Perpustakaan Pribadi Merepresentasikan Pemikiran Pemiliknya

Perpustakaan Prof Dr Nurcholish Madjid dengan koleksi sekitar 6.000 judul buku telah diresmikan di lantai dasar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta di Ciputat, Tangerang Selatan.
Nurudin Abdullah | 09 November 2017 01:59 WIB
Ilustrasi - Reuters/Mike Segar

Kabar24com, JAKARTA - Perpustakaan Prof Dr Nurcholish Madjid dengan koleksi sekitar 6.000 judul buku telah diresmikan di lantai dasar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta di Ciputat, Tangerang Selatan.

Koleksi buku pribadi almahum Nurcholish Madjid, yang populer dipanggil Cak Nur, mencapai 6.000 judul buku itu merepresentasikan luasnya pemikiran almarhum yang disebar ke ranah publik, di dalam dan luar negeri.

Azyumardi Azra, mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, mengatakan kepustakaan atau koleksi buku seseorang sesuai dengan kecenderungan intelektualitasnya.

“Dan koleksi buku Cak Nur adalah representasi dari kecenderungan pemikirannya. Falsafah, ilmu kalam, menghiasi pemikiran Cak Nur dan itu terlihat dari koleksi buku yang ia miliki,” katanya, Rabu (8/11/2017).

Dia dalam situs resmi UIN Jakarta mengatakan sebagian orang salah memahami sosok dan pemikiran Cak Nur, tetapi kemudian diplintir dengan dicap sebagai liberal.

Mereka yang menuduh Cak Nur dengan cap liberal dan sekuler, lanjutnya, karena tidak memahami siapa Cak Nur itu sesungguhnya.

Sebab, gagasan Cak Nur yang kontroversial selalu disalahpahami oleh orang-orang yang tidak mengerti konsep pemikiran Cak Nur tentang sekularisasi dan sekularisme.

Menurutnya, pemikiran Cak Nur tentang ‘sekularisasi yes, sekularisme no’ pastilah merupakan salah satu dari kerangka pemikirannya yang paling kontroversial, yang sampai sekarang pun masih digugat kalangan yang hostile (memusuhi) kepada Cak Nur.

Mereka memandang pemikiran Cak Nur ini sangat berbahaya, bukan hanya bagi Islam sebagai sebuah agama, tetapi juga mengancam masa depan Islam dan kaum Muslimin dalam politik kebangsaan-kenegaraan Indonesia.

“Padahal dengan konsep ‘sekularisasi’nya, Cak Nur justru ingin memurnikan tauhid dari hal-hal bersifat saeculum atau profane [keduniaan]; sehingga tidak terjerumus ke dalam kemusyrikan,” tegasnya.

Koleksi buku-buku itu semula menjadi penghuni perpustakaan pribadi almarhum Cak Nur di rumah pribadinya. Rumah berukuran 122 m2 di atas lahan seluas 600 m2 di kawasan Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, yang ditempati semasa hidup bersama istri dan dua anaknya.

Tag : perpustakaan, cak nur
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top