Reaper, Kelompok Spionase Cyber Korut, Jadi Ancaman Global

Kelompok spionase cyber asal Korea Utara Reaper tumbuh sebagai ancaman global. Aksi kelompok ini dilaporkan mulai menargetkan wilayah-wilayah di luar semenanjung Korea untuk mendukung kepentingan militer dan ekonomi Pyongyang.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 21 Februari 2018  |  14:30 WIB
Reaper, Kelompok Spionase Cyber Korut, Jadi Ancaman Global
Ilustrasi - youtube

Kabar24.com, JAKARTA – Kelompok spionase cyber asal Korea Utara ‘Reaper’ tumbuh sebagai ancaman global. Aksi kelompok ini dilaporkan mulai menargetkan wilayah-wilayah di luar semenanjung Korea untuk mendukung kepentingan militer dan ekonomi Pyongyang.

Laporan FireEye Inc. mengungkapkan kelompok tersebut, yang juga dikenal sebagai APT37, pada 2017 mulai menyerang sejumlah target di Jepang, Vietnam, dan Timur Tengah setelah fokus pada negara tetangganya di wilayah selatan selama bertahun-tahun.

Kelompok peretas, yang keberadaannya di Korea Utara terlacak lewat alamat IP, ini dilaporkan menginfiltrasi berbagai industri mulai dari elektronik dan kedirgantaraan hingga otomotif dan kesehatan.

Reaper bergabung dengan berkembangnya daftar unit peretas yang terkait dengan rezim Kim Jong Un, termasuk ‘Lazarus’, yang oleh pihak Amerika Serikat (AS) disebut bertanggung jawab atas pencurian data di Sony Pictures Entertainment pada tahun 2014.

Korea Utara memang diketahui telah memperluas operasi cybernya dalam upaya untuk menghadapi dampak sanksi internasional dan Reaper tampaknya menjawab tantangan ini.

“Mereka telah lama berada di bawah radar untuk waktu yang lama. Ini adalah alat rezim yang dapat digunakan dengan cara yang sama seperti halnya Lazarus digunakan,” ujar John Hultquist, direktur unit intelijen di FireEye, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (21/2/2018).

Reaper telah aktif sejak setidaknya tahun 2012 dan biasanya mengirimkan targetnya email berikut malware (malicious software), suatu program yang dirancang dengan tujuan untuk merusak dengan menyusup ke sistem komputer, untuk mencuri informasi rahasia.

Menurut FireEye, target-targetnya termasuk perusahaan telekomunikasi Timur Tengah yang melakukan bisnis di Korea Utara, entitas berbasis di Jepang yang terkait dengan kelompok PBB sehubungan dengan sanksi, serta direktur umum sebuah perusahaan perdagangan Vietnam.

“Korea Utara tampaknya percaya diri dengan peretasan di Korea Selatan dan sekarang mengincar target yang lebih jauh,” kata Shin Jin, seorang profesor ilmu politik di Chungnam National University di Korea Selatan.

“Negara-negara asing adalah pasar yang belum dijelajahi dan banyak di antaranya memiliki infrastruktur keamanan yang lebih lemah daripada Korea Selatan,” tambah Shin Jin.

Kelompok tersebut berada di bawah pengawasan FireEye ketika Korea Selatan bulan lalu memperingatkan tentang kerentanan keamanan di Adobe Flash.

“Seorang developer yang diyakini bagian dari Reaper membuat kesalahan dengan mengungkapkan alamat IP di Korea Utara. Masih belum jelas seberapa besar kelompok tersebut,” lanjut Hultquist.

FireEye kemudian memberikan peringatan dalam pernyataan yang dilayangkan dalam sebuah e-mail bahwa mengabaikan ancaman ini dapat menyebabkan kerugian besar.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Korea Utara, hacker

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top