Arab Saudi Akui Pembunuhan Jamal Khashoggi Terencana

Jaksa penuntut umum Arab Saudi menyingkap hal mengejutkan bahwa pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi telah direncanakan. Padahal, Khashoggi sebelumnya dinyatakan terbunuh dalam suatu insiden yang tidak disengaja terjadi.
Renat Sofie Andriani | 26 Oktober 2018 07:28 WIB
Sejumlah aktivis HAM memegang foto jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi dalam unjuk rasa di luar Kedutaan Besar Arab Saudi di Istanbul, Turki, Selasa (9/10). - Reuters/Osman Orsal

Bisnis.com, JAKARTA – Jaksa penuntut umum Arab Saudi menyingkap hal mengejutkan bahwa pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi telah direncanakan. Padahal, Khashoggi sebelumnya dinyatakan terbunuh dalam suatu insiden yang tidak disengaja terjadi.

Pada Kamis (25/10/2018) waktu setempat, televisi pemerintah Saudi mengutip jaksa penuntut umum Saudi yang mengatakan bahwa pembunuhan itu direncanakan. Pihak jaksa penuntut disebut sedang menginterogasi sejumlah tersangka atas dasar informasi yang diberikan oleh petugas gabungan Saudi-Turki.

“Informasi dari pihak Turki menegaskan bahwa para tersangka dalam kasus Khashoggi telah merencanakan kejahatan mereka,” kata pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah, seperti dikutip Reuters.

Penyingkapan ini dikeluarkan setelah Direktur CIA Amerika Serikat (AS) Gina Haspel mendengarkan rekaman audio pembunuhan jurnalis asal Arab Saudi tersebut, dalam kunjungan investigasinya ke Turki pekan ini.

Pimpinan badan intelijen AS itu kemudian pada Kamis (25/10) waktu setempat melakukan briefing dengan Presiden Donald Trump perihal temuan dan diskusinya selama di Turki, menurut juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga ambil bagian dalam pertemuan itu, jelas Departemen Luar Negeri.

Kematian Khashoggi, dikenal sebagai kolumnis Washington Post dan kritikus Putra Mahkota Mohammed bin Salman, telah memicu kemarahan global dan menjamur menjadi krisis bagi negara pengekspor minyak tersebut.

Sekilas balik, para pejabat Saudi awalnya membantah terlibat dalam hilangnya Khashoggi setelah dia memasuki gedung konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober.

Kemudian pernyataan tersebut direvisi dengan mengatakan bahwa penyelidikan internal menunjukkan Khashoggi secara tidak sengaja terbunuh dalam sebuah operasi yang gagal untuk membawanya kembali ke Saudi.

Pemerintah Turki dan sejumlah negara Barat telah menyuarakan skeptisisme mereka tentang penjelasan pemerintah Saudi mengenai pembunuhan itu.

Para pejabat Turki menduga sekelompok agen Saudi telah membunuh Khashoggi di dalam gedung konsulat dan memutilasi tubuhnya. Sejumlah sumber di Turki mengatakan pihak otoritas memiliki rekaman audio yang konon mendokumentasikan pembunuhan itu.

Surat kabar Turki yang pro-pemerintah Yeni Safak, mengutip audio itu, mengatakan bahwa penyiksanya telah memotong jari-jari pria berusia 59 tahun itu selama interogasi dan kemudian memenggal kepalanya.

“Kami telah berbagi dengan mereka yang mencari informasi tambahan atas informasi dan temuan yang diperbolehkan dibagi oleh pihak jaksa,” ujar Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu kepada wartawan, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Sumber keamanan Eropa yang diberi pengarahan oleh orang-orang yang mendengarkan audio mengatakan rekaman itu dimulai dengan pertengkaran.

“Pada awalnya ada pertengkaran, mereka saling menghina, kemudian berkembang. (Pihak Saudi kemudian berkata) 'Ayo beri dia pelajaran',” ungkapnya. “Khashoggi tampaknya tidak percaya ia akan mati.”

Tag : Jamal Khashoggi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top