BOJ Tawarkan Beli Obligasi dalam Jumlah Tak Terbatas

Bank Sentral Jepang (BOJ) menawarkan untuk membeli obligasi dalam jumlah yang tak terbatas. Hal itu dilakukan setelah yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun melonjak ke level tertingginya.dalam dua tahun dipicu oleh rumor BOJ akan memperbarui kebijakan moneternya.
Dwi Nicken Tari | 23 Juli 2018 19:10 WIB
Bank of Japan - REUTERS

Kabar24.com, JAKARTA –  Bank Sentral Jepang (BOJ) menawarkan untuk membeli obligasi dalam jumlah yang tak terbatas. Hal itu dilakukan setelah yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun melonjak ke level tertingginya.dalam dua tahun dipicu oleh rumor BOJ akan memperbarui kebijakan moneternya.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun menanjak hingga 6 bps menjadi 0,09%, atau kenaikan tertingginya sejak dua tahun. Hal itu pun menekan nilai tukar yen dan harga saham.

Adapun setelah BOJ menawarkan untuk membeli obligasi, kurva yield berhasil turun sebesar 1 bps dari level tertingginya.

“BOJ menahan operasional tarif tetap (fixed-rate operation) untuk meyakinkan pasar, supaya tidak bergerak terbawa spekulasi” kata Shinji Hiramatsu, General Manajer di Sompo Japan Nipponkoa Asset Management Co., seperti dikutip Bloomberg, Senin (23/7/2018).

Adapun BOJ dikabarkan bakal memperbarui kebijakan stimulus longgarnya di dalam rapat kebijakan pekan depan. Pasalnya, sejauh ini stimulus longgar BOJ masih membuat laba perbankan dan trader obligasi tertekan. Oleh karena itu,  para pembuat kebijakan dikabarkan bakal memperpanjang masa berlaku stimulus longgar.

Perubahan apapun yang akan diambil BOJ nantinya merupakan yang pertama kali dilakukan sejak BOJ memperkenalkan stimulus longgar pada 2016.

“Bank sentral akan kesulitan jika terus menahan kebijakan stimulus longgar karena dapat menguatkan yen dan melemahkan harga saham,” imbuh Hiramatsu.

Oleh karena itu, BOJ menawarkan untuk membeli obligasi dalam jumlah yang tak terbatas untuk menjaga yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun tetap berada di sekitar 0%.

Adapun yen juga menguat setidaknya 0,6% menjadi 110,75 per dolar AS sebelum diperdagangkan di level 111,00 pada pukul 16.20 di Tokyo. Penguata yen tersebut juga disebabkan oleh pelemahan dolar AS akibat tuduhan Presiden AS Donald Trump terhadap beberapa negara terkait manipulasi nilai tukar.

“BOJ akan menekankan komunikasinya dan membiarkan yield obligasi JGB [Japanese Government Bond] bertenor 10% naik tidak lebih dari 0,10%, untuk memberikan fleksibilitas ke dalam kebijakan moneter dan tidak melakukan pengetatan,” tulis Tohru Sasaki, analis JPMorgan Chase&Co.

Sementara itu, Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda pun semakin dilanda dilema untuk melakukan pergeseran kebijakan. Pasalnya, inflasi yang masih jauh dari target bank sentral menandakan stimulus longgar harus dipertahankan. Di sisi lain, jika stimulus longgar tetap dilanjurkan, maka yen akan semakin menguat dan mengganggu kinerja ekspor Jepang.

Kendati Kuroda menyampaikan dewan gubernur mempertimbangkan untuk segera mengakhiri stimulus longgar, para pembuat kebijakan juga mengaku akan terus mempertahankan kebijakan moneternya hingga inflasi mencapai target.

Kuroda juga menolak memberikan komentar mengenai laporan yang beredar pekan lalu tersebut. Dia menganggap kurang bijaksana untuk memberikan penilaian terhadap langkah yang akan diambil bank sentral pada saat ini. 

Pasalnya, para pembuat kebijakan masih berdiskusi mengenai kondisi harga dan perekonomian, sebelum mengambil keputusan di dalam rapat kebijakan pekan depan.

“Saya tidak tahu dasar dari laporan tersebut,” kata Kuroda di sela-sela pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara kelompok 20 (G20) di Buenos Aires, Argentina, seperti dikutip Bloomberg, Senin (23/7/2018).

Tag : boj
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top