Pertama Dalam 8 Tahun, China-Jepang Gelar Pertemuan Tingkat Tinggi

Jepang dan China menggelar dialog ekonomi tingkat tinggi pertama dalam hampir delapan tahun pada hari ini di Tokyo, di tengah ancaman perdagangan dari Amerika Serikat (AS).
Renat Sofie Andriani | 16 April 2018 10:51 WIB
Menlu China Wang Yi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Jepang dan China menggelar dialog ekonomi tingkat tinggi pertama dalam hampir delapan tahun pada hari ini di Tokyo, di tengah ancaman perdagangan dari Amerika Serikat.

Dilansir Bloomberg, Senin (16/4/2018), China diwakili Menteri Luar Negeri Wang Yi, sedangkan Jepang diwakili Menteri Luar Negeri Taro Kono.

Meskipun tidak ada pihak yang secara terbuka mengaitkan diskusi antara keduanya dengan kebijakan proteksionis Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, pertemuan itu menjadi pengingat atas seberapa besarnya ketergantungan kedua negara terhadap pasar Amerika.

Sebelum terpilih sebagai Presiden ke-45 AS, Trump telah mengkritik bahwa perdagangan serta kebijakan ekonomi China dan Jepang tidak adil dan merugikan AS.

China bukan hanya mitra dagang, tetapi juga sumber investasi dan pariwisata yang penting. Ini memberi China kekuatan tawar-menawar dan kekuatan koersif terhadap negara-negara Asia lainnya.

 

Baru-baru ini Trump mengancam pengenaan tarif terhadap ekspor China dan pembatasan investasi. Pekan lalu, ia mengecam Jepang yang dinilai telah ‘menghantam’ AS selama bertahun-tahun.

Hal tersebut mungkin akan dibahas ketika Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe bertemu dengan Trump pekan ini di Florida, tetapi meningkatnya perdagangan antarnegara Asia tampaknya telah melemahkan kekuatan upaya AS untuk mengancam.

China telah menggantikan AS sebagai mitra dagang nomor satu bagi sebagian besar negara di Asia, bahkan negara-negara yang memiliki aliansi militer dengan AS, seperti Korea Selatan, Jepang, dan Australia.

China bukan hanya mitra dagang, tetapi juga sumber investasi dan pariwisata yang penting. Ini memberi China kekuatan tawar-menawar dan kekuatan koersif terhadap negara-negara Asia lainnya. 

Namun begitu, AS masih merupakan mitra ekonomi keseluruhan yang lebih penting bagi banyak negara di Asia. Jepang, misalnya, memiliki lebih banyak yang diinvestasikan di AS dibandingkan dengan di China.

Bahkan dengan ketegangan perdagangan baru-baru ini, banyak perusahaan Asia masih bergantung pada pasar AS.

Tensi perdagangan antara AS dan China bukanlah hal baru. Sebelum Trump mulai mengeluhkan defisit perdagangan secara terus-menerus, AS telah mengeluhkan tindakan China lebih daripada negara lain kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Tetapi situasi saat ini jauh lebih menegangkan dan ekonomi Jepang akan mengalami kerugian jika memburuk.

Jadi pekan ini, Jepang harus ‘bersikap baik’, menyeimbangkan hubungan dengan mitra dagang terbesarnya terhadap tuntutan mitra dagang terbesar kedua, yang juga merupakan sekutu militer dan penjamin keamanannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jepang, china

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top