Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Radikal? JK Beberkan Karakter Muslim Indonesia di Tokyo

Wakil Presiden Jusuf Kalla kembali menegaskan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah pemeluk agama Islam atau Muslim, tetapi bukan kelompok radikal atau ekstrem yang akhir-akhir mengganggu keamanan dunia melalui aksi-aksi terorisme.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 05 Juni 2017  |  16:29 WIB
Buku agama berisi ajaran radikalisme - Antara
Buku agama berisi ajaran radikalisme - Antara

Bisnis.com, TOKYO -  Wakil Presiden Jusuf Kalla kembali menegaskan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah pemeluk agama Islam atau Muslim, tetapi bukan kelompok radikal atau ekstrem yang akhir-akhir mengganggu keamanan dunia melalui aksi-aksi terorisme.

"Soal ekstremisme dan radikalisme masih pertanyaannya seperti biasa, apa dan di mana, tapi tidak ada menjawabnya tentang kenapa, padahal radikalisme selalu terjadi di negara yang gagal, Afghanistan ada Taliban, Irak dan Suriah ada ISIS, kemudian karena tindakan semena-mena negara-negara besar kepada negara-negara itu, timbullah kemarahan, hilang harapan, nah timbullah radikal," kata Wapres di Hotel Imperial Tokyo, Jepang, Senin (5/6/2017).

Wapres menyampaikan hal itu dalam pidatonya di forum Nikkei "Konferensi Internasional Ke-23: Masa Depan Asia" yang mengambil tema "Globalisme di Persimpangan: Langkah Asia selanjutnya.

Sementara di Indonesia, Wapres mengatakan Indonesia bukan negara gagal dan Pemerintah tidak akan membiarkan paham-paham radikal dan ekstrem menyebar luas.

"Bahwa ada orang-orang yang berpikir tentang khalifah memang ada, tapi perkembangannya tidak sebesar yang dibayangkan, dan belajar dari itu, pemerintah menanggapinya dengan serius," kata dia.

Proteksi Selain terkait isu radikalisme dan ekstremisme, Wapres juga mengangkat kesempatan yang perlu diambil Asia di tengah maraknya proteksionisme yang dimulai dengan "American First" oleh Presiden AS Donald Trump dan "Brexit" oleh Inggris yang keluar dari Uni Eropa (UE).

"Kalau Anda masuk ke toko-toko di Amerika, departement store itu boleh bilang 80 persen buatan China, kita juga ada, buatan Asialah, jadi apakah mungkin bersaing dengan Asia? Susah sekali karena yang pertama kali kena orang Amerika, daya belinya menurun," kata dia.

Oleh karena itu, Wapres kembali menyampaikan komitmen Indonesia pada globalisasi dan pentingnya Asia untuk terus maju pada perdagangan bebas dan adil.

Usai menyampaikan pidato di hadapan sekitar 100 peserta dalam forum Nikkei, Wapres melakukan sesi tanya jawab yang dipandu editor senior Nikkei Jepang.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

radikal jusuf kalla

Sumber : ANTARA

Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top