Brutal, Polisi Myanmar Gebuki Biksu, Wartawan & Tangkap 100 Orang

Polisi Myanmar memukuli pelajar, biksu dan wartawan dengan pentungan serta menahan sekitar 100 orang pada Selasa, saat membubarkan pengunjuk rasa, yang menuntut kebebasan akademik dan lebih dari sepekan terlibat ketegangan dengan pasukan keamanan, kata saksi.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 10 Maret 2015  |  21:04 WIB
Brutal, Polisi Myanmar Gebuki Biksu, Wartawan & Tangkap 100 Orang
Kebrutalan polisi Myanmar dalam membubarkan aksi unjuk rasa terjadi pada Selasa (10/3/2015). Sekitar 100 pengunjuk rasa diangkut dengan dua truk polisi, sedangkan pengunjuk rasa lain melarikan diri dari kota itu dan beberapa di antaranya dikejar hingga ke dalam kuil Budha. - Reuters

Bisnis.com, MYANMAR - Polisi Myanmar memukuli pelajar, biksu dan wartawan dengan pentungan serta menahan sekitar 100 orang pada Selasa (10/3/2015), saat membubarkan pengunjuk rasa, yang menuntut kebebasan akademik dan lebih dari sepekan terlibat ketegangan dengan pasukan keamanan, kata saksi.

Sekitar 200 mahasiswa dan pendukungnya berunjuk rasa menentang undang-undang pendidikan, yang mereka nilai menghambat kebebasan akademik.

Mereka berencana berjalan kaki dari kota Mandalay ke kota perdagangan Yangon, tetapi dicegat polisi di Letpadan, sekitar 140 kilometer utara Yangon.

Polisi, yang saling tembak ketapel dengan pengunjuk rasa, sebelumnya mengatakan akan mengizinkan mahasiswa melanjutkan jalan kaki pada Selasa, tetapi perjanjian itu batal.

Yangon adalah tempat sejumlah unjuk rasa mahasiswa, termasuk pada 1988, yang memantik gerakan pendukung demokrasi, yang kemudian meluas ke seluruh negeri sebelum dilancarkannya pembubaran paksa oleh pemerintahan militer.

Pemerintah semisipil reformis mulai berkuasa sejak 2011, setelah 49 tahun negara itu berada di bawah pemerintahan militer dan tanggapan atas unjuk rasa baru-baru ini semakin diredam.

Saksi mengatakan sekitar 100 pengunjuk rasa diangkut dengan dua truk polisi, sementara pengunjuk rasa lain melarikan diri dari kota itu dan beberapa di antaranya dikejar hingga ke dalam kuil Budha.

Utusan Uni Eropa yang melatih polisi dalam manajemen massa mengecam tindakan pembubaran itu dan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka "sangat menyesalkan penggunaan kekuatan melawan unjuk rasa damai".

Dewan Pers sementara Myanmar mengatakan telah mengajukan aduan, memrotes keras penahanan wartawan dan meminta mereka dibebaskan, tanpa menyebut jumlah wartawan ditahan.

Polisi dan jurubicara pemerintah tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentarnya.

Kementerian Penerangan mengunggah foto-foto dalam Facebook-nya, yang menunjukkan mahasiswa pengunjuk rasa membongkar barikade polisi, dan menekankan bahwa pengunjuk rasa menyingkirkan barikade itu "dengan paksa".

Pemimpin mahasiswa menolak tudingan bahwa mereka telah memicu aksi kekerasan.

"Hati saya terluka ketika mereka melakukan ini terhadap kami para mahasiswa, namun kami pasti tidak akan pernah menggunakan kekerasan," kata Lin Htet Naing dari Federasi Serikat Mahasiswa Burma.

Istri Lin Htet Naing yang juga seorang bekas tahanan politik dari rejim militer sebelumnya, merupakan salah satu yang ditahan di Letpadan saat Lin memimpin unjuk rasa singkat di Yangon pada Selasa.

Sekitar 100 pengunjuk rasa di Yangon berhadapan dengan sejumlah besar polisi yang menarik seorang pendemo dan memukulinya.

Polisi mengatakan mereka akan membebaskannya jika para pengunjuk rasa membubarkan diri dan mereka memenuhi permintaan itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
myanmar, demonstran

Sumber : Antara

Editor : Yusuf Waluyo Jati
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top