Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pejabat AS dan Kuba Adakan Pembicaraan Pertama

Pejabat Amerika Serikat dan Kuba mengklaim hari pertama pembicaraan bersejarah kedua negara tersebut berjalan dengan baik meskipun perbedaan pendapat atas kebijakan imigrasi menjelang negosiasi untuk mengembalikan hubungan diplomatik, pada hari Rabu (21/1/2015).
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 22 Januari 2015  |  15:37 WIB
Pejabat Amerika Serikat dan Kuba mengklaim  hari pertama pembicaraan bersejarah kedua negara tersebut di Havana, Rabu (21/1/2015), berjalan dengan baik - huffingtonpost.com
Pejabat Amerika Serikat dan Kuba mengklaim hari pertama pembicaraan bersejarah kedua negara tersebut di Havana, Rabu (21/1/2015), berjalan dengan baik - huffingtonpost.com
 

Bisnis.com, HAVANA -  Pejabat Amerika Serikat dan Kuba mengklaim  hari pertama pembicaraan bersejarah kedua negara tersebut berjalan dengan baik meskipun perbedaan pendapat atas kebijakan imigrasi menjelang negosiasi untuk mengembalikan hubungan diplomatik, pada hari Rabu (21/1/2015).

Masing-masing pihak menggambarkan hari pertama dari pembicaraan dua hari berlangsung produktif dan konstruktif meskipun mereka tetap sangat bertentangan mengenai eksodus warga Kuba ke Amerika Serikat.

Ini adalah pertemuan pertama di Havana sejak keputusan penting Presiden AS Barack Obama dan pemimpin Kuba Raul Castro pada bulan Desember untuk mencari hubungan yang normal.

Roberta Jacobson, asisten menteri luar negeri AS untuk urusan Belahan Bumi Barat, menjadi pejabat Amerika berpangkat tertinggi untuk menginjakkan kaki di Kuba sejak tahun 1980 ketika ia mendarat di Havana.

Jacobson, tulis AFP/Antara, dijadwalkan bertemu rekan imbangan Kuba untuk makan malam dan menggelar pembicaraan yang bertujuan menegosiasikan pembukaan kembali kedutaan di Havana dan Washington, kata seorang pejabat AS.

Di Washington, Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan kedua pihak masih memiliki banyak hal untuk dinegosiasikan sebelum dapat menormalkan hubungan yang membeku sejak tahun 1961 selepas perang dingin.

"Jika saatnya tepat, saya akan pergi ke Kuba untuk secara resmi membuka kedutaan dan memulai hubungan kerjasama," kata Kerry kepada wartawan.

Seorang pejabat kementerian luar negeri Kuba berusaha untuk mengecilkan harapan terobosan besar minggu ini.

"Kita tidak bisa berharap bahwa semuanya akan diselesaikan dalam satu pertemuan," kata pejabat itu, sebuah media pemerintah menambahkan bahwa normalisasi hubungan adalah "proses yang jauh lebih panjang dan kompleks." Sengketa Imigrasi Wakil Jacobson, Alex Lee, mewakili pihak AS pada hari pertama pembicaraan yang duduk di seberang dari kepala departemen kementerian luar negeri Kuba untuk AS, Josefina Vidal.

"Sifat produktif dan kolaboratif diskusi hari ini membuktikan bahwa meskipun perbedaan yang jelas antara kedua negara, Amerika Serikat dan Kuba dapat menemukan peluang untuk memajukan kepentingan kita untuk saling berbagi," kata Lee setelah pembicaraan.

Menanggapi hal tersebut Vidal mengatakan: "Kuba berharap untuk memiliki hubungan normal dengan Amerika Serikat, dalam arti yang lebih luas, tetapi juga di bidang migrasi." Namun Vidal mengkritik kebijakan migrasi AS yang katanya mendorong "brain drain" (migrasi kaum intelektual), mengatakan bahwa "tidak sesuai dengan konteks bilateral saat ini dalam hubungan antara Kuba dan Amerika Serikat." Pembicaraan migrasi menangani masalah yang telah menjadi kerikil oleh kedua negara selama bertahun-tahun, dengan banyaknya kisah warga Kuba yang menyebrangi lau t sejauh 145 kilometer untuk mencapai Florida.

Sebelumnya pemerintah AS menyatakan kebijakan bagi para migran Kuba yang sudah menginjak tanah AS diperbolehkan untuk tinggal secara permanen (dry foot policy).

Namun bagi migran Kuba yang tertangkap di laut menuju tanah AS akan di deportasi (wet foot policy).

Pihak AS telah melihat lonjakan pendatang Kuba yang tampaknya takut bahwa perundingan AS-Kuba akan mengakhiri kebijakan tersebut. Jumlah penyadapan laut juga meningkat dua kali lipat pada bulan Desember 2014 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Namun Lee mengatakan, pemerintahan Obama "benar-benar berkomitmen" untuk menegakkan aturan yang ada.

Mengenai pembukaan kedutaan, pihak AS ingin Kuba untuk dapat mengakreditasi ulang para diplomat AS, mencabut larangan perjalanan bagi mereka ke dalam pulau, memudahkan pengiriman untuk misi AS dan mempersilakan personil misi AS untuk masuk ke Kuba.

Kedua negara saat ini memiliki "kepentingan" di masing-masing ibukotanya.

Obama menginginkan embargo dicabut Warga Kuba berharap pemulihan hubungan tersebut akan memperbaiki kehidupan mereka.

Pada malam pembicaraan, Obama mendesak Kongres untuk mengakhiri embargo puluhan tahun terhadap Kuba, yang menyalahkan rezim Castro untuk kesengsaraan ekonomi negara tersebut.

Masyarakat di negara pulau itu telah memiliki reaksi beragam, berterima kasih kepada Obama untuk usahanya untuk memperbaiki negara mereka sambil menyuarakan kekhawatiran bahwa terlalu banyak yang mengakui rezim Castro namun tidak mendapatkan imbalan yang sesuai.

Di Washington, beberapa anggota parlemen AS asal Kuba telah mengkritik keputusan Obama, mengatakan pemerintah sudah kebobolan terlalu banyak.

"Sebagai pemerintah mengejar keterlibatan lebih lanjut dengan Kuba, saya mendorong Anda untuk menghubungkan laju perubahan kebijakan AS untuk tindakan timbal balik dari rezim Castro," kata Senator Bob Menendez, dari partai Demokrat.

Kedua negara telah mengambil langkah-langkah untuk mencairkan hubungan dingin mereka.

Pemerintah Kuba telah menyelesaikan pembebasan 53 tahanan politik bulan ini menyusul tuntutan yang diajukan oleh Washington.

Beberapa hari kemudian, Departemen Keuangan AS meredakan larangan perjalanan dan perdagangan, meskipun Kongres AS mencabut embargo.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

as kuba
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top