Kiai Maimun Zubair Wafat : Doa Mbah Moen, Jokowi, Romy, dan Takdir Allah

Kabar meninggalnya Mbah Moen, sapaan untuk Kiai Haji Maimun Zubair mengingatkan kembali pada momen Pilpres dan tertangkapnya Ketua Umum PPP Romahurmuziy alias Rommy.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  10:08 WIB
Kiai Maimun Zubair Wafat : Doa Mbah Moen, Jokowi, Romy, dan Takdir Allah
Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) bersama Ketua Majelis Syariah PPP Maimun Zubair (kedua kiri), Ketua Majelis Pakar PPP Lukman Hakim Saifuddin (kiri), dan Ketum PPP Romahurmuziy (keempat kiri) saat mengikuti rangkaian acara penutupan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) II Bimtek Anggota DPRD Partai Persatuan Pembangunan, di kawasan Ancol, Jakarta, Jumat (21/7). - ANTARA/Rosa Panggabean

Bisnis.com, JAKARTA - Kabar meninggalnya Mbah Moen, sapaan untuk Kiai Haji Maimun Zubair mengingatkan kembali pada momen Pilpres dan tertangkapnya Ketua Umum PPP Romahurmuziy alias Rommy.

Ssempat "terselip lidah" karena mendoakan Prabowo sebagai capres terpilih dan menimbulkan polemik, Mbah Moen mendoakan agar Jokowi terpilih sebagai Presiden RI.

Doa agar Jokowi kembali terpilih sebagai presiden disampaikan Ketua Majelis Syariah PPP KH. Maemun Zubair saat menghadiri Resepsi Hari Lahir PPP ke-46 di Ancol, Jakarta, Kamis (28/2/2010).

"Ya Allah jadikanlah Jokowi pemimpin untuk kedua kalinya, dan jadikanlah kepemimpinan pemerintahan kedua lebih baik dibandingkan yang pertama," kata Mbah Moen dalam doa berbahasa Arab.

Mbah Moen juga beberapa kali menyebut Jokowi dengan kalimat “Jaa’a qowiyyun” yang artinya telah datang orang yang kuat. Dalam doa cukup panjang itu, Mbah Moen juga mendoakan Indonesia menjadi negara sejahtera dan diridloi Allah.

Saat itu, peran Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy alias Rommy terkesan begitu menonjol dalam acara yang diwarnai doa untuk Jokowi.

Rommy menyebutkan,  doa Mbah Moen semakin menegaskan pilihan politik Kiai paling sepuh di negeri ini.

“Sebagai ulama paling sepuh yang dihormati di negeri ini, sikap Mbah Moen jelas dan tegas yaitu mendukung Pak Jokowi untuk terpilih kembali menjadi presiden,” kata Rommy, seperti disampaikan dalam pernyataan tertulis yang diterima Kamis (28/2/2019) malam.

Rommy mengatakan memang ada putra Mbah Moen yang berseberangan secara politik dengan ayah mereka. Namun yang berbeda hanya satu orang dari sembilan orang putra tokoh kharismatik Nahdlatul Ulama ini.

Rommy menyebut bahwa sikap politik Mbah Moen sangat jelas, yaitu mendukung Jokowi dalam Pilpres 2019. Sebagai tokoh PPP, Ketua Mustasyar PBNU ini juga jelas mensupport perjuangan partai berlambang ka’bah agar bisa meraih target tiga besar dalam Pileg mendatang.

Mbah Moen Kecewa kepada Rommy

Sayangnya, perjalanan politik Rommy terganjal. Kasus suap membuat Rommy, politisi muda yang mestinya bisa tampil cemerlang, berurusan dengan KPK.

Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan Maimun Zubair atau Mbah Moen mengaku kecewa dengan penangkapan Ketua Umum PPP Muhammad Romahurmuziy atau Romy oleh KPK.

Padahal beberapa waktu silam, Ketua Umum PPP periode 2007-2014 Suryadharma Ali juga tertangkap KPK.

"Mengapa dulu Pak SDA (Suryadharma Ali), lalu terjadi lagi. Saya kecewa, tapi itu takdir Allah," kata kiai yang akrab disapa Mbah Moen itu di Kantor DPP PPP, Jakarta, Sabtu, 16 Maret 2019 seperti dikutip dari Tempo.co.

Mbah Moen mengatakan bahwa kasus suap yang menjerat Romy merupakan ujian. Ia menyerahkan sepenuhnya kasus itu kepada Komisi Pemberantasan Korupsi.

Mbah Moen mengaku menghormati proses hukum terhadap Romy. Namun, ia mengatakan bahwa PPP harus diselamatkan. Karena itu, ia mendatangi kantor PPP sebagai bagian dari upaya penyelamatan itu.

