Trump: Empat Wanita Anggota Kongres Harus Minta Maaf pada Amerika dan Israel

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali 'menyerang' empat wanita anggota kongres asal Partai Demokrat yang telah mengkritik kebijakannya.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 22 Juli 2019  |  11:29 WIB
Trump: Empat Wanita Anggota Kongres Harus Minta Maaf pada Amerika dan Israel
Presiden AS Donald Trump menghadiri pertemuan dengan sejumlah perwakilan media sosial di Gedung Putih, Washington DC, AS, Kamis (11/7/2019). - Reuters/Carlos Barria

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali 'menyerang' empat wanita anggota kongres asal Partai Demokrat yang telah mengkritik kebijakannya.

Melalui akun Twitter miliknya, Trump menyerukan agar anggota kongres Alexandria Ocasio-Cortez dari New York, Ilhan Omar dari Minnesota, Rashida Tlaib dari Michigan, dan Ayanna Pressley dari Massachusetts, untuk meminta maaf kepada Amerika Serikat.

“Saya tidak percaya keempat wanita Kongres itu mampu mencintai Negara kita. Mereka harus meminta maaf kepada Amerika (dan Israel) untuk hal-hal mengerikan (penuh kebencian) yang telah mereka katakan,” tekan Trump dalam tulisannya di Twitter pada Minggu (21/7/2019).

Keempat wanita tersebut telah bersikap sangat kritis terhadap Trump bahkan kepemimpinan di partai mereka sendiri, Demokrat. Dua di antara mereka, Tlaib dan Omar, merupakan pengkritik keras pemerintah Israel.

Namun Trump memicu kontroversi ketika dalam cuitannya di Twitter pada Minggu (14/7/2019), Presiden ke-45 AS ini mengatakan bahwa keempat anggota parlemen, yang semuanya wanita kulit berwarna, itu harus "kembali" ke tempat mereka berasal jika mereka tidak senang tinggal di Amerika Serikat.

“Ini adalah orang-orang yang membenci negara kita. Jika kalian tidak bahagia di sini, silakan pergi," ujar Trump.

Meski tidak menyebut nama, namun pernyataan Trump jelas merujuk pada Ocasio-Cortez yang berasal dari Puerto Rico, Omar yang berasal dari Somalia, Tlaib wanita Palestina-Amerika pertama yang terpilih untuk Kongres, dan Pressley yang adalah keturunan Afrika-Amerika.

Komentar bernada rasis Trump seketika memicu kemarahan dari kalangan Partai Demokrat dan sebagian politisi Partai Republik.

Ketua DPR Nancy Pelosi menyebut komentar Trump sebagai bentuk ketidaksukaan atau ketakuan terhadap orang yang berasal dari negara lain atau xenophobia.

Pekan lalu, Dewan Perwakilan Rakyat yang dipimpin Demokrat mengeluarkan resolusi pekan lalu. Resolusi ini menyatakan bahwa DPR sangat mengutuk komentar rasis Presiden Donald Trump.

Namun Trump mengulangi kritik pedasnya terhadap Omar saat berpidato di North Carolina pada Rabu malam (17/7). Pernyataan Trump disambut teriakan “Send her back” oleh para pendukungnya.

Setelah beberapa anggota Republik mengutarakan kecaman, Trump berkata pada hari berikutnya ia tidak setuju dengan seruan itu. Bagaimanapun, pada Jumat (19/7) ia membela para pendukungnya di North Carolina sebagai "patriot yang luar biasa".

Perwakilan AS Elijah Cummings, ketua Demokrat dari Komite Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat, mengecam komentar terbaru Trump dan mengatakan bahwa ia "tidak ragu" Trump adalah seorang rasis.

“Mereka adalah orang-orang dan wanita yang mencintai negara mereka. Mereka bekerja sangat keras dan ingin menggerakkan kami ke arah persatuan yang lebih sempurna yang dimaksudkan oleh para pendiri kami,” bela Cummings, seorang keturunan Afrika-Amerika, kepada ABC This Week.

“Jadi, ketika Anda tidak sependapat dengan presiden, Anda bisa dicap orang jahat. Kesetiaan kami bukan untuk presiden. Kesetiaan kami adalah Konstitusi Amerika Serikat dan rakyat Amerika,” tegasnya, seperti dikutip dari Reuters.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Donald Trump

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top