Ridwan Kamil mengemukakan hidup di kota bukan hanya urusan kerja tetapi ada percampuran kegiatan.

"Ada ibu kota di Brasil, Brasilia, setelah 50 tahun dicap sebagai ibu kota yang tidak berhasil oleh Harvard, oleh NY Times. Jangan sampai kita sibuk dengan cara seperti itu, 50 tahun setelahnya mangkrak," tegas Ridwan Kamil.

Setelah mengungkapkan pendapatnya mengenai desain ibu kota baru, Ridwan Kamil mengungkapkan respons Jokowi cukup baik.

"Beliau sangat senang mendapatkan input karena ini kan semua orang berkepentingan. Saya datang sebagai anak bangsa, bukan sebagai gubernur dalam konteks itu," tambah Ridwan Kamil.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Ibu Kota Dipindah

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top