Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Meskipun Tensi Berkurang, Sentimen Perang Dagang Tetap Bayangi Emerging Market

Berkurangnya tensi perang dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia, AS dan China, dinilai akan menjadi kelegaan bagi pergerakan pasar negara berkembang (emerging market).
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 01 Januari 2019  |  19:00 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Berkurangnya tensi perang dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia, AS dan China, dinilai akan menjadi kelegaan bagi pergerakan pasar negara berkembang (emerging market).

Emerging market pun diperkirakan dapat bangkit dari keterpurukan yang menimpa pada tahun lalu, kendati tak akan berlangsung lama.

Sebelumnya, gejolak yang terjadi pada 2018 telah menyebabkan nilai saham di emerging market merugi sekitar US$5 triliun, atau menghapus perolehan yang sempat didapat pada level tertingginya di bulan Januari 2018.

Selain perang dagang, beberapa sentimen yang datang dari kenaikan suku bunga AS, penguatan dolar AS, rendahnya harga minyak, dan munculnya para pemimpin populis di Amerika Latin juga tampil sebagai pemberat bagi emerging market.

“Teorinya sangatlah sederhana, yakni aset emerging market telah sangat jatuh, sudah di bawah. Jika situasi menjadi semakin buruk, posisinya akan lebih rendah dan jika situasi membaik, [aset-aset itu] berpotensi untuk rebound,” kata Anthony Peters, analis independen yang sebelumnya bekerja di Blockex Ltd. dan telah lama mencermati pasar negara berkembang seperti dikutip Bloomberg, Selasa (1/1/2019).

Peters juga mengingatkan, aset emerging market juga memiliki potensi untuk turun lebih rendah lagi dalam waktu yang lebih lama daripada yang diperkirakan.

Adapun selanjutnya, investor bakal mencermati langkah yang diambil Bank Sentral AS (Federal Reserve). Pasalnya, dalam Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 19 Desember 2018, Gubernur Fed Jerome Powell masih terdengar tidak se-dovish yang diharapkan pasar.

Beberapa laporan pun naik ke permukaan, bahwa Presiden AS Donald Trump tengah berdiskusi untuk mencari cara memecat Powell. Namun, hal itu sempat dibantah oleh Menkeu AS Steven Mnuchin untuk menenangkan pasar keuangan, bahwa Powell tidak akan didepak

Di sisi lain, Bank Sentral Eropa (ECB) yang telah memutuskan untuk menghentikan program pembelian obligasi. Adapun progam tersebut telah mendorong miliaran euro ke dalam pasar ber-yield tinggi seperti di Polandia dan Hungaria.

Langkah yang diambil ECB tersebut dapat mendorong otoritas moneter di Eropa Timur untuk menaikkan suku bunga, atau langkah yang selama ini sangat enggan dilakukan.

Sementara bagi negara-negara berkembang di Asia, negara yang sangat bertopang dengan investasi asing seperti Indonesia juga akan menghadapi tantangan untuk mempertahankan stablitas mata uang dan menjaga laju arus modal keluar (capital outflow).

Lebih lanjut, hadirnya sejumah agenda politik juga akan membuat trader seakan berdiri di pinggir jurang. 

Di kawasan Asia Tenggara, Thailand dijadwalkan mengadakan pemilu pada 24 Februari 2019 yang dikhawatirkan investor bakal diwarnai oleh kerusuhan.

Selanjutnya, Indonesia juga akan menggelar Pemilu Presiden pada 17 April 2019 yang akan mengulang kembali pertarungan antara petahana Joko Widodo dan lawannya Prabowo Subianto.

Sementara jauh di Argentina, Presiden Mauricio Macri yang populer di mata investor asing bakal menghadapi pemilu pula pada Oktober.

Saat ini, ekonomi Argentina masih berada dalam masa resesi dan inflasi mencapai hampir 50% telah membuat investor khawatir bahwa masyarakat dapat berpaling ke mantan Presiden populis Argentina Cristina Fernandez de Kirchner.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indeks msci emerging market
Editor : Gita Arwana Cakti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top