Pemilu Afrika Selatan Berakhir, Partai ANC Diperkirakan Menang

Pemilu kali ini merupakan yang paling ketat dalam sejarah Afrika Selatan, dengan rekor peserta 48 partai. Jumlah itu hampir dua kali lipat parpol yang ikut serta dalam Pemilu 1994.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 09 Mei 2019  |  08:17 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Pemungutan suara di Afrika Selatan berakhir kemarin, 25 tahun setelah transisi negara itu dari apartheid ke era demokrasi.

Pejabat Komisi Pemilihan Independen (IEC) mengatakan hasil penghitugan sementara akan diumumkan sore nanti waktu setempat. Sementara itu, hasil akhir akan diumumkan pada Sabtu dan presiden baru Afrika Selatan akan dilantik pada 25 Mei.

Pemilu kali ini merupakan yang paling ketat dalam sejarah Afrika Selatan, dengan rekor peserta 48 partai. Jumlah itu hampir dua kali lipat parpol yang ikut serta dalam Pemilu 1994.

Jajak pendapat pra-pemungutan suara memperkirakan bahwa ANC akan menang antara 55% hingga 62% suara, sedangkan Aliansi Demokratik sentris (DA) diperkirakan mendapatkan sekitar 20% suara dan Partai Pejuang Kemerdekaan Ekonomi (EFF) di antara 10% hingga 14%.

Para pemimpin dari ketiga partai politik utama memberikan suara mereka kemarin pagi. Pemimpin ANC, Cyril Ramaphosa dan Ketua DA Mmusi Maimane mengunjungi tempat pemungutan suara di kota Johannesburg.

“Ini suara yang mengingatkan kita pada tahun 1994,” kata Ramaphosa kepada media di tempat pemungutan suara sebagaimana dikutip Aljazeera.com, Kamis (9/5/2019).

Dia mengatakan pihaknya sangat bersemangat untuk pemilu ini karena akan memberi harapan baru bagi masa depan negaranya.

“Dengan latar belakang krisis ekonomi, kejahatan yang meningkat, pemberian layanan yang buruk, pengangguran yang meluas dan korupsi yang merajalela, ANC yang berkuasa berharap untuk bangkit kembali dari kinerja yang buruk yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam pemilihan lokal 2016, ketika menyerahkan kontrol kota-kota utama ke DA,” ujarnya.

Menjelang pemungutan suara terjadi protes luas soal layanan publik di seluruh Afrika Selatan. Kondisi itu merupakan tantangan bagi Ramaphosa. Dia juga harus mengatasi faksionalisme yang mendalam di dalam partainya sendiri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
afrika selatan

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top