Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Transaksi Pengadaan Barang Jasa via E-Catalog Hanya Rp15 Triliun per Juli 2015

Transaksi pengadaan barang dan jasa pemerintah melalui katalog elektronik per Juli 2015 mencapai Rp15 triliun atau setara nilai transaksi e-catalog setahun penuh pada 2014.
Lavinda
Lavinda - Bisnis.com 06 Agustus 2015  |  16:35 WIB
Transaksi Pengadaan Barang Jasa via E-Catalog Hanya Rp15 Triliun per Juli 2015
Kepala LKPP Agus Prabowo, (kanan) - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Transaksi pengadaan barang dan jasa pemerintah melalui katalog elektronik per Juli 2015 mencapai Rp15 triliun atau setara nilai transaksi e-catalog setahun penuh pada 2014.

“LKPP membangun e-catalog sudah ada 40.000 brang yang bisa dibeli langsung tanpa tender dengan nilai transaksi sampai Juli 2015 Rp15 triliun,”sebut Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) Agus Prabowo, Kamis(6/8/2015).

Kendati demikian, total transaksi tujuh bulan pertama itu jauh lebih sedikit dibandingkan pagu belanja modal yang tersedia pada 2015.

Sarah Sadiqa, Deputi Bidang monitoring evaluasi Dan pengembangan sistem informasi LKPP mengatakan, masih ada 179 paket pengadaan barang dan jasa dengan nilai transaksi mencapai Rp100 triliun yang belum terbeli oleh pemerintah pada tahun ini.

Untuk itu, dia mengimbau kementerian dan pemerintah daerah untuk segera merealisasikan pengadaan barang dan jasa yang dibutuhkan.

“Kami juga mengundang pengusaha untuk ikut serta dalam e-catalog karena ini mekanisme yang menjanjikan,”tambahnya.

Dengan berbagai upaya tersebut, dia optimis lembaganya akan mampu mengembangkan mekanisme e-catalog dan menghasilkan volume transaksi yang lebih besar dibanding saat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lkpp
Editor : Martin Sihombing

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top