Survei Alumni UI Lemah Secara Metodologi

Survei yang dilakukan oleh Ikatan Alumni Universitas Indonesia dikritik oleh alumni perguruan tinggi tersebut itu.
MG Noviarizal Fernandez | 18 Februari 2018 17:50 WIB
Mengukur kredibilitas survei politik - Antara

Kabar24.com, JAKARTA- Survei yang dilakukan oleh Ikatan Alumni Universitas Indonesia dikritik oleh alumni perguruan tinggi tersebut itu.

Dalam survei itu, 48,8% alumni UI tidak puas dengan kinerja Jokowi. Begitu juga dinyatakan bahwa yang puas pada Jokowi dalam hal masalah politik hanya 18,7%, aspek hukum hanya 22% dan ekonomi hanya 29,4%.

Ade Armando, salah seorang alumni UI yang juga merupakan pakaian komunikasi mengatakan bahwa yang mempermalukan UI dari survei itu adalah metode survei yang buruk dan terkesan dilakukan oleh orang yang tidak pernah belajar metode penelitian sosial.

"Dengan kata lain, survei ini memalukan secara metodologis. Siapapun yang pernah belajar metode penelitian sosial akan menertawakan survei Iluni ini," katanya, Minggu (12/2/2018).

Dam survei ini, lanjutnya, responden ditarik dari daftar alumni UI yang terdaftar dalam e-voting pemilihan Ketua Iluni pada 2015. Panitia survei mengirimkan email kuestioner kepada seluruh (sebagian) nama yang terdaftar saat pemilihan ketua dan jawaban bersifat sukarela.

"Hasil survei diambil dari jawaban mereka yang bersedia mengambalikan kuestioner online itu. Ini kesalahan mendasar," tuturnya.

Iluni, lanjutnya, tidak boleh mengambil kesimpulan mengenai sikap alumni UI dengan cara seserampangan seperti itu. Responden survei ini menurutnya, sama sekali tidak representatif terhadap semua alumni UI yang jumlahnya ratusan ribu atau bahkan jutaan orang.

"Daftar nama orang yang ada dalam daftar e-voting sama sekali tidak bisa digunakan. sebagai perwakilan alumni," katanya.

Karena itu, menurutnya pengurus Iluni semestinya membuat daftar lengkap semua nama alumni UI dan ditarik sampel secara acak.

"Mereka yang sudah terpilih sebagai responden dihubungi baik melalui kontak langsung, maupun lewat telepon, email, surat dan sebagainya. Bila orang itu tidak bersedia atau gagal dihubungi, harus dicari gantinya dengan penarikan random," jelasnya.

Metode ini menurutnya memang rumit karena suatu penelitian tidak pernah mudah dilaksanakan. Kalau setiap orang bisa dengan seenaknya bikin survei seperti yang dilakukan Iluni UI, maka menurutnya tidak perlu ada pengetahuan tentang metode penelitian.

"Jadi, maaf ya Iluni UI. Kalian memalukan.Lain kali, tanya pada dosen-dosen UI yang pintar. Ini sih kesannya seperti bikin survei abal-abal untuk tujuan entah apa," ujarnya berang.

Di luar sana, menurutnya, ada banyak lembaga survei abal-abal yang bekerja untuk kepentingan politik yang membiayai mereka dan publik sudah muak dengan upaya itu sehingga Iluni tidak perlu melakukan hal serupa.

Tag : survei, iluni ui
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top