Perang Dagang AS-CHINA: Kedua Negara Kembali Terapkan BM Impor 25%

Perang dagang antara Amerika Serikat dan China pada Kamis (23/8/2018) semakin luas, setelah kedua negara sama-sama menerapkan bea masuk barang-barang impor sebesar 25%.
Martin Sihombing | 23 Agustus 2018 20:11 WIB
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, BEIJING -  Perang dagang antara Amerika Serikat dan China pada Kamis semakin luas, setelah kedua negara sama-sama menerapkan bea masuk barang-barang impor sebesar 25%.

Dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu terus saling membalas pemberlakuan tarif masuk terhadap produk-produk senilai 100 milyar dolar AS atau hampir Rp1.500 trilyun sejak Juli lalu. Akibatnya ialah pertumbuhan ekonomi global terancam.

PERANG DAGANG : Kala China dan AS Terus Adu Kekuatan

Perang Dagang Bikin Kesal Warga China, Turis AS Bakal Bayar Mahal Hotel di Shenzhen

Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa Washington "masih keras kepala" dengan menerapkan tarif baru.

"China sangat menentang kebijakan ini dan akan terus mengambil langkah balasan," kata mereka dalam siaran tertulis.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sendiri mengancam akan memberlakukan bea masuk terhadap barang-barang impor dari China senilai lebih dari US$500 miliar, kecuali Beijing sepakat untuk mengetatkan aturan hak kekayaan intelektual, menghapus subsidi industri, dan membeli lebih banyak barang dari Amerika Serikat.

Kabinet Trump sendiri terpecah soal harus seberapa keras mereka bersikap terhadap Beijing. Namun mereka sama-sama yakin telah menang dalam perang dagang dengan indikasi melambatnya perekonomian China dan bergejolaknya pasar saham di sana.

"Mereka tidak akan dengan mudah menyerah. Wajar jika mereka membalas," kata Menteri Perdagangan Amerika Serikat Wilbur Ross pada Rabu.

"Namun pada akhirnya, kami punya lebih banyak senjata dibanding mereka. Mereka tahu itu," kata Ross.

Sejumlah ekonom memperkirakan bahwa setiap 100 miliar barang impor yang kena tarif, akan mengurangi angka perdagangan global sebesar 0,5%.

Perang dagang tersebut juga akan membuat perekonomian China melambat sebesar 0,1 sampai 0,3%, sementara Amerika Serikat kurang dari itu. Namun dampak terbesar baru akan terasa pada tahun depan terhadap rantai pasokan global.

Tarif baru diberlakukan justru saat pejabat tingkat menengah dari kedua negara tengah berunding. Sejumlah kelompok usaha berharap pertemuan itu akan membuahkan hasil nyata.

Meskipun demikian, Trump mengaku tidak "berharap banyak" dari perundingan itu.

Perang dagang antara kedua negara terjadi saat Trump menuding Beijing telah secara sistematis memaksakan transfer teknologi dari perusahaan asal Amerika Serikat sehingga melanggar aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Tudingan itu dibantah oleh China.

Tarif baru dari Washington mencakup 279 kategori produk dari China, termasuk di antaranya semikonduktor, plastik, bahan kimia, dan peralatan konstruksi rel kereta.

Sementara itu China membalasnya dengan memberlakukan hal yang sama bagi 333 kategori produk dari Amerika Serikat termasuk batu bara, tembaga, bahan bakar, produk baja, bus, dan peralatan medis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Sumber : ANTARA/REUTERS

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top