Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ajaran Kebencian Picu Maraknya Intoleransi di Indonesia

Ada kecenderungan sektarianisme dan intoleransi yang menguat belakangan ini ditandai dengan maraknya ajaran kebencian yang berpotensi merusak harmoni di masyarakat.
Nurudin Abdullah
Nurudin Abdullah - Bisnis.com 11 Juli 2017  |  17:53 WIB
Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta - JIBI/Nurudin Abdullah
Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta - JIBI/Nurudin Abdullah

Bisnis.com, JAKARTA - Ada kecenderungan sektarianisme dan intoleransi yang menguat belakangan ini ditandai dengan maraknya ajaran kebencian yang berpotensi merusak harmoni di masyarakat.

Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Dede Rosyada mengatakan kecenderungan itu bertolakbelakang dengan karakter bangsa Indonesia yang relatif terbuka dan menerima setiap bentuk perbedaan.

“Untuk itu perguruan tinggi dan masyarakat akademik tidak bisa berdiam diri menghadapi kecenderungan yang demikian,” katanya usai konferensi internasional bertema Beyond Coexsistence in Plural Societes di UIN Jakarta, Selasa (11/7/2017).

Menurutnya, masyarakat akademik perlu berkontribusi dalam menangkal sektarianisme dan intoleransi sekaligus merawat sikap penghargaan.

Dia menjelaskan UIN Jakarta sebagai perguruan tinggi Islam berusaha menampilkan diri sebagai kampus Islam modern yang bersikap terbuka.

Sebagai contoh, lanjutnya, ada kelas di UIN Jakarta yang mahasiswanya beragama Khonghucu.  Bahkan, ada Romo Katolik yang kuliah dan menamatkan doktoralnya di sini.

Konferensi internasional itu diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M) UIN Jakarta bekerja sama dengan Contending Modernities Working Group on Indonesia University of Notre Dame Australia.

Ketua LP2M UIN Jakarta, Arskal Salim, mengatakan Indonesia menjadi rumah bagi sekitar 200 juta Muslim yang hidup berdampingan secara damai dengan para penganut Kristen dan agama-agama lainnya.

“Keragamaan keagamaan yang relatif stabil dan terjaga menjadi modal penting tumbuhnya Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan Amerika Serikat,” katanya.

Adapun panelis yang hadir antara lain Scott Appleby, Mun’im Sirry, dan Ibrahim Moosa dari University of Notre Dame serta Robert W. Hefner dari Boston University, James B. Hoesterey dari Emory University, Eckhard Zemmirch dari Humboldt-Universitat, dan Muhamad Ali dari University of California.

Sedangkan panelis dari dalam negeri adalah Azyumardi Azra dan Arskal Salim dari UIN Jakarta, Zaenal Abidin Bagir dari Universitas Gadjah Mada, Ihsan Ali Fauzi dari PUSAD Paramadina, Elga Sarapung dari Dian-Interfidei Yogyakarta, Bagus Laksana dari Universitas Sanata Dharma, dan Dadi Darmadi dari PPIM UIN Jakarta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

intoleransi UIN Jakarta
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top