Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS Perbarui Anjuran Perjalanan ke China

Dilansir Reuters, anjuran perjalanan yang diperbarui ini mempertahankan peringatan di "Level 2" namun memperingatkan tentang pemeriksaan keamanan tambahan dan peningkatan kehadiran polisi di Daerah Otonomi Xinjiang Uighur dan Otonomi Tibet.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 04 Januari 2019  |  15:52 WIB
Bendera China dikibarkan di lapangan Tiananmen untuk menyambut the Belt and Road Forum atau KTT Jalur Sutra, di Beijing, China, Sabtu (13/5). - Reuters
Bendera China dikibarkan di lapangan Tiananmen untuk menyambut the Belt and Road Forum atau KTT Jalur Sutra, di Beijing, China, Sabtu (13/5). - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -  Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Kamis (3/1/2019) mengeluarkan pembaruan anjuran perjalanan bagi warga AS yang bepergian di China agar meningkatkan kewaspadaan.

Dilansir Reuters, anjuran perjalanan (travel advisory) yang diperbarui ini mempertahankan peringatan di "Level 2" namun memperingatkan tentang pemeriksaan keamanan tambahan dan peningkatan kehadiran polisi di Daerah Otonomi Xinjiang Uighur dan Otonomi Tibet.

Anjuran tersebut dikeluarkan menyusul penahanan otoritas China terhadap warga Kanada Michael Kovrig, seorang mantan diplomat dan penasihat lembaga think-tank International Crisis Group (ICG), serta pengusaha Michael Spavor. China mengatakan kedua pria itu dicurigai membahayakan keamanan negara.

Ketegangan dengan China meningkat setelah polisi Kanada menangkap  chief financial officer Huawei Technologies Co Ltd, Meng Wanzhou, pada 1 Desember di Vancouver atas permintaan AS.

Wanzhou menghadapi tuntutan setelah diduga memberikan keterangan palsu kepada bank-bank multinasional mengenai transaksi yang terkait dengan Iran, sehingga membuat bank-bank tersebut berisiko melanggar sanksi AS.

Sebelumnya pada Kamis, jaksa penuntut utama China mengatakan kedua warga Kanada tersebut telah jelas-jelas melanggar hukum.

Dalam anjuran perjalanan sebelumnya untuk China yang dikeluarkan pada 22 Januari tahun lalu, Departemen Luar Negeri mendesak warga AS untuk meningkatkan kewaspadaan di negara itu karena penegakan hukum lokal yang sewenang-wenang dan pembatasan khusus terhadap orang dengan kewarganegaraan gansa AS dan China.

Anjuran perjalanan terakhir mengulangi peringatan tersebut, ditambah peringatan adanya langkah-langkah keamanan ekstra, seperti pemeriksaan keamanan dan peningkatan tingkat kehadiran polisi, umum terjadi di Daerah Otonomi Xinjiang Uighur dan Tibet. Pihak berwenang juga dapat memberlakukan jam malam dan pembatasan perjalanan dalam waktu singkat.

Anjuran tersebut juga memperingatkan tentang penggunaan “larangan keluar” China yang melarang warga negara AS meninggalkan negara itu, bahkan dapat menahannya di China selama bertahun-tahun.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang, mengatakan dalam sebuah jumpa pers reguler di Beijing bahwa China selalu menyambut orang asing, termasuk warga AS, tetapi mengharapkan mereka untuk menghormati dan mematuhi hukum di negaranya.

"Penerbitan anjuran perjalanan pihak AS ini terus terang tidak beralasan," kata Lu, seperti dikutip Reuters.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

travel advisory
Editor : Fajar Sidik
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top