Demo Hong Kong Masuk Fase Krusial

Jelang perayaan Hari Nasional China pada 1 Oktober mendatang, Hong Kong memasuki masa-masa yang terbilang sensitif sejak aksi unjuk rasa memukul wilayah ini selama lebih dari dua bulan belakangan.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  11:10 WIB
Demo Hong Kong Masuk Fase Krusial
Pengunjuk rasa memblokir jalan di Cross-Harbour Tunnel, Hong Kong, China, Senin (5/8/2019). - Reuters/Eloisa Lopez

Bisnis.com, JAKARTA – Jelang perayaan Hari Nasional China pada 1 Oktober mendatang, Hong Kong memasuki masa-masa yang terbilang sensitif sejak aksi unjuk rasa memukul wilayah ini selama lebih dari dua bulan belakangan.

Peringatan ke-70 Republik Rakyat China, nama yang digunakan oleh para pemimpin Partai Komunis setelah mereka memaksa rezim Chiang Kai-shek untuk mundur ke Taiwan, pada 1 Oktober direncanakan bakal menampilkan parade militer Beijing yang diinspeksi sendiri oleh Presiden Xi Jinping.

Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa Xi Jinping akan berupaya mengendalikan Hong Kong demi menghindari kekerasan yang dapat mencuri perhatian.

Banyak yang mungkin bergantung pada apa yang terjadi pada pekan pertama September, ketika siswa yang selama ini menggerakkan demonstrasi kembali ke bangku universitas dan sekolah menengah.

Meski sebagian analis melihat dimulainya tahun ajaran baru dapat melemahkan dukungan untuk protes, kelompok-kelompok siswa tetap merencanakan unjuk rasa untuk menjaga momentum dorongan melawan meningkatnya kendali pemerintah China di Hong Kong.

"Kami memiliki banyak rencana unjuk rasa pada September oleh siswa-siswa sekolah menengah dan mahasiswa,” ungkap Sunny Cheung, anggota Delegasi Urusan Internasional Lembaga Tinggi Hong Kong, yang mewakili 12 sekolah utama termasuk University of Hong Kong.

Pertaruhan ini telah menambah tekanan pada Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam untuk mengatur resolusi tanpa memunculkan lebih banyak kekerasan ataupun korban yang dapat mengobarkan ketegangan dan mungkin mendorong Xi Jinping untuk memobilisasi tentara China guna mempertahankan kontrol.

Protes damai pada Minggu (18/8/2019) menyusul bentrokan yang berlangsung berpekan-pekan sebelumnya, telah memberi celah bagi kedua belah pihak untuk mencari titik temu.

“10 hari berikutnya adalah periode emas,” ujar Michael Tien, seorang anggota parlemen kepada Bloomberg Television pada Selasa (20/8).

“Jika Hong Kong ingin menghindari campur tangan pemerintah pusat selama bulan September, ini adalah waktu yang tepat bagi Carrie Lam untuk memikirkan bagaimana mengatasi beberapa dari lima tuntutan,” jelasnya.

Meski China telah meningkatkan tekanan pada pejabat perusahaan dan pemerintah untuk berupaya dan meredakan protes, langkah mengirimkan pasukan untuk memadamkan pemberontakan masih dianggap sebagai upaya terakhir.

Menurut Willy Lam, asisten profesor Pusat Studi China di Chinese University of Hong Kong, bagian dari strategi Beijing berfokus pada dampak negatif ekonomi Hong Kong dalam upaya untuk melemahkan dukungan bagi para siswa.

“Setidaknya sebelum Hari Nasional, China tidak akan menggunakan kekuatan bersenjata untuk meredakan protes Hong Kong. Setiap gerakan semacam itu hanya akan membayangi perayaan itu sendiri,” katanya.

Para pengunjuk rasa menyatakan tidak akan berhenti berunjuk rasa sampai Pemimpin Hong Kong Carrie Lam sepenuhnya menarik rancangan undang-undang (RUU) yang memungkinkan ekstradisi dari wilayah ini ke China.

Mereka juga menuntut adanya penyelidikan independen terhadap kekerasan polisi, membebaskan siapapun yang ditangkap, menghentikan sebutan “perusuh” kepada pendemo, serta membiarkan warga untuk memilih pemimpin mereka sendiri.

Sejauh ini, pemerintah China telah menolak untuk menyerah dan mendukung pihak kepolisian untuk menghukum para demonstran yang melanggar hukum.

Pada Selasa (20/8), Carrie Lam berjanji untuk segera membangun sebuah platform dialog dengan para pengkritik pemerintah yang bertujuan meningkatkan pemahaman dan menemukan cara untuk situasi di Hong Kong.

Anggota parlemen oposisi Fernando Cheung berpendapat protes belum tentu akan mereda pada September ketika siswa-siswa kembali ke sekolah. Namun, ia melihat jeda dalam permusuhan ini sebagai peluang penting untuk menemukan solusi sebelum keadaan menjadi lebih buruk.

"Ini adalah momen langka dimana pihak yang lebih militan dari para demonstran telah sepakat untuk menahan diri," kata Cheung.

“Tapi jika tidak ada respons - atau jika ini adalah respons - pada dasarnya tidak akan ada akhir. Situasi kacau akan terus berlanjut. Mungkin ada lebih banyak eskalasi, dan itu tidak akan bagus.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, demo, hong kong

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top