Sektor Manufaktur China Kian Lemah

Sektor manufaktur China kian melemah, terdampak lesunya pertumbuhan ekonomi yang turut menurunkan kinerja pabrik. Para ekonom menilai, perlemahan sektor manufaktur hanya dapat ditangkal dengan penambahan stimulus.
Dara Aziliya | 02 Desember 2014 00:24 WIB
Manufaktur China - Reuters

Bisnis.com, BEIJING – Sektor manufaktur China kian melemah, terdampak lesunya pertumbuhan ekonomi yang turut menurunkan kinerja pabrik. Para ekonom menilai, perlemahan sektor manufaktur hanya dapat ditangkal dengan penambahan stimulus.

Pemerintah melaporkan indeks manufaktur (purchasing manager’s index/PMI) November merosot ke level 50,3, melambat dari bulan sebelumnya 50,8 sekaligus lebih rendah dari konsensus ekonomBloomberg yaitu 50,5.

Ekonom Capital Economics Ltd Julian Evans-Pritchard menyampaikan indeks PMI menegaskan sektor manufaktur China melaju lemah sepanjang tahun ini. Data pemerintah mengonfirmasi indeks sektor manufaktur berada di kisaran 50 dalam delapan bulan terakhir, batas antara ekspansi dan kontraksi.

“Kebijakan pemangkasan tingkat suku bunga memang akan membantu laju pertumbuhan, namun dampaknya tidak besar. Pemerintah harus menyertai keputusan itu dengan melonggarkan beberapa kontrol pinjaman,” kata Pritchard merespons data tersebut, Senin (1/12/2014).

Dia menggarisbawahi perilaku pemerintah yang amat berhati-hati dalam memberikan kredit, karena takut tingkat kredit buruk terus melambung. 

Adapun, data manufaktur pemerintah sekaligus mengonfirmasi data PMI sebelumnya yang dipublikasikan HSBC/Markit yang menunjukkan indeks 50,0.

Laporan PMI pemerintah mencatat permintaan pabrik-pabrik di Beijing dan beberapa regional memang turun. Puncaknya adalah selama event internasional Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) berlangsung di mana pemerintah meminta pabrik tidak beroperasi untuk mengurangi polusi.

Seperti diketahui, dua pekan lalu bank sentral mengejutkan pasar dengan memangkas suku bunga menjadi 5,6% dari sebelumnya 6% setelah pertumbuhan kuartal III menunjukkan perlambatan, dan data inflasi dan indeks harga produser kian turun.

Senada dengan Pritchard, para ekonom ANZ Bank melalui sebuah studi menyampaikan pemangkasan suku bunga tidak memberi dampak signifikan dalam menggenjot laju pertumbuhan.

“Memang memiliki daya dorong terhadap pertumbuhan ekonomi pada November, namun tidak besar. Untuk tumbuh sesuai target 7,5%, kami meyakini otoritas China harus mengintensifkan upaya pelonggaran pada Desember ini,” ungkap laporan ekonom ANZ.

Data menunjukkan inflasi November China berada di level 1,6% dan indeks harga produsen melambat ke level 2,2%. Kuartal III lalu China tumbuh 7,3% setelah berekspansi masing-masing 7,4% dan 7,5% pada kuartal pertama dan kedua.

Seorang sumber Reuters yang tidak ingin namanya disebut membeberkan bahwa otoritas moneter tengah mempertimbangkan pemangkasan suku bunga berikutnya, sekaligus menyusun beberapa upaya pelonggaran pinjaman.

Dia mengakui, para pengambil kebijakan memang mengkhawatirkan Negeri Tembok Raksasa akan tumbuh di kisaran 7% atau lebih rendah, mengingat China tidak pernah tumbuh serendah itu sejak krisis finansial global.

Sumber : Bloomberg/Reuters

Tag : manufaktur china
Editor :

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top