Jepang Tetap Optimistis Ekonomi Bisa Rebound

Jepang tidak mengubah perkiraan bahwa perekonomiannya perlahan-lahan pulih. Hal itu memperlihatkan keyakinan para pembuat kebijkaan, bahwa ekonomi Negeri Sakura bakal pulih setelah kontraksi pada kuartal I/2018.
Dwi Nicken Tari | 23 Mei 2018 18:40 WIB
Industri di Jepang. - .Reuters

Kabar24.com, JAKARTA – Jepang tidak  mengubah perkiraan bahwa perekonomiannya perlahan-lahan pulih. Hal itu memperlihatkan keyakinan para pembuat kebijkaan, bahwa ekonomi Negeri Sakura bakal pulih setelah kontraksi pada kuartal I/2018.

“Perekonomian Jepang perlahan-lahan pulih,” tulis laporan ekonomi bulanan terbaru yang dikeluarkan Kantor Kabinet Jepang, seperti dikutip Reuters, Rabu (23/5/2018).

Adapun pernyataan itu tidak berubah dari bulan lalu. Pemerintah Jepang juga tidak mengubah perkiraan mereka terkait pengeluaran konsumen yang ‘membaik’. Pemerintah melihat, pengeluaran untuk produk elektronik rumah (home electronics) memperlihatkan tanda-tanda pertumbuhan dan pengeluaran rumah tangga pun meningkat.

“Belanja modal (Capex) berekspansi secara gradual,” tulis laporan tersebut.

Adapun perekonomian Jepang mengakhiri laju ekspansinya sepanjang sedekade pada awal tahun ini ketika produk domestik bruto (PDB) Jepang berkontraksi lebih dari yang diperkirakan. Hal itu disebabkan oleh pelemahan pengeluaran konsumen, investasi bisnis, dan ekspor.

PDB negara ekonomi terbesar ketiga di dunia itu melemah 0,6% secara tahunan pada kuartal I/2018.

Banyak ekonom yang menilai pelemahan itu hanyalah sementara. Namun, tetap ada keraguan mengenai seberapa kuat perekonomian Jepang dapat kembali tumbuh.

Sementara itu, Kantor Kabinet Jepang memperlihatkan keyakinan bahwa perekonomian Negeri Sakura dapat berbalik ditopang oleh pengetatan pasar pekerja domestik dan permintaan dari luar negeri yang solid untuk produk barang dan jasa.

“Pelemahan PDB pada kuartal I/2018 datang setelah pertumbuhan selama 8 kuartal, jadi kami belum mengubah perkiraan keseluruhan,” kata Kantor Kabinet Jepang kepada reporter.

Mereka menambahkan, ada banyak faktor-faktor temporal kala itu, seperti cuaca dingin yang menekan harga sayur-sayuran dan akhirnya merendahkan pengeluaran konsumen.

Adapun kemungkinan friksi perdagangan dengan Amerika Serikat tetap menjadi risiko bagi Jepang yang mengandalkan ekspor.

Pemerintahan AS masih berunding dengan China, meminta Negeri Panda mengimpor lebih banyak produk energi dan komoditas agrikultur untuk mengurangi defisit neraca perdagangannya dengan AS.

Beberapa pembuat kebijakan Jepang kini khawatir AS akan melakukan hal yang serupa kepada Jepang. Pasalnya, selama ini Negeri Paman Sam juga selalu mengkritisi Jepang yang memiliki surplus perdagangan dengan AS. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi jepang

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top