Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kabupaten Bandung Didorong Jadi Sentra Bibit Kentang

Petani kentang di Kab Bandung didorong untuk menjadi penangkar bibit ketimbang harus petani buah kentang seperti yang terjadi selama ini. Pasalnya, prospek bisnis kentang dinilai jauh lebih menggiurkan.
Herdi Ardia
Herdi Ardia - Bisnis.com 01 Oktober 2014  |  15:13 WIB
Perkebunan kentang - Bisnis
Perkebunan kentang - Bisnis

Bisnis.com, BANDUNG--Petani kentang di Kab Bandung didorong untuk menjadi penangkar bibit ketimbang harus petani buah kentang seperti yang terjadi selama ini. Pasalnya, prospek bisnis kentang dinilai jauh lebih menggiurkan.

Terlebih bibit kentang hasil penangkaran kelompok maupun pengusaha di Kab Bandung banyak diminati oleh petani yang berasal dari sejumlah provinsi seperti Aceh, Sulawesi, Sumatra hingga Bali.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kab Bandung A Tisna Umaran mengatakan, harga bibit kentang jenis granola kualitas G5 di tingkat penangkar mencapai Rp18.000 per kilogram (kg).

"Sedangkan harga buah kentang per kilogram sebesar Rp6.000. Jadi, memang ada selisih harga yang sangat menggiurkan," katanya, kepada wartawan, Rabu (1/10/2014).

Menurutnya, di Kab Bandung ada 96 kelompok maupun perusahaan yang bergerak di bidang penangkar benih. Bibit yang dijual oleh kelompok tertentu itu harus sudah dianggap lulus verifikasi oleh Balai Pengawasan Sertifikasi Benih.

Sentra petani kentang di Kab Bandung terdapat di dua kecamatan seperti Pangalengan dan Kertasari. Bibit kentang merupakan hasil kajian Balai Penelitian Sayuran (Balitsa) dan perguruan tinggi seperti Unpad, IPB serta Universitas Winaya Mukti (Unwim).

Mereka berkreasi menyilangkan bibit sehingga menghasilkan bibit kentang granula berkualitas. Sedangkan untuk bibit kentang atlantik, diakuiya masih bergantung pada Australia.

"Yang lebih menggiurkan lagi karena petani kentang di Kab Bandung menjadi rujukan oleh sejumlah daerah. Sehingga pasarnya tidak susah,"  tuturnya.

Saat ditanya mengenai volume penjualan bibit kentang yang ada selama ini, diakuinya, pihaknya kesulitan mendapatkannya. Karena masing-masing penangkar tidak memiliki kewajiban untuk melapor ke dinas.

 "Bibit kentang kabupaten unggul karena dulunya pernah juga didukung penelitian oleh Japan International Cooperation Agency (JICA)," paparnya. 

Ketua Asosiasi Penangkar Benih Kentang Jabar Dias Sudiana justru tidak setuju apabila  seluruh petani didorong untuk menjadi penangkar benih. Karena bagaimana pun jumlah penih harus lebih sedikit atau mencukupi kebutuhan.

"Pada dasarnya benih kentang di Jabar itu selalu mencukupi dan tidak pernah kekurangan. Kalau muncul dipermukaan ada kekurangan itu akibat psikologis petani di Indonesia yang seringkali mengikuti tren," ujarnya.

Dia menjelaskan, bibit kentang merupakan umbi-umbian dengan masa kadaluarsa tidak lebih dari tiga bulan. Berbeda dengan bibit biji-bijian yang masa kadaluarsanya bisa mencapai satu tahun.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kentang
Editor : Ismail Fahmi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top