Berapa Banyak Kebohongan Trump selama Jadi Presiden AS?

Rasanya rata-rata penduduk dunia sudah hafal tabiat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang suka berlagak. Perihal Trump yang hobi membual sebenarnya bukan berita baru.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 30 April 2019  |  13:05 WIB
Berapa Banyak Kebohongan Trump selama Jadi Presiden AS?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump - REUTERS/Jorge Silva

Kabar24.com, JAKARTA – Rasanya rata-rata penduduk dunia sudah hafal tabiat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang suka berlagak. Perihal Trump yang hobi membual sebenarnya bukan berita baru.

Menurut perhitungan The Washington Post Fact Checker, Trump telah mengucapkan lebih dari 10.000 hal yang salah atau menyesatkan sepanjang periode 827 hari pertamanya menjabat sebagai Presiden AS. Fakta ini mungkin mengerikan, tetapi tidak terlalu mengejutkan.

Yang justru lebih mengejutkan ketimbang jumlah tersebut adalah semakin banyaknya kebohongan yang tampak ia kemukakan dalam setiap bulan yang ia habiskan di Gedung Putih.

“Presiden [Trump] membuat 171 klaim palsu atau menyesatkan hanya dalam tiga hari, yakni 25-27 April. Jumlah itu lebih banyak dari yang ia buat dalam satu bulan selama lima bulan pertama masa kepresidenannya,” papar Analis Fact Checker, seperti dilansir CNN.

Ini artinya, dalam tiga hari, Trump mengatakan atau menuliskan dalam media sosial sebanyak 171 ketidakbenaran. Jika dirata-rata berarti ada 57 ketidakbenaran yang dikemukakannya dalam sehari.

Lebih lanjut menurut perhitungan Fact Checker, jumlah kebohongan yang diucapkan Trump meningkat TIGA kali lebih besar selama tujuh bulan terakhir daripada yang ia buat dalam 600 hari masa kerja pertamanya sebagai Presiden.  

Ketika masa kepresidenannya bergulir, Trump malah semakin masuk ke dalam dunia ciptaannya sendiri, sebuah dunia tanpa fakta yang dapat diterima secara objektif.

Di tengah upaya Trump memperpanjang masa pemerintahannya sebagai Presiden AS dalam agenda pemilihan presiden (pilpres) 2020, pernyataan berlebihan, distorsi, dan kebohongannya justru tumbuh dan menjadi semakin lazim terdengar.

Jika diperlukan 827 hari untuk mengatakan 10.000 hal yang salah, mungkin Trump hanya membutuhkan separuh dari jumlah hari itu untuk melipatgandakan kebohongan yang dibuatnya menjadi 20.000.

Dihitung-hitung, saat itu bakal bertepatan dengan musim kampanye kepresidenannya nanti.

Penting untuk diingat bahwa Trump memenangkan pilpres 2016 bukan karena warga AS berpikir dia jujur dan dapat dipercaya. Menurut hasil polling, hanya 33 persen pemilih saat itu yang berpendapat ia jujur dan dapat dipercaya.

Masyarakat tidak berharap Trump akan mengatakan yang sebenarnya tentang segala hal. Banyak yang mungkin tidak suka memiliki Presiden yang terus-menerus membuat klaim palsu, tetapi bukan berarti mereka akan ‘mengusir’ Trump dari Gedung Putih karena alasan itu.

Yang mungkin harus lebih diingat adalah apa yang dilakukan Trump telah merendahkan nilai-nilai dalam budaya AS.

Jika tidak mengatakan kebenaran dalam pemerintahan dan pada isu-isu yang memiliki konsekuensi global, maka buat apa masyarakat harus memenuhi fakta dan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari?

Jika seorang Presiden Amerika Serikat saja bisa berbohong tanpa mendapat sanksi atau hukuman, lalu mengapa kita tidak bisa berbohong juga sesekali?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
presiden as, Donald Trump

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup