Mantan Gubernur BI Rachmat Saleh Meninggal Dunia : Ini Kesan Wapres JK 3 Tahun Lalu

Di mata Wapres JK, Rachmat Saleh, Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 1973-1983 adalah sosok visioner yang menanamkan kejujuran dan kerja keras.
Saeno | 11 Februari 2018 17:43 WIB
Wapres JK dan Rachmat Saleh saat peluncuran buku di Hotel Bidakara, Rabu 28 Januari 2015. - wapresri.go.id

Bisnis.com, JAKARTA - Meski kalangan bankir saat ini tidak semuanya dekat dengan almarhum Rachmat Saleh, mantan Gubernur BI ini dikenang Wapres Jusuf Kalla dengan cukup dalam.

Di mata Wapres JK, Rachmat Saleh, Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 1973-1983 adalah sosok visioner yang menanamkan kejujuran dan kerja keras.

Rachmat Saleh tidak hanya membangun sebuah bank, tetapi ia juga memikirkan siapa yang akan menjalankan bank dan menggunakan jasa perbankan. itu.

Pendapat tersebut disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada acara peluncuran buku “Rachmat Saleh Legacy Sang Legenda” di Hotel Bidakara, Rabu 28 Januari 2015, seperti ditulis di laman wapresri.go.id.

Wapres menuturkan, saat menjadi Gubernur BI  Rachmat Saleh tidak hanya mengelola uang beredar, tingkat inflasi, dan indikator perbankan lainnya. “Tetapi beliau memikirkan siapa yang menjalankan bank dan memakai bank itu” turut Wapres JK.

Wapres menggambarkan bahwa gedung dapat dengan mudah dibangun, sistem dapat disewa melalui jasa konsultan, tetapi yang penting adalah siapa yang menjadi SDM yang akan menjalankan suatu bank.

Melalui Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Rachmat Saleh membangun sumber daya manusia (SDM) BI. “Dan yang lebih penting lagi, siapa yang berlangganan bank-nya, kalau tidak pengusaha?” kata Wapres.

Wapres menjelaskan bagaimana seorang Rachmat Saleh membina pengusaha-pengusaha muda saat itu yang memiliki semangat dan berkembang, seperti Abdul Latief, Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie dan juga dirinya.

Pada tahun-tahun itu, kata Wapres JK, tanpa dukungan yang besar dari Bank Indonesia dan juga pemerintah tentu pengusaha-pengusaha muda ini tidak akan tumbuh. “

"Tidak punya aset-aset yang besar pada dewasa ini,” kata Wapres.

Saat itu perbankan menawarkan Kredit Investasi Kecil (KIK) dan Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP).

Wapres JK mengingatkan agar kalangan perbankan mencontoh apa yang telah dikerjakan Rachmat Saleh. Dalam membangun sebuah bank, Rachmat Saleh tidak hanya membina orang yang akan menjalan bank, tapi juga turut membina orang yang akan memerlukan bank itu sebaik-baiknya.

“Tanpa itu, maka saya yakin bank itu hanya menjadi bangunan yang tidak punya jiwa yang besar untuk bangsa ini,” ucap Wapres.

Wapres berharap buku “Rachmat Saleh Legacy Sang Legenda” dapat menjadi teladan, karena banyak yang mengatakan bahwa guru yang terbaik adalah pengalaman, dan pengalaman adalah guru yang terbaik.

Pengikut Setia Rachmat Saleh

Di awal sambutannya, Wapres mengakui bahwa dirinya adalah pengikut setia Rachmat Saleh untuk beberapa hal.

Tidak banyak yang mengetahui, kata Wapres, jika Rachmat Saleh pertama kali belajar tentang ekonomi di Makasar, di Fakultas Ekonomi Makasar, pada tahun 1948.

“Karena fakultas ekonomi yang pertama di Indonesia itu di Makasar, bukan di Jakarta. Karena pada waktu itu fakultas-fakultas dibagi-bagi di beberapa kota, ada yang di Jakarta, di Makasar,”kata Wapres.

Rachmat Saleh adalah mahasiswa pertama yang memulai kuliahnya pada tahun 1948. Wapres pun memulai kuliah yang sama di kampus yang sama 12 tahun kemudian.

“Di gedung yang sama, mungkin di kursi yang sama, saat Bapak di tempat belajar dulu,” ucap Wapres.

Wapres bercerita saat Rachmat Saleh menjadi Gubernur BI, selalu menjadi kebanggaan para dosen pada setiap acara.

“Alumni pertama di sini sekarang Gubernur Bank Indonesia. Pada waktu itu Bapak selalu dibanggakan di Makasar waktu itu,” kata Wapres.

Selepas menjabat Gubernur BI pada tahun 1983, Rachmat Saleh dipercaya oleh Presiden Suharto menjadi Menteri Perdaganan. “12 tahun kemudian lagi, pada tahun 2000, saya menjadi Menteri Perdagangan,” kata Wapres.

Dijelaskan Wapres, perberdaan usia antara dirinya dan Rachmat Saleh adalah 12 tahun. Jadi, kata Wapres, ia adalah pengikut setia Rachmat Saleh, karena setiap 12 tahun, dirinya mengikuti apa yang telah dijalankan oleh Rachmat Saleh, dari mulai usia, kuliah dan menjadi menteri.

“Sayangnya saya tidak sempat menjadi Gubernur Bank Indonesia,” seloroh Wapres saat itu.

Sumber : wapresri.go.id

Tag : Wapres JK, Rachmat Saleh
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top