IMF-World Bank Annual Meeting: Ssst, Ada Kamar VVIP Berkaca Antipeluru di Ngurah Rai

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, dua pekan mendatang akan menjadi bandara paling sibuk di Indonesia. Sebanyak 18.000 delegasi bakal hadir dalam acara International Monetary Fund-World Bank Annual Meeting. Bagaimana persiapan otoritas bandara menyambut acara yang bakal dihadiri 18.000 delegasi tersebut?
Anton Wahyu Prihartono | 26 September 2018 13:42 WIB
Salah satu bangunan di ruang VVIP Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai untuk transit kepala negara dalam acara International Monetary Fund-World Bank Annual Meetin 2018. Foto diambil Senin (24/9/2-18). - JIBI/Anton Wahyu Prihartono

Bisnis.com, DENPASAR - Seorang pria tua tampak sibuk membersihkan ornamen berupa ukiran batu yang menempel di gapura bangunan VVIP di kompleks Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Begitu juga dengan pekerja lainnya yang tampak menata meja, mengecek lift dan ruangan-ruangan lainnya. Ruangan dan sejumlah fasilitas harus siap pada akhir pekan ini. Maklum, pada pekan kedua, bangunan dua lantai tersebut akan dipakai untuk transit 28 kepala negara yang bakal mengikuti pertemuan IMF pada 12-14 Oktober  2018 mendatang.

Di bangunan itu ada beberapa fasilitas lainnya seperti ruangan untuk Paspampres, ruang ajudan presiden atau perdana menteri, press room, meeting room, dan ruang pendukung lainnya. Yang istimewa tentu saja ruangan untuk istirahat kepala negara.

Angkasa Pura I telah mempersiapkan fasilitas berkelas president suite. Kepala negara nantinya bisa istirahat sementara di ruangan berukuran kurang lebih 5 x 6 meter, ditambah ruang khusus berukuran sekitar 5 x 5 meter dan juga kamar mandi dan lainnya berukuran sekitar 3 x 5. Kamar istirahat, ruang khusus kepala negara dan juga ruang-ruang lainnya sangat kental dengan ukir-ukiran kayu khas Bali baik di pintu maupun hiasan di tembok. Bahkan di ruang khusus terdapat ukiran kayu berukuran sekitar 4 x 4 meter. Di kamar untuk kepala negara terdapat tempat tidur, televisi, dan jendela yang tidak bisa dibuka.

“Itu [jendela] tidak bisa dibuka. Itu kaca antipeluru. Tebalnya empat sentimeter,” ujar salah satu pekerja yang enggan disebut namanya.

Selain ornamen seluruh ruangan yang kental dengan nuansa Bali, bentuk bangunannya pun juga identik dengan bangunan Bali.

“Karena pertemuan IMF dilaksanakan di Bali, maka bangunan VVIP pun kami sesuaikan dengan bentuk bangunan khas Bali. Termasuk gapura masuk bangunan VVIP. Bahkan pengerjaannya pun dilakukan oleh seorang pemahat khusus, pekerja harus memahat langsung yang kemudian dipasang di gapura,” ujar General Manager Angkasa Pura I Bandara Internasional  I Gusti Ngurah Rai, Yanus Suprayogi kepada wartawan, Senin (24/9/2018).

Selain bangunan VVIP, di kompeks tersebut juga terdapat tiga bangunan VIP yang nantinya bisa menjadi ruang transit para menteri dan tamu penting lainnya. Namun, bangunan tersebut lebih kecil dibanding bangunan VVIP. Baik bangunan VVIP maupun VIP memiliki akses langsung ke jalan utama untuk menghindari kemacetan.

Menurut Yanus, dalam pertemuan IMF di Bali ada beberapa hal yang harus dipersiapkan oleh Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Ada lima pekerjaan besar yang harus dipersiapkan antara pembangunan gedung VVIP, pembangunan gedung bertingkat untuk parkir, pembangunan apron barat, pembangunan apron timur dan pembangunan fasilitas check in. “Proses pembangunan kita kebut sejak Mei lalu dan saat ini sudah bisa digunakan,” kata Yanus.

Namun demikian, sebelum bengunan tersebut digunakan ada “syarat khusus” yang harus dilakukan oleh Angkasa Pura I yaitu doa sesuai dengan adat Bali.

“Ini Bali, bagaimana pun juga kami tidak ingin meninggalkan budaya dan adat setempat. Jadi sebelum bangunan digunakan, kami selenggarakan upacara adat nanti sore [Senin sore],” ujar Yanus.

Terminal kedatangan internasional pun tak kalah dipercantik. Berbagai ornamen khas Bali siap menyambut delegasi yang jumlahnya mencapai 18.000 peserta. Terminal kedatangan pun ukurannya sangat luas, lebih dari separuh ukuran lapangan sepak bola. Berbagai fasilitas juga ditambah seperti autogate imigration yang jumlahnya cukup banyak. Fasilitas ini dimaksudkan untuk memperlancar dan mempercepat tamu yang ikut pertemuan IMF saat mereka tiba di Bali. Jadi para delegasi tidak terlalu lama pada saat pemeriksaan di imigrasi.

“Semula fasilitas ini belum ada, dan akan kami gunakan untuk ke depannya untuk memperlancar penumpang internasional saat mereka tiba,” imbuh Co General Manager Commercial Angkasa Pura I Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Rahadian Dewanto Yogisworo kepada wartawan.

Menurut dia, pertemuan IMF akan dilaksanakan selama tiga hari. Namun, banyak delegasi yang menyatakan akan datang dua hari sebelum pelaksanaan.

Bagi Angkasa Pura I, persiapan tidak hanya selesai pada acara pertemuan IMF dan World Bank. Angkasa Pura I bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata juga telah menyiapkan destinasi-destinasi unggulan bagi para delegasi setelah melakukan pertemuan. “Tamu yang datang sangat banyak, kami juga telah menawarkan paket-paket wisata kepada para delegasi. Sampai saat ini banyak delegasi yang tertarik mengunjungi destinasi setelah mereka melakukan pertemuan,” ujar Yogi.

Beberapa destinasi yang disiapkan antara lain Labuhan Bajo, Prambanan dan Borobudur, serta sejumlah tempat lainnya. Destinasi-destinasi tersebut tentu saja memiliki penerbangan langsung dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. “Harapan kami, mereka [para delegasi] bisa tinggal lebih lama di Indonesia. Tentu saja ini bisa menjadi ajang promosi destinasi-destinasi wisata Indonesia kepada para delegasi dari luar negeri,” kata Yogi.

Sumber : harianjogja.com

Tag : annual meeting IMF-World Bank
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top