Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bung Karno: Proklamasi Memperingatkan Si Penjeleweng

Proklamasi 17 Agustus 1945. Proklamasi itu merupakan tjetusan tekad nasional, tjetusan daripada segala kekuatan nasional setjara total dan karena ketotalannya itulah maka kita bisa bertahan sampai sekarang dan, Insja Allah, djuga akan bertahan sampai ke achir zaman.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 15 Agustus 2017  |  07:54 WIB
Presiden Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. - wikipedia
Presiden Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. - wikipedia

Bisnis.com, JAKARTA -  Proklamasi 17 Agustus 1945.  Proklamasi itu merupakan tjetusan tekad nasional, tjetusan daripada segala kekuatan nasional setjara total dan karena ketotalannya itulah maka kita bisa bertahan sampai sekarang dan, Insja Allah, djuga akan bertahan sampai ke achir zaman.

Demikian isi pidato Presiden Soekarno yang disarikan dan dikutip dalam buku Panca Azimat Revolus: Re-So-Pim (Revolusi-Sosialisme Indonesia-Kepemimpinan Nasional. Buku ini berisi tulisan, risalah, pembelaan, dan Pidato Soekarno 1926-1966 Jilid II, yang disusun oleh Iwan Siswo  terbitan KPG.

Pernah, lebih dari lima belas tahun jang lalu, fihak Belanda berkata, bahwa Republik Indonesia tidak akan mengalami ia punja 17 Agustus jang kedua, karena akan hantjur, dengan sendirinya  akan berantakan disebabkan ia punja "innerlijke conflicten", tetapi kenjataannja ialah, bahwa Republik Indonesia berkata ia punja "ketotalan" itu, telah bertahan sampai sekarang mengalami ia punya 17 x 17 Agustus - 17 kali ia punya 17 Agustus yang keramat.

Dan sinar suryanja! Pada waktu kita berjalan, Proklamasi menundjukkan arahnja djalan. Pada waktu kita lelah, Proklamasi memberikan  tenaga baru kepada kita. Pada waktu kita berputus-asa, Proklamasi membangunkan lagi semangat kita. Pada waktu di antara kita ada jang njeleweng, Proklamasi memberikan alat kepada kita untuk memperingatkan si penjeleweng itu bahwa mereka telah njeleweng. Pada waktu kita menang, Proklamasi mengadjak kita untuk tetap berdjalan terus, oleh karena tudjuan-terachir memang belum tertjapai.

Bahagialah Rakjat Indonesia jang mempunyai Proklamasi itu: bahagialah ia, karena ia mempunjai pengajoman, dan di atas kepalanja ada sinar surya jang tjemerlang. Bahagialah ia, karena ia dengan adanja Proklamasi jang perkataan-perkataanja sederhana itu, tetapi jang pada hakekatnja ia pentjetusan daripada segala perasaan-perasaan jang dalam sedalam-dalamnja terbenam di dalam ia punja kalbu, sebenarja telah membukakan-keluar ia punja Pandangan Hidup, ia punja Tudjuan-Hidup. ia punja Falsafah Hidup, ia punja Rahasia-Hidup, sehingga selandjutnja, denga nadanja Proklamasi beserta anak kandungja jang berupa Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 itu, ia mempunjai Pegangan Hidup jang boleh dibatja dan direnungkan setiap djam dan setiap menit.

Tidak ada satu bangsa di dunia ini jang mempunyai Pandangan Hidup begitu djelas dan indah, seperti bangsa kita ini. Malah banjak bangsa di muka bumi ini, jang tak mempunjai pegangan hidup samasekali!.

Bagi orang jang benar-benar sadar kita punja 'proclamation' dan sadar kita punja 'declaration', maka Amanat Penderitaan Rakjat tidaklah chajalan atau abstrak. Bagi dia, Amanat Penderitaan Rakjat terlukis tjeto-welo-welo dalam Proklamasi dan Undang-Undang Dasar '45.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hut proklamasi kemerdekaan
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top