Bank Of Japan : Dampak Stimulus Longgar Tetap Diperhatikan

Wakil Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) Masayoshi Amamiya memperhatikan dengan seksama tren penurunan dari stimulus. Hingga kini, kebijakan moneter longgar telah berlangsung selama lima tahun di Negeri Sakura dan tidak juga berhasil membawa inflasi mendekati target 2%.
Dwi Nicken Tari | 28 Juni 2018 18:46 WIB
Bank of Japan - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA – Wakil Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) Masayoshi Amamiya memperhatikan dengan seksama tren penurunan dari stimulus.

Hingga kini, kebijakan moneter longgar telah berlangsung selama lima tahun di Negeri Sakura dan tidak juga berhasil membawa inflasi mendekati target 2%.

Namun, Amamiya mengungkapkan, bukan berarti bantuan kebijakan akan terburu-buru dilakukan.  Dia menilai BOJ masih jauh dari akhir stimulus longgar.

Keputusan itu diambil kendati efek samping stimulus longgar telah terjadi, seperti pemberi pinjaman komersil yang kesulitan dengan suku bunga negatif dan pedagang obligasi merasa ‘diperas’ oleh pembelian besar-besaran yang dilakukan BOJ terhadap utang pemerintah.

“Menurut saya, efek samping tidak akan melebihi manfaat [stimulus longgar] saat ini, namun dampaknya kumulatif dan kami memperhatikannya dengan cermat,” ujar Amamiya dalam wawancara pertama sejak menjabat wakil gubernur BOJpada Maret, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (28/6/2018).

Adapun veteran yang menghabiskanempat dekade di BOJ tersebut menolak memberikan komentar mengenai perubahan kebijakan moneter yang bakal diambil dewan gubernur pada pertemuan 30-31 Juli 2018.

Namun, dia memberikan perbedaan jelas antara tren inflasi saat ini di Jepang dengan situasi pada 2016, ketika terakhir kali adanya perubahan kebijakan.

Dengan benchmark inflasi bank sentral kini berada di 0,7%, Amamiya meyakinkan bahwa pandangan tentang momentum harga pada dasarnya tetap dipertahankan.

Hal itu, lanjutnya, bukanlah masalah pada 2016 ketika indeks inti inflasi terperosok. Kala itu, Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda memperkenalkan suku bunga negatif yang diikuti dengan perpindahan fokus dari pembelian aset ke pengendalian kurva yield.

Sementara inflasi telah lebih baik ketimbang dua tahun lalu, namun posisinya masih jauh dari target bank sentral sebesar 2%. Hal itu membuat BOJ tertinggal dengan stimulus longgarnya, sementara The Fed dan Bank Sentral Eropa (ECB) telah mulai menormalisasikan kebijakan.

Amamiya menambahkan, akan sangat tidak tepat untuk menormalisasikan pengaturan moneter sekarang sebagai upaya memberikan ruang kebijakan di dalam menghadapi krisis di masa depan.

Dia pun menolak menyetujui pandangan mayoritas ekonom yang mengatakan pengetatan kebijakan tidak akan terjadi pada 2019 maupuns etelahnya.

“Kesempatan perlunya penyesuaian kebijakan seharusnya tidak dikesampingkan. BOJ memiliki diskusi di setiap rapat kebijakan moneter untuk menentukan keputusan,”ujar Amamiya secara umum tanpa menyinggung bingkai waktu. (Bloomberg/Dwi Nicken Tari)

Tag : boj, bank of japan
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top