Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Tudingan Skandal Lobi: Hikmahanto Kupas 3 Kelemahan Kesimpulan Michael Buehler. Ini Penjelasannya

Artikel yang berjudul Waiting in the White House Lobby yang didasarkan pada dokumen Services Agreement antara Pareira International Pte Ltd dan R&R Partners banyak yang tidak tepat informasi. Informasi yang disampaikan digabung dengan ilmu mencocokkan.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 08 November 2015  |  23:33 WIB
Tudingan Skandal Lobi: Hikmahanto Kupas 3 Kelemahan Kesimpulan Michael Buehler. Ini Penjelasannya
Presiden Amerika Serikat Barack Obama (kanan) dan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (kedua kanan) memberikan pernyataan kepada wartawan setelah pertemuan di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, Senin (26/10). - Antara
Bagikan

Kabar24.com, JAKARTA -- Isu adanya lobi untuk memuluskan pertemuan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dengan Presiden Joko Widodo ditanggapi Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana. 

Hikmahanto menilai, artikel berjudul Waiting in the White House Lobby yang ditulis Michael Buehler tidak tepat informasi.

"Artikel yang berjudul Waiting in the White House Lobby yang didasarkan pada dokumen Services Agreement antara Pareira International Pte Ltd dan R&R Partners banyak yang tidak tepat informasi. Informasi yang disampaikan digabung dengan ilmu mencocokkan," ujar Hikmahanto Juwana dalam keterangan tertulis, diterima Minggu (8/11/2015).

Pertama, lanjut dia, dalam dokumen itu tidak ada satu kata pun yang merujuk pada Pemerintah Indonesia.

Kedua, dokumen tersebut tidak menyebut bagaimana hubungan antara Pareira International Pte Ltd dengan Pemerintah Indonesia, namun Michael Buehler menyimpulkan bahwa dokumen ini seolah atas permintaan Pemerintah Indonesia.

"Padahal bisa saja Pareira International Pte Ltd disewa oleh pebisnis Indonesia," kata dia lagi.

Ketiga, rujukan terkait ruang lingkup kerja dari lobbyist (yang disebut dalam perjanjian sebagai konsultan) tidak merujuk pada pertemuan Presiden RI dengan Presiden AS.

Ia menjelaskan, dalam ruang lingkup perjanjian ada tiga hal, yaitu mengatur pertemuan dengan para pejabat baik di legislatif maupun pemerintah. Kedua, menyampaikan isu-isu saat legislatif dan pemerintah (joint sessions) bertemu. Ketiga, mengidentifikasi dan bekerja dengan tokoh berpengaruh di AS.

"Ruang lingkup pekerjaan ini seolah berkaitan dengan kunjungan Presiden Jokowi ke AS," katanya.

Ia mengatakan kemungkinan Michael Buehler merangkai artikelnya antara Services Agreement dengan informasi yang didapat dari berbagai pihak dari Indonesia.

Atas dasar ini, argumentasi yang hendak disampaikan adalah Presiden Jokowi tidak memegang kendali terhadap pemerintahan.

"Padahal apa yang disampaikan oleh Michael banyak spekulasinya dan bertentangan dengan norma diplomasi antarnegara," ujar dia.

Pertama, untuk kunjungan antarkepala pemerintahan dan kepala negara tidak dikenal broker untuk mempertemukan. Semua diatur melalui chanel-chanel diplomatik dan pemerintahan.

"Kedua, cerita tentang ketidakharmonisan antara Menkopolhukam dan Menlu tidak didasarkan pada analisis ilmiah melainkan gosip-gosip politik yang mungkin didapat oleh Michael dari media dan teman-temannya di Indonesia," katanya lagi.

Ketiga, adalah prematur bila Michael mengaitkan Pareira seorang warga negara Singapura yang mempunyai koneksi dengan para pejabat di Indonesia bahwa Pareira disewa oleh Pemerintah Indonesia.

Karena bila melihat Services Agreement, tidak ada rujukan kata Pemerintah Indonesia.

Untuk itu pemerintah Indonesia melalui Kedubes Indonesia di Inggris dapat meminta klarifikasi dari Michael.

"Klarifikasi ini bisa diminta melalui universitas di mana Michael bekerja. Ini perlu dilakukan karena dapat mempengaruhi kredibilitas universitas tersebut, meski Michael mempunyai kebebasan akademik," ujar Hikmahanto pula.

Seperti diberitakan sebelumnya, muncul tudingan adanya upaya lobi dari pihak tertentu sebelum Presiden RI Joko Widodo bisa bertemu dengan Presiden AS Barack Obama di Gedung Putih.

Dikabarkan bahwa sebuah perusahaan konsultan Singapura telah membayar US$80.000 atau setara Rp1 miliar kepada sebuah firma pelobi asal Las Vegas untuk membantu Presiden Joko Widodo mendapatkan akses ke Gedung Putih, dalam muhibah Presiden RI ke Amerika Serikat, akhir Oktober lalu.

Hal itu diungkapkan Dr. Michael Buehler, dosen Ilmu Politik Asia Tenggara pada School of Oriental and African Studies di London. Buehler mengungkapkan hal tersebut melalui artikelnya yang dipublikasikan di situs New Mandala, http://asiapacific.anu.edu.au, pada Jumat (6/11).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

skandal diplomasi OBAMA-JOKOWI

Sumber : Antara

Editor : Saeno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top