Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AFGANISTAN: Budidaya Opium Melonjak, Taliban Raup Untung

Budidaya opium di Afghanistan, sumber utama dari heroin di dunia, meningkat menjadi tertinggi ketiga dalam tempo lebih dari 20 tahun, demikian konfirmasi dari PBB pada Minggu, dan pemberontak Taliban meraup keuntungan.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 23 Oktober 2016  |  13:12 WIB
Budidaya  opium  di Afghanistan, sumber utama dari heroin di dunia,  meningkat menjadi tertinggi ketiga dalam tempo  lebih dari 20 tahun, demikian konfirmasi dari PBB  pada  Minggu (23/10/2016), dan pemberontak Taliban meraup keuntungan. - REUTERS
Budidaya opium di Afghanistan, sumber utama dari heroin di dunia, meningkat menjadi tertinggi ketiga dalam tempo lebih dari 20 tahun, demikian konfirmasi dari PBB pada Minggu (23/10/2016), dan pemberontak Taliban meraup keuntungan. - REUTERS

Bisnis.com, VIENNA - Budidaya  opium  di Afghanistan, sumber utama dari heroin di dunia,  meningkat menjadi tertinggi ketiga dalam tempo  lebih dari 20 tahun, demikian konfirmasi dari PBB  pada  Minggu, dan pemberontak Taliban meraup keuntungan.

Dalam  survei opium tahunan Afghanistan, Kantor PBB  untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) mengatakan total luas lahan  budidaya opium  meningkat 10%  pada  2016 menjadi 201.000 hektar (497.000 are).

"Survei ini menunjukkan pembalikan yang mengkhawatirkan dalam upaya untuk memerangi masalah  obat-obatan terlarang dan dampaknya terhadap pembangunan, kesehatan dan keamanan," kata Direktur Eksekutif UNODC Yury Fedotov dalam sebuah pernyataan.

Pelonggaran pemberantasan oleh pemerintah mengenai keamanan di banyak daerah dengan metode yang diperjuangkan oleh Amerika Serikat setelah memimpin invasi Afghanistan pada  2001 ketika negara itu di bawah kekuasaan Taliban, memberikan kontribusi terhadap runtuhnya upaya pemberantasan opium.

"Pemberantasan  menurun drastis  menjadi 355 hektar -  turun 91%," kata Fedotov. Laporan itu mengatakan budidaya juga menyebar ke daerah baru, meskipun  jumlah provinsi  turun ke 13 dari 14 dari total 34.

Laporan itu dikonfirmasi oleh pernyataan Fedotov awal bulan ini bahwa daerah  budidaya pada  2016 telah melebihi 200.000 hektar,  dalam tiga tahun ini  sejak UNODC mulai memberikan perkiraan pada  1994.

Pernyataan Fedotov pada 4 Oktober itu dibuat di sebuah konferensi di Brussels di mana kekuatan dunia mengumpulkan US$15 miliar dana selama empat tahun ke depan.

"Kenaikan yang kuat (dalam budidaya) yang diamati di wilayah utara dan di provinsi Badghis di mana situasi keamanan telah memburuk sejak 2015," kata UNODC. Wilayah barat, yang meliputi Badghis, memiliki daerah terbesar kedua dalam budidaya setelah wilayah selatan.

Temuan kunci dirilis pada  Minggu mengatakan ada juga terjadi peningkatan 30%  dalam estimasi hasil dari ladang opium tahun ini, membawa potensi produksi naik  43 persen lebih dari  2015.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

afganistan Opium

Sumber : REUTERS

Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top