IMF : Proteksionisme Bukan Solusi Atasi Defisit Neraca Perdagangan

International Monetary Fund (IMF) menyatakan bahwa langkah perang dagang yang mengarah ke praktik proteksionisme bukan merupakan solusi untuk permasalahan defisit neraca transaksi perdagangan. 
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 22 Juli 2019  |  10:25 WIB
IMF : Proteksionisme Bukan Solusi Atasi Defisit Neraca Perdagangan
Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde. - REUTERS/Arnd Wiegmann

Bisnis, JAKARTA -- International Monetary Fund (IMF) menyatakan bahwa langkah perang dagang yang mengarah ke praktik proteksionisme bukan merupakan solusi untuk permasalahan defisit neraca transaksi perdagangan. 

Dalam laporan tahunan "External Sector Report" yang dirilis oleh IMF, lembaga tersebut menyimpulkan bahwa upaya untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan dengan menetapkan pajak impor justru telah merugikan ekonomi dunia tanpa memperbaiki masalah.

Menurut mereka, tindakan kebijakan dagang beberapa tahun terakhir telah membebani arus perdagangan, investasi hingga tren pertumbuhan global.

"Sejauh ini, [tarif] tidak memiliki dampak yang signifikan pada ketidakseimbangan eksternal sejauh ini," tulis IMF yang dikutip Bisnis.com, Minggu (21/7/2019).

Menurut IMF, dengan latar belakang ketegangan dagang yang terus meningkat, diperlukan urgensi yang lebih besar untuk mengatasi ketidakseimbangan jangka panjang.

Lembaga tersebut menyatakan, negara-negara dengan defisit neraca dagang membutuhkan kolaborasi antara peningkatan keterampilan pekerja dan membangun pasar tenaga kerja yang fleksibel. Antara lain, Kanada, Indonesia, Afrika Selatan, Spanyol, Inggris, dan AS.

Sementara itu, bagi negara-negara surplus seperti Jerman dan Korea Selatan disarankan untuk menyediakan ruang kebijakan fiskal yang cukup untuk mendorong pertumbuhan potensial dan seimbang.

Salah satunya dengan mengadopsi reformasi yang mendorong investasi dan mencegah penghematan yang berlebihan, termasuk dengan mendukung inovasi dan menderegulasi sektor-sektor tertentu.

"Kebijakan yang mendistorsi perdagangan harus dihindari. Terlebih lagi negara harus menahan diri untuk tidak menggunakan tarif untuk menyeimbangkan perdagangan bilateral karena biayanya mahal serta tidak efektif dalam mengurangi ketidakseimbangan eksternal," ujar IMF.

Bahkan di beberapa ekonomi, di mana faktor eksternal masih sejalan dengan fundamental ekonomi, diperlukan langkah untuk mengatasi ketidakseimbangan domestik dan pencegahan ketidakseimbangan eksternal melalui reformasi struktural khusus.

Termasuk dengan mengurangi hambatan untuk investasi dan persaingan di sektor-sektor tertentu, kondisi yang kerap terjadi di Jepang dan China.

IMF tidak menganjurkan bahwa seluruh negara harus selalu memiliki perdagangan yang seimbang dan sempurna, di mana menurut mereka terkadang ada alasan yang baik di balik defisit dan surplus.

Meski demikian, penghitungan IMF mencoba untuk mengingatkan bahwa lebih dari sepertiga neraca dagang eksisting, atau sekitar 1,2% PDB dunia, dianggap berlebihan.

"Artinya, neraca perdagangan mereka melampaui potensi perkenomian untuk terus tumbuh pada laju yang sama," ungkap IMF.

China, yang satu dekade lalu mencatatkan surplus perdagangan terbesar di dunia, sekarang telah mendekati neraca yang seimbang dan sejalan dengan fundamental ekonomi.

Surplus dan defisit terbesar ditemukan di negara-negara seperti Jerman dan AS.

Temuan ini bertentangan dengan desakan pemerintahan Trump yang mengatakan bahwa China telah mendistorsi perdagangan global, sebuah klaim yang memicu perang dagang dan menjadi kekhawatiran utama pasar keuangan.

Kontes antara dua ekonomi terbesar dunia itu saat ini masih terus berlangsung dengan babak baru perundingan dagang pascapertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping, bulan lalu.

Meski demikian, risiko perang tarif masih melekat di pasar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top