Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saksi Suap Meikarta: KPK Agendakan Periksa Presdir LPKR Ketut Budi Wijaya

Presiden Direktur Lippo Karawaci (LPKR) Ketut Budi Wijaya hari ini, Senin (10/12/2018) diagendakan menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 10 Desember 2018  |  10:24 WIB
Presiden Direktur PT Lippo Karawaci Tbk. Ketut Budi Wijaya. - Antara/Muhammad Iqbal
Presiden Direktur PT Lippo Karawaci Tbk. Ketut Budi Wijaya. - Antara/Muhammad Iqbal

Kabar24.com, JAKARTA — Presiden Direktur Lippo Karawaci (LPKR) Ketut Budi Wijaya hari ini, Senin (10/12/2018) diagendakan menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ketut diperiksa sebagai saksi untuk tersangka kasus dugaan suap perizinan proyek Meikarta di Bekasi, Billy Sindoro.

Ini merupakan pemeriksaan kedua yang dilakukan KPK terhadap Ketut Budi Wijaya. Sebelumnya, pemeriksaan dilakukan pada 25 Oktober 2018.

Pada pemeriksaan beberapa waktu lalu, KPK melakukan konfirmasi dan pendalaman terkait dengan beberapa keterangan mengenai kewenangan Bupati Bekasi dalam proses perizinan Meikarta.

KPK juga mempertajam dan memperdalam dugaan pelanggaran aturan yang terjadi.

Sembilan orang telah ditetapkan sebagai tersangka, yaitu sebagai pihak pemberi, Billy Sindoro, Direktur Operasional PT Lippo Grup; Taryudi, Konsultan Lippo Grup; Fitra Djaja Kusuma, Konsultan Lippo Grup; dan Henry Jasmen, Pegawai Lippo Grup.

Sebagai pihak penerima ditetapkan tersangka sebagai berikut, yaitu Neneng Hasanah Yasin, Bupati Bekasi; Jamaludin, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bekasi; Sahat MBJ Nahor, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bekasi; Dewi Tisnawati, Kepala Dinas DPMPTSP Kabupaten Bekasi; dan Neneng Rahmi, Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Kabupaten Bekasi.

Pihak yang diduga penerima disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 atau Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang­ Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Khusus untuk Jamaludin, Sahat MBJ Nahor, Dewi Tisnawati, dan Neneng Rahayu disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sementara itu, pihak pemberi disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kpk lippo cikarang lippo karawaci meikarta
Editor : Stefanus Arief Setiaji
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top