Strategi Penanganan Kanker Bergeser, Ini Alasannya

Penanganan kanker tidak lagi fokus pada aspek hilir, seperti mendirikan rumah sakit, tapi ke hulu dengan pencegahan di tengah masyarakat seperti penyuluhan, edukasi dan sosialisasi.
Yoseph Pencawan | 23 Februari 2018 07:35 WIB
Ilustrasi kanker - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Biaya yang dikeluarkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk membantu pengobatan dan perawatan penderita kanker di Indonesia mencapai Rp2,1 triliun setahun.

Bukan angka yang kecil. Dan setiap tahun penderita kanker semakin banyak, termasuk kanker anak.

Penanganan kanker tidak lagi fokus pada aspek hilir, seperti mendirikan rumah sakit, tapi ke hulu dengan pencegahan di tengah masyarakat seperti penyuluhan, edukasi dan sosialisasi.

Kementerian Kesehatan pun sudah menggeser programnya dari yang bersifat kuratif menjadi preventif.

Meski terdengar sederhana, menyebarkan pengetahuan tentang penyakit kanker ternyata jadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi perubahan mind set atau pola pikir masyarakat.

Sosialisasi dan edukasi kini jadi langkah yang tepat untuk menghadapi penyakit kanker, khususnya pada anak. “Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat harus dilakukan sesering mungkin,” ujar Abdul Kadir, Direktur Utama Rumah Sakit Dharmais.

Perubahan paradigma ini pun didukung Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI). Ketua YKAKI Ira Soelistyo mengatakan pihaknya menggandeng dokter-dokter dan para ahli untuk mengadakan sosialisasi dan edukasi.

Menurutnya, sekaranglah waktunya berbicara kanker anak, tidak ada lagi yang berpikiran bahwa kanker anak itu adalah dewasa kecil karena jumlahnya sedikit dan sebagainya.

Besarnya biaya pengobatan dan perawatan penyakit kanker pada anak adalah persoalan yang harus ditanggung para orang tua bila tidak memperhatikannya sejak awal.

Dahulu, kata Abdul Kadir, bila seseorang divonis menderita kanker, maka dia langsung jatuh miskin karena begitu mahalnya biaya pengobatan dan perawatan.

Tindakan kemoterapi yang diberikan sebanyak 5–6 siklus, yang satu siklus membutuhkan biaya Rp30 juta, dengan jarak 21 hari, sudah menghabiskan Rp180 juta.

Ditambah dengan radioterapi yang harus diberikan, dengan sekali penyinaran memakan biaya Rp1,6 juta sehingga bila diberikan dengan frekuensi setiap minggu 5 kali selama 6 minggu atau 8 minggu, membutukan dana Rp140 juta.

Belum lagi apabila ada tindakan operasi yang meskipun tergantung jenis operasinya, tetap saja rata-rata menelan biaya puluhan juta rupiah.

“Secara total, biayanya [pengobatan kanker] Rp300 juta sampai Rp400 juta. Bisa dibayangkan, kalau ada masyarakat kita yang menderita kanker, meskipun ekonominya menengah, langsung jatuh miskin,” papar dia.

Pemerintah telah menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menjamin pembiayaan pengobatan dan perawatan penyakit yang diderita masyarakat, termasuk kanker pada anak.

Sayangnya, kasus kanker anak yang terdeteksi juga semakin banyak. Kadir meyakini peningkatan kasus kanker pada anak bisa juga karena akses masyarakat ke rumah sakit sudah semakin gampang karena ada BPJS.

Sebelum ada BPJS, populasi penderita kanker anak tidak banyak bukan karena kasusnya kurang, tetapi karena tidak berobat ke rumah sakit akibat tidak memiliki biaya.

Kementerian Kesehatan mencatat terdapat lebih dari 16.000 kasus kanker diderita anak pada usia 0–14 tahun di Indonesia per tahun dan 100–130 kasus kanker ditemukan pada setiap 1 juta anak.

Tag : dokter, kanker payudara, sakit kepala
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top