Alasan PAN Lebih Berpeluang Masuk Koalisi Jokowi Dibanding Demokrat

Petahana Joko Widodo diprediksi sanggup kembali mempertahankan posisinya sebagai Presiden RI versi mayoritas lembaga quick count. Wacana 'pindah haluan' partai politik yang sebelumnya mendukung kubu penantang pun kembali mencuat, yakni dari Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN).
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 29 April 2019  |  16:27 WIB
Alasan PAN Lebih Berpeluang Masuk Koalisi Jokowi Dibanding Demokrat
Peneliti Politik LIPI Aisah Putri Budiarti - Bisnis/Aziz Rahardyan

Bisnis.com, JAKARTA — Petahana Joko Widodo diprediksi sanggup kembali mempertahankan posisinya sebagai Presiden RI versi mayoritas lembaga quick count.

Wacana 'pindah haluan' partai politik yang sebelumnya mendukung kubu penantang pun kembali mencuat, yakni dari Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Alasannya, Demokrat sejak awal dianggap setengah hati mendukung Prabowo-Sandi. Sedangkan, PAN beberapa waktu ini kembali memamerkan kedekatan selepas Ketua Umum-nya Zulkifli Hasan, bertolak ke istana menemui Jokowi dalam sebuah acara.

Peneliti Politik LIPI Aisah Putri Budiarti menilai PAN memiliki peluang lebih besar untuk berpindah haluan ke Koalisi Indonesia Kerja pendukung petahana, sebab pengalamannya mendukung pemerintahan di era pemerintahan Jokowi-JK.

Seperti diketahui, PAN pernah bergabung ke koalisi Jokowi-JK pada September 2015, walaupun keluar lagi pada Agustus 2018 sebab menyatakan dukungan pada kubu penantang Prabowo-Sandiaga.

Salah satu kader PAN Asman Abnur pun pernah dipercaya Jokowi sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dan mendapat pujian atas kinerja yang baik, sebelum akhirnya mengundurkan diri menjelang Pilpres 2019.

Sebab itulah, menurut wanita yang akrab disapa Puput ini, tak ada ruginya PAN kembali masuk koalisi pendukung pemerintah.

"Kan koalisi itu mengikat hanya 5 tahun dan pada 2024 peta politik berubah total. Jadi PAN bisa mencalonkan sendiri presiden selanjutnya, atau peta politik-nya akan berubah sama sekali," ujarnya dalam diskusi dikawasan Setia Budi, Jakarta Selatan, Senin (29/4/2019).

Sebaliknya, Demokrat seakan masih menyimpan beban konflik personal lama dengan parpol utama pengusung Jokowi, yaitu PDI Perjuangan. Yaitu antara kedua ketua umum yang sama-sama mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dengan Megawati Soekarnoputri.

"Kita semua tahu ada kondisi beban masa lalu antara Demokrat dan PDIP. Itu yang banyak orang sampaikan juga alasan kenapa kemudian Demokrat berat hati masuk ke koalisi 01 menjelang Pemilu, dan itu juga kenapa last minute sekali penentuan Demokrat masuk ke koalisi 02," jelasnya.

Kendati demikian, Puput menyebut baik PAN atau Demokrat sama-sama berindikasi merapat ke kubu pemenang Pilpres, demi memperbaiki cita parpol-nya masing-masing untuk menyongsong Pemilu 2024.

Sebab, berdasarkan quick count lembaga survei, kedua Parpol diprediksi kembali melenggang ke Senayan, sebab sanggup melewati ambang batas parliamentary threshold 4 persen. Walaupun, perolehan suara masing-masing terlihat menyusut daripada Pemilu sebelumnya.

PAN yang berhasil memperoleh suara 7,59 persen pada Pileg 2014, diprediksi kembali lolos Parlemen di kisaran 6,9 persen. Sedangkan Demokrat yang pada Pileg 2014 berhasil meraih 18,95 persen suara, kini harus puas dengan prediksi lolos di kisaran angka 8,3 persen suara nasional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
partai demokrat, partai amanat nasional, koalisi partai

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top