Imbal Hasil Obligasi di Asia Diprediksi Bisa Sentuh 10%, Ini Penopangnya

Lombard Odier Investment Managers memperkirakan return atau imbal hasil pasar obligasi berdenominasi dolar AS di Asia dapat melonjak hingga 10% pada tahun ini di tengah ekspektasi bahwa pelonggaran kebijakan di AS dan China akan meningkatkan risk appetite.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 18 Februari 2019  |  15:40 WIB
Imbal Hasil Obligasi di Asia Diprediksi Bisa Sentuh 10%, Ini Penopangnya
Imbal hasil obligasi berdenominasi dolar AS di Asia diprediksi naik hingga 10% pada tahun ini - ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Lombard Odier Investment Managers memperkirakan return atau imbal hasil pasar obligasi berdenominasi dolar AS di Asia dapat melonjak hingga 10% pada tahun ini di tengah ekspektasi bahwa pelonggaran kebijakan di AS dan China akan meningkatkan risk appetite.

Nilai kelas aset (asset class) di Asia tercatat tumbuh sebesar 2,4% sepanjang tahun ini, atau permulaan awal tahun yang terkuat sejak 2012. Hal itu ditopang oleh pembelian obligasi murah akibat aksi jual di penghujung tahun lalu.

Indeks BofAML ICE mencatat bahwa pasar Asia sempat merosot 0,6% pada 2018 yang merupakan kerugian pertama sejak 2013.

Dhiraj Bajaj, money manager pada sebuah bank swasta Swiss yang berbasis di Singapura, mengatakan bahwa sikap dovish The Fed dan kondisi ekonomi China yang melesu akan memberikan nilai tambah bagi investor.

"Menurut kami investor dapat menghasilkan 5% - 10% di pasar obligasi Asia," ujar Bajaj pada Senin (18/2/2019), seperti dikutip oleh Bloomberg.

Menurut indeks BofAML ICE, return tertinggi yang disebutkan pada kisaran 10% merupakan imbal hasil terkuat sejak 2012.

Bajaj menambahkan, peningkatan tahun ini memiliki potensi untuk menggerakkan pasar Asia di tengah di tengah permintaan terpendam dari aliran dana dan pasokan obligasi baru.

Value Fund milik Bajaj senilai US$1,18 miliar mencatatkan return sebesar 5,1% sejak awal tahun ini hingga 13 Februari 2019. 

Sepanjang 2019, dia juga telah menambahkan pembelian obligasi yang diterbitkan perusahaan infrastruktur berbasis di Hong Kong, NWS Holdings Ltd. dan perusahaan energi asal Indonesia, Lestari Banten Energy.

Menurutnya, obligasi milik Lestari Banten Energy dijamin dengan arus kas dari sebuah perusahaan pembangkit listrik yang dimiliki secara bersama (co-owned) oleh konglomerat Malaysia Genting Bhd. dan raksasa energi China, SDIC Power.

"Obligasi mereka menawarkan return menarik hampir 7% untuk bisnis utilitas yang memiliki sifat saham defensif," kata Bajaj.

Dia juga mengatakan, risiko terbesar dari reli tahun ini adalah sikap gegabah investor yang mengejar return tinggi dengan membiarkan peminjam berkualitas rendah masuk ke dalam arena pasar obligasi atau membiarkan mereka memberikan nilai obligasi di bawah nilai wajar.

Menurut Bajaj, reli ini turut didorong oleh faktor pelaksanaan pemilu, di mana pasar juga mengetahui bahwa ada risiko yang terkait dengan kegiatan pemilu di India dan Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, EKONOMI ASIA

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top