Lidah Trump Lebih Tajam dari Pedang, Ini Buktinya

Pasar ekuitas di seluruh dunia serentak diguncangkan cuitan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancam akan menaikkan tarif terhadap barang-barang China pekan ini. Berapa total kerugian yang diderita saham global akibat ulah Trump?
Renat Sofie Andriani | 08 Mei 2019 16:10 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump - REUTERS/Jorge Silva

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar ekuitas di seluruh dunia serentak diguncangkan cuitan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancam akan menaikkan tarif terhadap barang-barang China pekan ini.

Lantas berapa total kerugian yang diderita saham global akibat ulah Trump tersebut?

Tajamnya lidah manusia melebihi pedang yang paling tajam sekalipun, begitu kata orang-orang bijak. Hanya dengan dua cuitan berjumlah total 102 kata, Trump buktinya mampu menghapus nilai pasar saham global sebesar sekitar US$1,36 triliun (Rp19.451 triliun, kurs Rp14.300 per dolar AS) sepanjang pekan ini. 

Tidak hanya memicu kerugian, cuitan Trump pada Minggu (5/5/2019) mendorong kembalinya lonjakan volatilitas. Indeks Cboe Volatility, barometer volatilitas pasar, naik 50 persen dalam dua hari dan menembus level 20 untuk pertama kalinya sejak Januari.

Risiko seputar hubungan perdagangan AS-China, yang tidak ada dalam radar investor hingga akhir pekan lalu, membanjir kembali.

Dalam beberapa pekan sebelumnya, pasar telah terbuai tumbuhnya optimisme dari diskusi perdagangan yang berjalan dengan baik, sikap dovish bank-bank sentral, dan laporan keuangan perusahaan AS yang lebih baik dari perkiraan.

“Pergeseran terkini menambah dimensi baru ketidakpastian terhadap apa yang diasumsikan sebagian besar pelaku pasar atas kesepakatan yang dilakukan,” jelas Eleanor Creagh, pakar strategi pasar di Saxo Capital Markets, seperti dikutip Bloomberg.

Kerry Craig, pakar strategi pasar global di JPMorgan Asset Management, masih meyakini dapat tercapainya kesepakatan perdagangan antara AS dan China, meskipun bisa memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan.

“Penurunan di pasar disebabkan atas seberapa kerasnya rally yang telah dialami ekuitas global dan investor mungkin telah mencari alasan untuk mengambil untung,” ujarnya berpendapat.

Mengingat kemerosotan yang dialami pasar saham, jelas sebagian investor telah melakukan reposisi.

“Saya rasa investor meringankan portofolio mereka sebagai tindakan pencegahan,” tutur Jeffrey Halley, analis pasar senior di Oanda Asia Pacific.

Halley melihat "jalan tengah" untuk pasar dengan sentimen yang mendasari bahwa kesepakatan akan dilakukan. Sementara itu, semangat aktivitas perdagangan dapat mengangkat ekspektasi pertumbuhan dan pendapatan.

“Saya tidak akan meninggalkan pasar ekuitas,” lanjut Craig.

Menurut Alex Wong, Direktur Manajemen Aset di Ample Capital Ltd., bahkan jika tidak ada kesepakatan yang dapat tercapai, dampaknya tidak akan separah itu pada pasar.

Semuanya kini bergantung pada apa yang akan terjadi pada Kamis dan Jumat pekan ini ketika kedua negara kembali bertemu dan mengadakan putaran baru perundingan di Washington.

“[Pertemuan] itu berpeluang menyebabkan pekan yang sangat emosional,” tambah Halley dari Oanda.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saham global, Donald Trump

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup