Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Boris Johnson dan Donald Trump, Kemiripan dari Gaya Rambut Sampai Berkuasa

Mungkin cuma kebetulan, mungkin juga sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Dua negara besar dunia, Inggris dan Amerika Serikat, dipimpin oleh dua tokoh berbeda yang dipikir-pikir sangat mirip.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  17:29 WIB
Boris Johnson - REUTERS/Toby Melville
Boris Johnson - REUTERS/Toby Melville

Bisnis.com, JAKARTA – Mungkin cuma kebetulan, mungkin juga sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Dua negara besar dunia, Inggris dan Amerika Serikat, dipimpin oleh dua tokoh berbeda yang dipikir-pikir sangat mirip.

Pada Selasa (23/7/2019), mantan Wali Kota London Boris Johnson akhirnya memenangkan kursi menjadi perdana menteri baru Inggris.

Johnson terpilih sebagai Ketua Partai Konservatif dan otomatis menjadi wajah baru Perdana Menteri Negeri Ratu Elizabeth, menggantikan Theresa May yang serta merta terlempar dari kediaman resminya di Downing Street pada Rabu (24/7/2019).

Johnson, seorang tokoh vokal Brexit, memenangkan suara dari 92.153 anggota partai Konservatif, dibandingkan dengan total suara sebesar 46.656 untuk pesaingnya, Menteri Luar Negeri Jeremy Hunt.

Trump-nya Inggris

Seperti halnya Trump, Johnson adalah seorang populis yang menghadapi banyak isu penting, macam imigrasi, dalam beberapa tahun terakhir. Johnson 'populer' dengan skandal hubungan pribadinya. Kebetulan, Trump juga (pernah) tersandung masalah serupa.

Publik sudah lama melihat kemiripan antara kedua tokoh ini, mulai dari tampilan fisik, gaya rambut, hingga perkataan yang disampaikan. Oleh banyak pihak, Johnson sampai-sampai disebut 'Trump-nya Inggris'.

Tentu saja ada banyak pendapat lain. Berbeda dengan Trump yang berlatar belakang pebisnis, misalnya, kemampuan Johnson di bidang pemerintahan Inggris sebelum menjadi perdana menteri sudah teruji.

Pria kelahiran 19 Juni 1964 ini adalah mantan Wali Kota London dari 2008 hingga 2016 dan pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Inggris periode 2016-2018.

Kesan kemiripan pertama Johnson dan Trump terlihat pada gaya rambut mereka, meskipun tak benar-benar serupa. Trump diketahui menata rambutnya dengan sangat hati-hati sebelum tampil di depan umum, sedangkan Johnson memilih tatanan rambut yang terlihat lebih 'alami'.

“Kandidat terkuat untuk menjadi perdana menteri Inggris berikutnya adalah seorang pria kulit putih gemuk dengan rambut pirang acak-acakan,” tulis New York Times dalam editorialnya bulan lalu.

Di luar soal penampilan, baik Trump maupun Johnson (kebetulan) lahir di New York City dan menjalani pendidikan prestisius di universitas ternama negeri masing-masing.

Meski lahir di New York City, Amerika Serikat, Johnson malang-melintang menempuh pendidikan di Eropa. Karier sebelum menjelajahi pemerintahan Inggris justru dimulai sebagai reporter The Times dan beberapa surat kabar top lain.

Trending Twitter

Trump sendiri tampaknya tak masalah dibanding-bandingkan dengan Johnson. Ungkapan 'Britain Trump' menclok di jajaran atas istilah trending Twitter di Inggris pada Selasa (23/7/2019) setelah Trump menyebut namanya dalam sebuah pidato.

Trump menyambut kemenangan Johnson dalam persaingan memperebutkan pucuk pimpinan Partai Konservatif dan kursi perdana menteri Inggris.

Dalam pidatonya di depan kelompok pemuda konservatif Turning Point AS, Trump membandingkan dirinya dengan Johnson, yang ia sebut sebagai "orang baik".

“Kita memiliki pria yang sangat baik yang akan menjadi perdana menteri Inggris sekarang, Boris Johnson. Pria yang baik. Dia tangguh, dan dia pintar,” puji Trump pada Selasa, seperti dikutip dari The Hill.

“Mereka [warga Inggris] bilang 'Britain Trump'. Mereka menyebutnya Britain Trump, dan orang-orang mengatakan itu hal yang baik. Orang-orang di sana menyukai saya. Itulah yang mereka inginkan. Itu yang mereka butuhkan,” tambah Trump.

Pekan lalu, Trump memperkirakan Johnson akan "melakukan pekerjaannya dengan baik" dan bahwa keduanya akan dapat bekerja sama.

“Dia tipe pria yang berbeda, tetapi mereka bilang saya tipe pria yang berbeda juga,” ungkap Trump, seperti dilansir dari National Public Radio.

Tindak Imigran

Keterlibatan Trump dan Johnson dalam kepemimpinan di negara masing-masing menunjukkan banyak hal tentang kekuatan politik di Barat dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2016, sebagian pemilik hak suara di kedua negara frustrasi dengan situasi politik, merasa dirugikan dampak negatif dari globalisasi, dan khawatir bahwa orang-orang asing akan mengubah komunitas mereka.

Bak pahlawan penyelamat, Johnson dan Trump muncul ke permukaan dan merespons keadaan itu. Trump terkenal berjanji untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan Meksiko demi mencegah imigran ilegal yang disebutnya beritikad buruk.

