Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kematian Terduga Teroris Diduga Langgar HAM, Kapolri: Anggota Kami Pun Babak Belur

Kapolri telah memerintahkan Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri untuk memeriksa dugaan pelanggaran HAM kematian terduga teroris Siyono ketika digeladang Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 28 Maret 2016  |  14:08 WIB
Kematian Terduga Teroris Diduga Langgar HAM, Kapolri: Anggota Kami Pun Babak Belur
Terduga teroris ditangkap di Solo - Antara/Maulana Surya

Kabar24.com, JAKARTA -- Kapolri Jenderal Pol. Badrodin Haiti mengaku telah memerintahkan Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri untuk memeriksa dugaan pelanggaran HAM kematian terduga teroris Siyono ketika digeladang Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri.

"Saya sudah minta Propam periksa," katanya di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta Selatan, Senin (28/3/2016).

Menurut dia tak menutup kemungkinan  akan berkoordinasi dengan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS)untuk mengetahui di mana terjadinya pelanggaran HAM.

Namun, kata Badrodin, anggota Densus pun ketika itu babak belur dihajar Siyono.

"Anggota kami itu babak belur, apa dibiarkan lari [terduga teroris]," imbuh Badrodin.

Soal temuan KontraS, polisi meminta keluarga Siyono tidak menuntut kematian anggota keluarganya, Badrodin mengatakan hal tersebut tidaklah melanggar hukum.

"Apakah itu pelanggaran hukum? kecuali dibungkam mulutnya dijahit itu melanggar hukum," katanya.

Seperti diketahui belum lama ini Kontras merilis hasil investigasi kematian Siyono.

Dalam investigasinya, Kontras menemukan antara lain ketika Siyono ditangkap polisi tidak menginformasikan ke keluarga, tak ada rekam medik yang menunjukan Siyono sempat mendapat perawatan atas luka-lukanya sebelum meninggal dunia.

Setelah meninggal, keluarga Siyono diminta menandatangani surat pernyataan keluarga mengikhlaskan kematian Siyono dan tidak menuntut.

Kontras berpendapat luka di sekujur tubuh Siyono menunjukan indikasi penyiksaan dan sulit mempercayai luka disebabkan reaksi spontan seorang anggota polisi.

Upaya Polri meminta keluarga korban untuk tidak menuntut merupakan bentuk intimidasi dan pelanggaran HAM.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

teroris badrodin haiti
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top