"Saya, walau bagaimana pun datang ingin ada kemaslahatan dan proses hukum adalah hukum, dan hukum untuk suatu kewajiban bagi siapa pun sebagai bangsa Indonesia," ujar Mbah Moen saat itu.

Pada 2014, Suryadharma Ali ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi penyelenggaraan haji 2012-2013. Dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, hakim memvonis Suryadharma Ali dengan hukuman 6 tahun penjara ditambah denda Rp 300 juta subsider 3 bulan kurungan. Dia dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi pelaksanaan ibadah haji periode 2010-2013.

Adapun Romahurmuziy ditetapkan sebagai tersangka kasus jual beli jabatan di Kementerian Agama baik di pusat dan daerah. Ia tertangkap tangan penyidik KPK di Hotel Bumi Surabaya, pada Jumat, 15 Maret 2019.

Dari tangan ANY, asisten Romy, KPK menyita tas yang berisi uang Rp 50 juta dan Rp 70,2 juta, sehingga total yang disita adalah Rp 120,2 juta. Dalam perkara suap ini, KPK menduga Romy bersama-sama dengan pihak Kementerian Agama melakukan praktek suap untuk memengaruhi hasil seleksi jabatan pimpinan tinggi di Kementerian Agama.

Restu untuk Suharso Monoarfa

Mbah Moen lantas mengusulkan nama Suharso Monoarfa sebagai pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum PPP menggantikan posisi Romahurmuziy alias Romy.

"Saya setuju kalau Pak Suharso jadi Plt," kata Mbah Moen di Kantor DPP PPP, Jakarta, Sabtu (16/3/2019), seperti dilaporkan tempo.co.

Mbah Moen mengatakan, semula para Wakil Ketua Umum PPP yang dicalonkan untuk menggantikan Romy, sapaan untuk Romahurmuziy. Namun, karena mereka tak sanggup dan ada beberapa yang tidak menghadiri rapat, akhirnya diusulkan nama anggota PPP, Suharso Monoarfa.

Alasan Mbah Moen merekomendasikan nama Suharso karena memiliki jabatan tinggi sebagai penasihat Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Tepatnya, Suharso kini menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Mbah Moen berharap Suharso bisa membuat pemilu tetap berjalan tenang.

Para pengurus harian PPP bersama pimpinan majelis partai mengadakan rapat untuk membahas status pemberhentian Romy dari jabatan ketua umum, setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap jual beli jabatan di Kementerian Agama. Saat ini, rapat masih berlanjut dan belum ada keputusan final yang akan menggantikan Romy.

Dukungan Mbah Moen untuk Jokowi 

Di luar petaka di tubuh PPP, Mbah Moen menjadi salah satu ulama senior yang mendukung Jokowi untuk menjadi presiden kedua kalinya. Seperti lazimnya politik yang tak sepi dari laku simbolik, dukungan Mbah Moen kepada Jokowi juga dilakukan dengan aktivitas simbolik tersebut.

Bersama ulama senior lainnya Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi, Mbah Moen menyerahkan serban dan tasbih untuk Jokowi. Saat akan menghadiri kampanye akbar bertajuk Konser Putih Bersatu #BarengJokowi di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019), Jokowi bersama rombongan datang ke Hotel Fairmont yang berlokasi tidak jauh dari GBK.

Di hotel itu, Mbah Moen –panggilan akrab KH Maimoen Zubair, menyerahkan serban berwarna hijau dan Habib Luthfi menyerahkan tasbih berwarna biru. Berdasarkan video yang viral di kalangan wartawan, Jokowi kemudian mengalungkan serban dan tasbih itu.

Seperti diketahui, baik Jokowi maupun rivalnya, Prabowo Subianto, berusaha mendapatkan dukungan dari tokoh-tokoh Islam, seperti ulama. Sebagian ulama menyatakan dukungannya kepada Prabowo dan sebagian ulama lainnya menyatakan dukungan kepada Jokowi dalam Pemilihan Presiden 2019.

Dukungan dan doa mengiringi pasangan Jokowi dan KH. Ma'ruf Amin dalam Pilpres 2019. Pasangan ini pun kemudian dikukuhkan sebagai capres dan cawapres terpilih oleh KPU setelah hakim MK membacakan putusan keputusan atas gugatan yang diajukan kubu Prabowo-Sandi.

Oktober mendatang, Jokowi-Ma'ruf akan dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI. Meski tanpa disaksikan almarhum Mbah Moen, tentu semua sependapat bahwa takdir Allah (meminjam kalimat Mbah Moen) menetapkan pasangan Jokowi-Ma'ruf akan memimpin Indonesia dalam 5 tahun ke depan. 
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
obituari, Mbah Moen

Sumber : bisnis.com

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top