Di Inggris, Johnson membantu memimpin kampanye Inggris untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit). Mantan reporter The Telegraph ini bersumpah akan mengambil kembali kendali perbatasan-perbatasan Inggris dari penetrasi asing dengan meninggalkan Uni Eropa.

Seperti Trump pula, Johnson gelisah dengan perubahan wajah tanah airnya. Ia menggunakan bahasa yang selaras dengan sebagian besar basis kulit putihnya tetapi membuat marah kaum minoritas dan kaum liberal kota.

Dalam sebuah kolom di The Daily Telegraph, misalnya, Johnson menuliskan pada 2017 bahwa wanita dalam burqa (pakaian muslim yang menutupi hampir seluruh tubuh) terlihat seperti kotak surat atau perampok bank.

Paul Whiteley, seorang profesor bidang pemerintahan di University of Essex, mengatakan pesan Johnson terdengar jelas. “'Pihak lain', dalam arti sangat luas, adalah ancaman," kata Whiteley.

Pesan itu dapat beresonansi di beberapa bagian Inggris karena imigrasi dari Eropa Timur telah mempengaruhi layanan publik, menciptakan antrean panjang untuk perawatan kesehatan, dan membuat sesak kelas-kelas sekolah dengan siswa yang tidak dapat berbahasa Inggris.

“Ada kekhawatiran di masyarakat bependapatan rendah bahwa pekerjaan yang mereka miliki akan diambil oleh imigran, selain perubahan budaya menjadi sesuatu yang tidak dapat dikenali dan asing,” terang Whiteley.

Nostalgia Masa Lalu

Baik Johnson maupun Trump telah berjanji untuk mengembalikan negara mereka ke keadaan yang lebih baik. Trump mengingatkan keadaan AS di masa-masa lampau ketika Detroit merajai industri otomotif dan orang-orang mengatakan "Selamat Natal" selama liburan.

Di Inggris, banyak pendukung Brexit mengenang masa-masa lalu yang indah di era Perang Dunia II, ketika Inggris melawan Nazi, atau pada zaman Kerajaan Inggris.

Johnson pun menggambarkan Brexit sebagai peluang bagi Inggris untuk menempa masa depan yang mandiri, yang tidak terbelenggu dari Uni Eropa.

Brian Klaas, asisten profesor bidang politik global di University College London, mengatakan baik Johnson maupun Trump telah memanfaatkan nostalgia untuk saat-saat ketika negara masing-masing lebih putih dan lebih homogen.

Untuk Inggris, Klaas mengatakan ada lapisan nostalgia tambahan pada masa ketika Inggris adalah kekuatan global dan mengatasi segala tekanan.

“Gagasan bahwa Inggris akan mandiri dan kuat sekali lagi adalah ide yang sangat, sangat kuat,” kata Klaas, yang menuliskan The Despot's Apprentice: Donald Trump's Attack on Democracy.

Seiring dengan upaya mentransformasi negara mereka, Trump dan Johnson juga menargetkan apa yang mereka gambarkan sebagai musuh-musuh perubahan.

Trump berjanji untuk "mengeringkan rawa-rawa", yang mengacu pada kelas politik legislator dan pelobi di Washington. Demikian pula Johnson yang menargetkan kaum Eurokrat di Brussel.

Johnson menggambarkan Uni Eropa sebagai upaya perdamaian dengan maksud baik melalui integrasi ekonomi yang kini mengancam untuk menjadi negara super.

"Bukan kita yang telah berubah, Uni Eropa-lah yang berubah dari semua pengakuannya,” ucap Johnson ketika meluncurkan kampanye Brexit pada 2016.

Kekuatan Populis

Robin Niblett, Direktur lembaga think thank Chatham House, mengatakan bahwa baik Trump maupun Johnson menggunakan reaksi populer terhadap globalisasi yang sedang terjadi di negara masing-masing.

Banyak industri kehilangan lapangan pekerjaan karena negara-negara dengan upah lebih rendah di luar negeri, melubangi komunitas di Midwest Amerika dan juga di utara Inggris dan Wales. Daerah-daerah ini diketahui menjadi lumbung suara untuk Trump ataupun Brexit pada 2016.

Krisis keuangan global 2008 juga memberi dampak besar. Meski ekonomi AS secara umum telah pulih, banyak warga Amerika yang tidak merasakannya. Di Inggris, sebagian komunitas masyarakatnya terdampak langkah pemangkasan yang melemahkan dalam layanan dan program pemerintah.

“Membutuhkan waktu 20 tahun bagi krisis kekecewaan dan ketidakpuasan ini muncul ke permukaan. Butuh 20 tahun juga untuk keluar darinya,” papar Niblett.

Berapa lama Trump dan Johnson akan dapat memimpin negara mereka menjadi pertanyaan lain. Trump sudah mengincar masa jabatan keduanya dengan menapaki tahap menuju pilpres 2020 saat ekonomi AS masih kuat dan ia menghadapi elite politik yang terbagi.

Sementara itu, Johnson bersumpah akan menggolkan Brexit pada Oktober tahun ini. Sudah pasti banyak tantangan yang bakal dihadapinya.

Kemenangan Johnson menggiring babak baru sengketa Brexit dan tantangan konstitusional di dalam negeri, di mana para anggota parlemen Inggris telah bersumpah untuk menggagalkan pemerintah yang berusaha meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan (no-deal Brexit).

Tapi bagaimanapun nasib politik kedua pemimpin ini, kekuatan populis yang mendorong Johnson dan Trump berkuasa mungkin akan terus bertahan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Donald Trump Boris Johnson
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top