Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Eksekusi Mati Mary Jane Ditunda, JK Iyakan Ada Lobi

Wakil Presiden Jusuf Kalla tak membantah penundaan eksekusi terpidana mati asal Filipina Mary Jane Fiesta Veloso terjadi karena adanya lobi politik antara pemerintah kedua negara.
Lavinda
Lavinda - Bisnis.com 30 April 2015  |  00:44 WIB
Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno (kiri) dan Mendagri Tjahjo Kumolo (tengah) menundukkan kepala di depan Wakil Presiden Jusuf Kalla, menjelang dimulainya rapat terbatas kabinet, di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (18/3/2015). - Antara/Andika Wahyu
Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno (kiri) dan Mendagri Tjahjo Kumolo (tengah) menundukkan kepala di depan Wakil Presiden Jusuf Kalla, menjelang dimulainya rapat terbatas kabinet, di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (18/3/2015). - Antara/Andika Wahyu

Bisnis.com, JAKARTA—Wakil Presiden Jusuf Kalla tak membantah penundaan eksekusi terpidana mati asal Filipina Mary Jane Fiesta Veloso terjadi karena adanya lobi politik antara pemerintah kedua negara.

Kalla menilai lobi politik antara dua negara biasa terjadi, meski dalam persoalan eksekusi terpidana kasus narkotika dan obat-obatan terlarang itu tetap mempertimbangkan aturan hukum secara baik.

“Ya tentu itu. Lobi politik itu biasa saja dalam suatu hubungan kenegaraan. Masalahnya kita ingin meletakkan hukum secara baik,”ujarnya, Selasa(29/4/2015).

Menurut dia, pelaksanaan hukuman membutuhkan suatu kelengkapan kebijakan. Dalam pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Filipina Beniqno Aquino, disimpulkan bahwa Mary Jane hanya korban mafia sindikat Narkoba.

Sedangkan otak pelaku pengedaran Narkoba yang sesungguhnya sudah tertangkap. Pemerintah Indonesia juga meminta pemerintah Filipina bertindak keras terhadap sindikat pengedar.

“Namun demikian tentu ini menunda, tidak membatalkan,”tegasnya.

Pelaksanaan eksekusi mati Mary Jane yang seharusnya berlangsung pada Selasa dinihari (29/4/2015) ditunda. Terpidana mati itu dibawa kembali ke Lapas Wirogunan, Yogyakarta.

Mary Jane adalah terpidana kasus penyelundupan 2,6 kilogram heroin di Jogjakarta pada 2010. Dia disebut-disebut akan dieksekusi karena berbagai upaya hukumnya gagal dan grasinya telah ditolak oleh Presiden Joko Widodo.

Namun, di hari eksekusi, perekrut Mary Jane bernama Kristin Sergio menyerahkan diri ke Kepolisian Filipina. Dengan begitu, pemerintah Filipina meminta eksekusi Mary Jane ditunda hingga masalah hukum yang menjeratnya ditangani hingga tuntas.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Eksekusi Mati
Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top