Ini Kisah Batik Semarangan, Sejak Zaman Bupati Pertama

Kota Semarang, sebagai ibu kota Jawa Tengah, ternyata memiliki sejarah perbatikan. Tak banyak masyarakat yang tahu, jika Batik Semarangan juga sebagai alat syiar agama waktu silam.
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 27 Juli 2019  |  00:10 WIB
Ini Kisah Batik Semarangan, Sejak Zaman Bupati Pertama
Kegiatan membatik di Kampung Batik Kota Semarang. - Bisnis/Alif Nazzala Rizqi

Bisnis.com, SEMARANG – Kota Semarang, sebagai ibu kota Jawa Tengah, ternyata memiliki sejarah perbatikan. Tak banyak masyarakat yang tahu, jika Batik Semarangan juga sebagai alat syiar agama waktu silam.

Ketua Paguyuban Pembatik Kampung Batik, Eko Hariyanto menceritakan munurut literatur yang pernah ia baca, Batik Semarangan sudah digunakan pada zaman bupati Semarang pertama, yakni Ki Ageng Pandan Arang.

"Sebagai alat syiar agama Islam saat itu. Nahm perjuangannya dilanjutkan oleh anaknya yakni Ki Ageng Pandanaran hingga sampai ke Bayat, Klaten," ujar Eko.

Bukti bahwa adanya Batik Semarangan pun, lanjutnya, ada di Museum Den Haag Belanda, dan Museum di Los Angeles, Amerika Serikat. Di dalam museum memiliki koleksi berupa Batik Semarang.

"Menurut buku yang saya baca, Batik Semarangan ada pada 1840-1860. Itu ditemukan di museum Den Haag Belanda dan Los Angeles. Dulu Batik Semarangan dibuat oleh masyarakat kaki bukit Ungaran," tambahnya.

Eko menambahkan perjalanan sejarah Batik juga mengalami perkembangan melalui keraton, berbeda dengan batik di luar keraton, batik keraton memiliki motif yang memiliki filosofi dan tak sembarang orang bisa memakainya, mulai dari warna, motifnya dipilih langsung oleh raja.

"Beda kalau batik pesisir yang memiliki motif bebas, tegantung dengan pembatiknya. Termasuk Batik Semarangan, dia masuk dalam kategori Batik Pesisir. Motifnya saat itu yang banyak digambar adalah flora dan fauna," tuturnya.

Dalam perjalanannya, Kota Semarang memiliki perkampungan yang disebut Kampung Batik. Kampung tersebut terletak di RT 4 RW 2 Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur.

"Dulu itu sama seperti kampung seperti biasanya. Dulu di Berok saat zaman kolonial Belanda sekitar 1800-an sampai 1900-an tempat bongkar muat barang. Banyak kapal bisa keluar masuk lewat Kali Semarangan itu. Jadi, banyak para saudagar batik dari Solo, Pekalongan, dan lainnya itu tinggal di sini untuk mengirim barang dagangannya keluar Semarang," ujarnya.

"Banyaknya saudagar batik kemudian memunculkan Gedung Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), letaknya di samping Gedung Bank Mandiri. Oleh karena banyak saudagar batik, kemudian kampung sini dikenal sebagai kampung batik," tambahnya.

Kampung Batik, lanjut Eko, merupakan saksi bisu atas tragedi Pertempuran 5 Hari di Semarang. Saat itu, Kampung Batik habis terbakar tak tersisa karena dibakar oleh Jepang.

"Setelah kejadian tersebut, sudah tak ada lagi kegiatan yang berkaitan dengan batik di Semarang. Hingga suatu ketika Pemerintah Kota Semarang ingin memunculkan kembali Batik Semarangan pada 2006. Memang rentannya sangat panjang," paparnya.

Mulai dari pelatihan membatik yang diikuti 20 orang saja saat itu, sedikit demi sedikit Batik Semarangan muncul kembali. Sampai saat ini, Batik Semarangan tak hanya bermotif flora dan fauna, sudah banyak motif yang dimiliki Batik Semarangan.

"Setalah pada 2007 atau 2008 dilakukan penelitian, ternyata Semarang itu minim motif. Saat itulah pemerintah mengusulkan adanya banyak motif seperti lawang sewu, tugumuda, greja blenduk, bandeng presto, wewe gombel, sebagai motif ikonik," tuturnya.

Hingga saat ini banyak masyarakat yang menilai jika batik memiliki motif seperti lawang sewu, greja blenduk, tugu muda merupakan Batik Semarangan. Namun, Eko menilai Batik Semarangan tak hanya.dilihat dari motifnya.

"Pada 2008 - 2009, Batik Semarangan mempunyai definisi batik yang dibuat di Semarangan, oleh warga Semarang dengan pemberdayaan masyarakat di Semarang. Contohnya saja, Batik Tugu Muda. motifnya memang Semarangan, tapi pembuatannya di Pekalongan, sama saja misalnya saya buat batik gambar patung Liberty, apa itu kemudian disebut batik Amerika? tidak kan?" ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batik, semarang

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top