Stabilkan Harga, Pemkab Tegal Kurangi Pasokan Telur Tetas

Menjaga harga telur dan daging tetap stabil, Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Tegal mengurangi setting telur tetas (hatcing eggs) dari perusahaan pembibitan PT Charoen Pokphand Jaya Farm (PT CPJF)
Lingga Sukatma Wiangga | 18 April 2017 13:05 WIB
Penjual melayani pembeli telur - Antara

Kabar24.com, SEMARANG—Menjaga harga telur dan daging tetap stabil, Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Tegal mengurangi setting telur tetas (hatcing eggs) dari perusahaan pembibitan PT Charoen Pokphand Jaya Farm (PT CPJF). 

 

Kepala DKPP Kabupaten Tegal Toto Subandriyo mengatakan sudah beberapa bulan harga telur ayam dan daging ayam di tingkat peternak terpuruk. Harga telur ayam sempat mencapai titik terendah Rp13.800 per kg. Harga itu jauh dari titik impas (break even point) yaitu Rp16.500-Rp17.000 per kg. 

 

“Harga  jual ayam di kandang juga anjlok hingga mencapai Rp8.000 per kg, jauh di bawah biaya pokok produksi (BPP) peternak rakyat di kisaran Rp18.500 per kg,” ujar Toto, dikutip dari laman resmi Pemprov Jateng, Selasa (18/4).

 

Menurutnya, permasalahan sistemik yang melingkupi industri peternakan unggas rakyat, utamanya peternakan ayam pedaging dan ayam petelur berpangkal dari melimpahnya produksi. 

 

Di satu sisi, melimpahnya produksi ini merupakan sebuah keberhasilan dalam produksi telur dan daging ayam. Namun di sisi lain akan mengancam kelangsungan usaha peternakan rakyat karena harga jual komoditas tersebut anjlok.

 

“Selain dipicu melemahnya permintaan masyarakat, penurunan harga telur dan daging ayam disinyalir juga disebabkan banyaknya telur ayam siap tetas (breeding) di pasaran umum. Telur jenis ini diproduksi oleh industri perusahaan integrator yang sebetulnya hanya untuk memasok ayam umur sehari (DOC), bukan untuk dijual dan dikonsumsi langsung masyarakat,” jelasnya

 

Menurut Toto, berdasarkan analisa Tim Analisis dan Tim Asistensi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian akhir Maret 2017 lalu, secara nasional potensi produksi DOC Final Stock (FS) Broiler mencapai rata-rata 63 juta ekor/minggu. 

 

Jumlah itu dinilai terlalu besar dan sangat potensial menurunkan harga live bird broiler di bawah BPP. Untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan perlu dilakukan pengurangan produksi DOC FS Broiler sebanyak 5 juta ekor/minggu atau 8% dari total produksi secara nasional.

 

Upaya tersebut sudah mulai membawa hasil dengan terjadinya peningkatan harga jual telur dan daging ayam di tingkat peternak. 

 

"Menurut prediksi kami harga akan kembali normal seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang datangnya Ramadhan,” imbuhnya.

Tag : telur, tegal
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top