Tingkat Gangguan Mental Penduduk di Yogyakarta Tinggi

Prevalensi atau tingkat gangguan mental penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta tergolong tinggi terutama untuk gangguan mental berat 2,7 per 1000 penduduk atau setiap seribu jiwa penduduk DIY tiga diantaranya gangguan mental berat.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 07 Oktober 2016  |  15:42 WIB
Tingkat Gangguan Mental Penduduk di Yogyakarta Tinggi
mental - www.abc.au

Bisnis.com, YOGYAKARTA - Prevalensi atau tingkat gangguan mental penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta tergolong tinggi terutama untuk gangguan mental berat 2,7 per 1000 penduduk atau setiap seribu jiwa penduduk DIY tiga diantaranya gangguan mental berat.

"Kondisi ini memperlihatkan bahwa wilayah DIY memerlukan upaya penanganan pasien dengan gangguan mental secara komperehensif," ucap dosen Kolej Sastera dan Sains Universiti Utara Malaysia, Azlizamani Zubir saat ditemui di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jumat (7/10/2016).

Ia mengatakan, angka DIY itu lebih tinggi dari prevalensi gangguan mental nasional sebesar 1,7 per 1000 penduduk.

Bahkan, katanya, data profil kesehatan DIY tahun 2012 menunjukkan bahwa gangguan mental termasuk dalam sepuluh besar kasus penyakit yang didiagnosis pada pasien rawat jalan Puskesmas.

Ia menuturkan, untuk mendukung pemulihan pasien gangguan mental diperlukan pengobatan medis yang tepat, hanya saja saat ini belum seluruh penderita memperoleh layanan tersebut.

Bahkan masih saja dijumpai di masyarakat fenomena pemasungan pasien oleh keluarga. Sementara di sisi lain jumlah fasilitas maupun tenaga medis untuk penaganan penderita gangguan mental masih terbatas. Ditambah lagi dengan adanya stigma negatif masyarakat, semakin membuat penderita tidak tertangani dengan baik, papar dia.

Menurutnya, niat keluarga untuk mencari pertolongan bagi anggota keluarga yang mengalami gangguan mental merupakan hal yang patut diperhatikan.

Sebab, dengan peran keluarga sejak dini dalam mencari pertolongan untuk pengobatan medis, diharapkan dapat menjadi langkah penanganan gangguan mental di DIY secara lebih komperehensif.

Lebih jauh, lanjut Zubir, anggota keluarga yang rentan mengalami gangguan mental menunjukkan bahwa keyakinan terhadap penyebab gangguan mental dapat memengaruhi niat pencarian pertolongan pada psikiater atau pada ahli pengobatan non-medis.

Ia mengatakan, bahwa keyakinan yang berbeda pada penyebab gangguan mental akan memberikan dampak yang berbeda terhadap niat mencari pertolongan.

Misalnya, ketika gangguan mental diyakini sebagai bagian dari penyakit medis maka niat pencarian pertolongan lebih mengarah ke psikiater, namun saat gangguan mental diyakini sebagai suatu gangguan dari hal-hal gaib, maka niat mencari pertolongan ditujukan pada dukun ataupun kiai.

Rata-rata niat pencarian pertolongan tertinggi ke psikiater, lalu diikuti kiai dan dukun, katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
yogyakarta, sakit jiwa

Sumber : ANTARA

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top