Gunung Agung Erupsi, Tinggi Kolom Abu Tidak Teramati

Berdasar informasi dari Magma Indonesia yang disampaikan grup informasi BMKG, erupsi Gunung Agung, Bali, terjadi tanggal 24 Mei 2019, pukul 19:23 WITA.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 24 Mei 2019  |  19:27 WIB
Gunung Agung Erupsi, Tinggi Kolom Abu Tidak Teramati
Gunung Agung, Bali - ANTARA/Fikri Yusuf

Bisnis.com, JAKARTA - Petang ini, Jumat (24/5/2019) Gunung Agung di Bali tercatat mengalami erupsi.

Berdasar informasi dari Magma Indonesia yang disampaikan grup informasi BMKG, erupsi Gunung Agung, Bali, terjadi tanggal 24 Mei 2019, pukul 19:23 WITA.

"Namun tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 30 mm dan durasi ± 4 menit 30 detik," ujar BMKG berdasar data dari Pos Pengamatan Gunungapi Agung, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM.  

Meski tinggi kolom abu tidak teramati, suara gemuruh dengan kekuatan sedang terdengar di Pos Pengamatan.

Saat ini Gunung Agung berada pada Status Level III (Siaga).

Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan direkomendasikan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apa pun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak Gunung  Agung.

Adapun zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi serta dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung  Agung yang paling aktual/terbaru.

Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung direkomendasikan agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

Adapun Magma Indonesia adalah aplikasi yang menyajikan informasi dan rekomendasi secara quasi real-time mengenai kebencanaan geologi di Indonesia.

Informasi dimaksud termasuk di antaranya Gunungapi, Gerakan Tanah, Gempa Bumi, dan Tsunami.

Aplikasi Magma Indonesia dikembangkan secara mandiri oleh Tim Developer PNS di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM.

MAGMA Indonesia dibangun untuk melayani masyarakat Indonesia juga masyarakat internasional. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gunung agung

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top