Pemilu 2019: Simalakama BTP bagi PDIP

Sejak keluar dari penjara, nama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bertengger di lini masa teratas atas trending topic media sosial. Meski sudah tak menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, daya tarik tokoh yang dikenal suka bicara blak-blakan itu masih menarik diikuti.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 31 Januari 2019  |  17:28 WIB
Pemilu 2019: Simalakama BTP bagi PDIP
Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok - BTPVlog#1/pulang

Kabar24.com, JAKARTA — Sejak keluar dari penjara, nama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bertengger di lini masa teratas atas trending topic media sosial. Meski sudah tak menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, daya tarik tokoh yang dikenal suka bicara blak-blakan itu masih menarik diikuti.

Bukan hanya kelompok pemuja yang selama ini menanggap BTP—begitu Basuki Tjahaja Purnama menyebut namanya sekarang— sebagai tokoh perubahan dan transparan, tapi ada pula kelompok yang selama ini bertolak belakang atau membenci dirinya. 

Kabar yang banyak menyita publik soal sepak terjang BTP sejak keluar dari penjara adalah kisah kasih yang dibinanya dengan Puput Nastiti Devi. Di luar itu, tak sedikit yang menunggu arah politik BTP setelah menjadi ‘orang bebas’.

Apalagi, BTP bebas dari bui hanya berselang kurang dari 3 bulan sebelum perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Setelah berhari-hari bungkam, BTP akhirnya buka suara. Hal itu diungkapkan kala dia mengunjungi markas pemenangan PDI Perjuangan di kawasan Meruya, Jakarta Barat.

Ahok datang dengan mengenakan kaos berwarna merah bertuliskan nama salah satu caleg dari partai banteng, Ima Mahdiah. 

Meski belum resmi bergabung, Ahok secara terang-terangan mengungkapkan dukungannya untuk PDI Perjuangan. Dia mengatakan PDIP setidaknya harus mengulang kejayaan pada saat tumbangnya Orde Baru pada Pemilu 1999.

"PDI Perjuangan harus menang telak. 1999 itu PDIP masa kejayaannya bisa dapat kursi 33%. Kalau cuma 20% capek, kasihan Bu Mega [Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri]," katanya hadapan kader PDIP di kawasan  Meruya, Jakarta Utara, Rabu (30/1/2019).

Menurut Ahok, harus ada satu partai nasionalis yang memimpin pemerintahan atau setidaknya menjadi partai penguasa koalisi besar di pemerintahan. Jika memungkinkan, PDIP harus memperoleh sepertiga dari total kursi di DPRD dan DPR RI. 

Karena itu, dia menyemangati kader-kader PDIP untuk memenangkan caleg di daerahnya masing-masing. Dalam kesempatan itu, Ahok mendukung atau "endorse" dua caleg PDIP yaitu Ima Mahdiah dan Charles Honoris. 

Ima merupakan caleg nomor 4 DPRD DKI Jakarta untuk Dapil 10 sekaligus staf BTP selama memimpin DKI Jakarta. Sementara itu, Charles Honoris caleg nomor urut ke-2 DPR-RI untuk Dapil DKI Jakarta 3. Dia merupakan Bendahara dalam Tim Pemenangan pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat pada Pemilihan Gubernur DKI 2017.

Meski secara terang-terangan dukung PDIP, dia masih enggan menanggapi kabar bahwa dirinya yang bakal merapat ke parpol tersebut. 

"Saya memang memiliki kedekatan sejak lama dengan PDIP. Hampir 21 bulan saya ditahan [penjara] sekarang saya mau jalan-jalan," ujarnya sambil tertawa. 

Walapun secara gamblang mendukung PDIP, dia sama sekali tak menyinggung soal Pemilihan Presiden. Tak ada ucapan yang menunjukkan bahwa dirinya ingin memenangkan pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin. 

Bukan itu saja, Ahok juga terkesan kikuk dan enggan membuka mulut ketika "ditodong" microphone oleh awak media..  "Ah, ngomong apa lagi? Kan di dalam sudah banyak ngomong tadi," ucapnya singkat. 

Sikap hati-hati BTP bukan tanpa alasan. Stigma mantan narapidana kasus penistaan agama masih melekat di identitas mantan rekan kerja Jokowi saat menjabat di Balai Kota periode 2012-2014 tersebut. Apalagi, saat itu Ma'ruf Amin menjadi pihak yang memberatkan Ahok sehingga dia harus divonis 2 tahun penjara. 

Meski demikian, suara mengambang (swing voters) dari pendukung Ahok masih cukup besar. Untuk ukuran DKI Jakarta, signifikansi suara itu mengacu pada perolehan pasangan Ahok-Djarot Saifuk Hidayat sebanyak 42%. 

Tak heran, banyak pihak mengibaratkan sikap Ahok terkait pemilu 2019 bak peribahasa memakan buah simalakama. Jika dia mengungkapkan dukungan ke PDIP atau Jokowi pasti menimbulkan situasi yang serba salah atau pro-kontra di masyarakat. 

Untuk menghindari polemik, dia bahkan berencana untuk "kabur sejenak" dari hiruk-pikuk kontestasi Pilpres 2019 dengan melancong ke luar negeri. Dia mengatakan kegiatannya untuk ke luar negeri awalnya sebatas untuk berlibur dengan keluarga. Ahok mengaku selama menjadi Bupati atau Gubernur tidak pernah luar negeri untuk liburan. 

"Saya kan ditahan 20 setengah bulan. Saya kira saya manusia biasa pengen juga 2,5 bulan jalan-jalan ke luar negeri. [Coblos Pilpres 2019] mungkin di luar negeri, enggak tau di Jepang atau dimana. Jangan ngomong dulu," imbuhnya. 

Lantas, bagaimana sikap politik Ahok ke depan? Apakah dia benar-benar memakai baju PDIP? 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ahok, basuki tjahaja purnama

Editor : Stefanus Arief Setiaji
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top