Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Nasib Yunani Diujung Tanduk

Tidak pernah terbayangkan oleh Dimitra (73 tahun) jika hidupnya hanya mengandalkan sedikit beras, dua kantong pasta, satu paket buncis, sedikit kurma dan sedikit susu selama satu bulan.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 21 Februari 2017  |  19:19 WIB
Nasib Yunani Diujung Tanduk
Krisis Yunani. - Reuters

Kabar24.com, ATHENA-- Tidak pernah terbayangkan oleh Dimitra (73 tahun) jika hidupnya hanya mengandalkan sedikit beras, dua kantong pasta, satu paket buncis, sedikit kurma dan sedikit susu selama satu bulan.

Dia adalah salah seorang warga Yunani yang terkena imbas krisis finansial.

Dimitra seorang yang seorang pensiunan ini menolak menyebutkan nama belakangnya. Masih ada stigma untuk tidak para penerima sedekah di Yunani.

“Tidak pernah terbayang dalam fikiran saya. Saya hidup sangat hemat. Saya tidak pernah liburan. Tidak, tidak, tidak,” katanya.

Tujuh tahun yang lalu Yunani dinyatakan bangkrut. Kemiskinan semakin parah.

Tidak ada negara yang mengalami kemiskinan di Eropa seperti yang dialami Yunani.

Per bulan pemasukan Dimitra sekitar $350 atau Rp 4.673.900 (kurs Rp 13.354). Lebih dari setengahnya harus ia gunakan untuk menyewa apartemen kecil di Athena. Sisanya ia gunakan untuk membayar tagihan.

Krisis finansial global memaksa Uero menjadi pemberi pinjaman internasional.

Irlandia, Portugal dan Siprus terselamatkan dan saat ini ekonomi mereka kembali berkembang, namun tidak dengan Yunani yang menjadi negara Eropa pertama dinyatakan bangkrut.

European Union (UE) dan International Monetary Fund (IMF) menyelamatkan Yunani dari kebangkrutan. Tapi, kebijakan penghematan dan reformasi kebijakan pinjaman dari dua lembaga tersebut membuat kondisi Yunani dari resesi menjadi depresi.

Perdana Menteri Alexis Tsipras, telah mencoba bernegoisasi dengan para kreditur untuk mendapat bantuan agar bisa memperbaiki nasib Yunani.

Namun, sebagian besar jumlah pinjaman itu hanya untuk menutup hutang lama, terlepas dari siapa yang harus disalahkan atas krisis negara itu.

Data statistik yang menunjukkan krisis dan kemiskinan yang melanda Yunani semakin jelas tatkala puluhan masyarakat miskin dengan penghasilan 370 euro sebulan mengantri untuk mendapatkan makanan.

Angka atas bank makanan [food bank] menunjukkan kecenderungan serupa pada skala lokal untuk data Eurostat yang lebih luas dimana sekitar 11 ribu keluarga atau 26 ribu orang terdaftar di sana. Meningkat dari yang hanya 2.500 pada 2012 dan 6000 pada 2014 dan sekitar 5 ribu dari jumlah tersebut adalah anak-anak.

Yunani bukan negara termiskin di Eropa. Romania dan Bulgaria dua negara termiskin di Eropa. Namun, Yunani tidak jauh meninggalkan keduanya. Berdasarkan stastik Uerostat, Yunani memiliki 22 persen populasi sangat miskin.

Pacu Ketidakpastian Global

Sementara itu, dibagian negara yang lain tepatnya di Indonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan jika krisis Yunani memicu ketidakpastian global.

Ketidakpastian kondisi global masih akan membayangi ekonomi dunia, termasuk Indonesia pada tahun ini. Tak hanya kondisi ekonomi Yunani, rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) dan arah kebijakan AS.

Sebab saat ini rasio hutang Yunani mendekati 200% dari produk domestik brutonya (PDB). Tak hanya itu, defisit anggaran negara itu juga telah mencapai 4,2% dari PDB.

Hal ini tentu akan menjadi topik pembicaraan di tingkat global dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Kondisi tersebut juga akan menjadi lebih rumit lantaran Jerman, Perancis, dan Belanda yang selama ini menjadi penyelamat Yunani, tengah menghadapi masa-masa pemilihan umum (pemilu).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Utang Yunani krisis yunani
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top