AS Cabut Larangan Berdagang Dengan ZTE, Perusahaan Telkom China

Kementerian Perdagangan AS mencabut larangan terhadap perusahaan AS yang menjual barang ke ZTE Corp, yang memungkinkan pembuat peralatan telekomunikasi terbesar kedua di China untuk melanjutkan bisnis, Jumat (13/7/2018) waktu setempat.
Rinaldi Mohammad Azka | 14 Juli 2018 15:52 WIB
Nama perusahaan ZTE terlihat di bagian luar gedung riset dan pengembangan ZTE di Shenzhen, China - Reuters/Bobby Yip

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perdagangan AS mencabut larangan terhadap perusahaan AS yang menjual barang ke ZTE Corp, yang memungkinkan pembuat peralatan telekomunikasi terbesar kedua di China untuk melanjutkan bisnis, Jumat (13/7/2018) waktu setempat.

Kementerian Perdagangan AS menghapus larangan itu segera setelah ZTE menyetorkan US$ 400 juta ke rekening bank pihak ketiga pemerintah AS sebagai bagian dari penyelesaian yang dicapai bulan lalu.

Penyelesaian itu juga termasuk penalti US$1 miliar yang dibayarkan ZTE ke Kementerian Keuangan AS, Juni lalu.

"Departemen akan tetap waspada saat kami memantau dengan ketat tindakan-tindakan ZTE untuk memastikan kepatuhan terhadap semua undang-undang dan peraturan AS," kata Sekretaris Perdagangan Wilbur Ross dalam sebuah pernyataan yang menggambarkan ketentuan kesepakatan sebagai yang paling ketat yang pernah dijatuhkan dalam kasus seperti itu.

Persyaratan ini akan memungkinkan departemen untuk melindungi keamanan nasional AS, begitu ungkap Ross.

Pemerintah AS telah bentrok dengan anggota parlemen dari partainya sendiri atas isu-isu yang berkaitan dengan China, dan ini tidak berbeda. Pada Jumat waktu setempat, Senator Marco Rubio, seorang Republikan, mengkritik pencabutan larangan tersebut.

“ZTE harus dikeluarkan dari bisnis. Tidak ada 'kesepakatan' dengan perusahaan yang diarahkan oleh pemerintah China dan Partai Komunis untuk memata-matai dan mencuri dari kami di mana orang Amerika keluar sebagai pemenang," kata Rubio dalam sebuah pernyataan.

Sebuah foto yang beredar di kalangan karyawan sekitar tengah malam menunjukkan Direktur Eksekutif baru ZTE dan 10 manajer lainnya masing-masing memberikan acungan jempol ke berita, yang terlintas di layar di perusahaan, menurut sumber Reuters.

Penangguhan tersebut menyusul ancaman oleh pemerintahan Trump minggu ini untuk memaksakan 10% tarif pada $ 200 miliar barang-barang China dalam perang dagang.

ZTE tidak menanggapi permintaan untuk komentar.

ZTE, yang bergantung pada komponen AS untuk ponsel cerdas dan perlengkapan jaringannya, menghentikan operasi besar setelah larangan itu diperintahkan pada April lalu.

Presiden AS Donald Trump berkicau di Twitter pada Mei ia menutup ZTE dan membiarkannya dibuka kembali, meskipun tidak ada kesepakatan yang dicapai.

Penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, mengatakan bulan lalu, Trump setuju untuk mencabut larangan itu sebagai isyarat niat baik kepada Presiden China Xi Jinping.

Perusahaan tersebut telah membuat pernyataan palsu tentang mendisiplinkan 35 karyawan yang terlibat dengan pengiriman barang asli AS ke Iran dan Korea Utara secara ilegal, kata pejabat Departemen Perdagangan. ZTE mengaku bersalah tahun lalu atas pelanggaran sanksi.

ZTE membayar US$ 892 juta denda ke Amerika Serikat sehubungan dengan penyelesaian 2017 dan pengakuan bersalah. Kesepakatan pembayaran US$ 1,4 miliar baru datang di setelah itu.

US$400 juta akan tetap berada di pihak ketiga selama 10 tahun untuk memberikan akses kepada pemerintah AS ke uang jika ZTE melanggar penyelesaian Juni.

Sumber : reuters

Tag : ekonomi as, zte
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top