Skandal Abe Semakin Serius dari Perkiraan Investor

Skandal yang menerpa Perdana Menteri Shinzo Abe --kontroversi dokumen penjualan lahan -- tampaknya semakin serius daripada yang dibayangkan oleh investor. Pasalnya, skandal itu bisa meningkatkan potensi pasar saham Jepang bergerak cepat dan di sisi lain mengurangi potensi kejutan untuk akhir dari kebijakan ekonomi Abe, yang terkenal dengan sebutan Abenomics.
Dwi Nicken Tari | 16 Maret 2018 05:24 WIB
Presiden Joko Widodo dan PM Jepang Shinzo Abe - Setpres/Laily

Bisnis.com, JAKARTA — Skandal yang menerpa Perdana Menteri Shinzo Abe --kontroversi dokumen penjualan lahan-- tampaknya semakin serius daripada yang dibayangkan oleh investor. Pasalnya, skandal itu bisa meningkatkan potensi pasar saham Jepang bergerak cepat dan di sisi lain mengurangi potensi kejutan untuk akhir dari kebijakan ekonomi Abe, yang terkenal dengan sebutan Abenomics.

Selama lebih dari lima tahun menjabat, Abe telah berulang kali berhadapan dengan kontroversi politik dan protes. Berdasarkan analis politik, skandal mengenai kontroversi dokumen penjualan lahan yang menyeret nama Abe dan Menteri Keuangannya itu bisa mnejadi ancaman serius.

Namun, pasar masih belum menentukan nilai harga untuk kemungkinan pengunduran diri pendukung Abe, Menteri Keuangan Taro Aso maupun kemungkinan Abe akan kehilangan jabatannya pada tahun ini.

Tohru Sasaki, Kepala Riset Pasar Jepang JPMorgan Chase & Co di Tokyo, menyatakan  bagi investror global, Abenomics setara dengan penguatan dolar AS terhadap Yen, peningkatan indeks Nikkei dan, membaiknya perekonomian Jepang

“Persepsi investor asing akan berubah drastis jika Abe terpaksa mundur dari kekuasaannya],” kata Sasaki yang pernah bekerja di Bank Sentral Jepang (BOJ), seperti dikutip Bloomberg, Kamis (15/3/2018).

Sasaki melanjutkan, pekan-pekan penuh kekacauan dapat terjadi di pasar modal Jepang meskipun dampaknya mungkin hanya akan sementara. Dia mengacu kepada masa menguatnya yen Jepang setelah pemungutan suara Brexit di Inggris pada Juni 2016 dan ketika Donald Trump memenangkan pemilu pada November 2016.

Pergolakan politik mungkin tidak akan terlalu mengubah permainan kebijakan ekonomi dan fundamental Negeri Sakura, lanjut pakar yen itu. Pertama, para pembuat kebijakan  dengan tenang telah mengesahkan Haruhiko Kuroda untuk menjabat sebagai gubernur BOJ untuk periode berikutnya. Selain itu, mereka juga mengonfirmasi dua orang wakil yang akan mendukung kelanjutan stimulus longgar selama setengah dekade ini.

Kedua, pejabat kelas berat Partai Demokratis Liberal yang kemungkinan besar memenangkan pemilu pada musim gugur tahun ini tampak sedikit terdorong untuk meninggalkan program Abenomics, yang telah membantu mereka memenangkan lima kali pemilu.

Adapun, profit korporat juga telah melonjak sepanjang sejarah dan perekonomian Jepang terus melanjutkan ekspansinya, terpanjang sejak 1980-an. Hal itu merupakan dampak positif yang dibawa oleh bangunnya yen sejak investor mulai menaruh harga ketika Abe berkuasa pada 2012.

Shusuke Yamada, Currency and Equity Strategist Bank of America Merrill Lynch di Tokyo menyebutkan bahwa pasar tampaknya mengasumsikan Abe akan memenangkan pemilu untuk ketiga kalinya pada September

“Menaruh harga untuk ini [pemilu] sepertinya akan berakhir pada rendahnya ekuitas dan penguatan yen,” tulis Yamada dalam pernyataannya, Kamis (15/3).

Untuk itu, Yamada menyarankan untuk angka pemungutan suara untuk Abe pada akhir pekan ini. Dia menambahkan, sebuah tes ulang dari 105 yen terhadap dolar AS bisa muncul jika rating turun tajam.

Mata uang Jepang telah menguat tahun ini mencapai 6,3%. Akan tetapi, penguatan itu juga membawa beban bahwa dolar AS akan tergerus karena kekhawatiran terhadap menumpuknya pinjaman AS yang diperlihatkan oleh aksi perdagangan Paman Sam dan defisit fiskal.

Hal itu bisa meningkatkan risiko aksi sepihak dalam penentuan harga politik (political repricing), bahkan ketika kebijakan ekonomi fundamental tampaknya akan berubah.

Sebelumnya, pasar telah salah menduga harga dari perubahan kebijakan yang dipengaruhi oleh faktor politik. Ketika seorang advokat mengintervensi untuk menyeret yen kalah dalam pemilu 2010. Tentu saja kala itu Jepang mengintervensi karena yen melonjak seiring pasar mengasumsikan ada aksi jual terjadap yen. (Bloomberg)

Tag : jepang, shinzo abe
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top