Gara-gara Khashoggi, Barrack Kena Getahnya

Tom Barrack, investor yang namanya menjadi populer di Amerika Serikat (AS) karena dukungan yang vokal untuk Presiden Donald Trump, termakan omongannya sendiri.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 Februari 2019  |  10:01 WIB

Kabar24.com, JAKARTA – Tom Barrack, investor yang namanya menjadi populer di Amerika Serikat (AS) karena dukungan yang vokal untuk Presiden Donald Trump, termakan omongannya sendiri.

Pekan ini Barrack menuai kecaman sengit di Washington setelah menyatakan bahwa tindak penghakiman terhadap Arab Saudi atas kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi adalah suatu kesalahan.

Pria berkepala plontos yang kerap muncul di televisi melawan kritik terhadap pernyataan dan kebijakan Trump ini pun buru-buru meminta maaf atas ucapan yang dilontarkannya itu.

“Pembunuhan Khashoggi mengerikan dan tidak bisa dimaafkan,” ujar Barrack, kepala perusahaan investasi Colony Capital Inc., dalam sebuah pernyataan melalui sebuah surel pada Rabu (13/2/2019).

“Saya minta maaf karena tidak menjelaskan pada saat itu bahwa saya menganggap pembunuhan itu tercela,” tambahnya, sebagaimana dilansir Bloomberg.

Sebelumnya, dalam sebuah kesempatan di Timur Tengah, Barrack mengatakan kekejaman di Amerika sebanding bahkan lebih buruk dengan kekejaman yang terjadi di Arab Saudi.

“Kekejaman di negara otokratis mana pun ditentukan oleh aturan hukum. Jadi bagi kami untuk mendikte apa yang kami pikir adalah aturan moral di sana, saya pikir itu adalah kesalahan” katanya dalam pertemuan Milken Institute di Abu Dhabi pada Selasa (12/2).

Komentar Barrack sontak menyulut kritik dari sejumlah komentator politik, selebriti, dan anggota kongres baik dari kubu Republik maupun Demokrat. Senator dari Partai Republik James Lankford mengatakan kepada CNN bahwa pembunuhan seorang jurnalis adalah sesuatu yang tidak pernah dapat dibenarkan.

“Itu juga tidak sama dengan apa pun yang terjadi di Amerika Serikat di mana kita mendukung kebebasan pers,” tegas Lankford.

Perwakilan Partai Demokrat dari California, Ted Liu, dalam akun Twitter sampai-sampai bertanya mengapa Trump memilih dikelilingi orang-orang seperti Tom Barrack yang justru merendahkan AS.

Komentar Barrack sebenarnya menggemakan apa yang pernah dikatakan Trump sendiri tentang tidak memberikan penilaian. Trump telah berusaha menekankan pentingnya aliansi AS dengan Arab Saudi.

Trump juga meragukan apakah Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menjadi aktor utama di balik pembunuhan Khashoggi, seperti yang dipandang banyak pihak.

“Mungkin dia melakukannya, mungkin juga dia tidak melakukannya,” kata Trump dalam sebuah pernyataan pada November 2018.

Pernyataan Barrack juga mengingatkan pandangan Trump mengenai pemerintahan negara lain. Trump menyampaikan respons senada dengan Barrack ketika komentator TV Bill O'Reilly menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai "seorang pembunuh" dalam sebuah wawancara pada 2017

“Ada banyak pembunuh. Anda pikir negara kita tidak melakukan banyak kejahatan?” jawab Trump.

Trump diketahui mendasarkan strategi Timur Tengahnya di sekitar aliansi dengan kerajaan Saudi. Setelah menjabat sebagai Presiden AS pada 2017, Trump menjadikan Arab Saudi kunjungan pertamanya ke luar negeri.

Namun pembunuhan Khashoggi, warga AS kelahiran Saudi yang juga berperan sebagai kolumnis The Washington Post, memicu krisis hubungan AS-Saudi tahun lalu.

Kasus ini menyulut kemarahan dunia internasional dan di AS sendiri. Bahkan tokoh terkemuka Republik seperti Senator Lindsey Graham mengkritik Trump dan mendesak pemberian sanksi untuk Arab Saudi.

Trump dan penasihat seniornya memang menginginkan pertanggungjawaban atas kejahatan tersebut, tetapi mereka tidak ingin mengambil risiko hubungan yang dinilai penting dengan kerajaan.

Seperti diketahui, Jamal Khashoggi dinyatakan dibunuh oleh sekelompok agen Arab Saudi setelah memasuki kantor konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober.

Pembunuhan Khashoggi, yang terkenal kerap melancarkan kritik terhadap pemerintahan Saudi di masa hidupnya, menyeret nama Mohammed bin Salman.

Sang Putra Mahkota diduga menjadi aktor utama di balik rencana pembunuhan Khashoggi, meskipun pihak Kerajaan Saudi berulang kali membantah keterlibatan Sang Pangeran. Banyak pembantu dan staf keamanan terdekat Sang Pangeran diketahui terlibat dalam pembunuhan itu.

Sejumlah laporan yang disampaikan berisikan penilaian bahwa komando eksekusi pembunuhan diberikan oleh Sang Pangeran namun belum juga ada tindakan tegas terhadapnya. Sementara itu, jasad Khashoggi belum dipastikan keberadaannya hingga detik ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Donald Trump, Jamal Khashoggi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top