Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pembatasan Solar Bersubsidi: Nelayan Jateng Beralih Jadi Kuli Bangunan

Sebagian besar nelayan di Jawa Tengah beralih profesi menjadi kuli bangunan sejak adanya kebijakan pemerintah mengenai pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis solar per 4 Agustus.
Muhammad Khamdi
Muhammad Khamdi - Bisnis.com 11 Agustus 2014  |  18:02 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, SEMARANG -- Sebagian besar nelayan di Jawa Tengah beralih profesi menjadi kuli bangunan sejak adanya kebijakan pemerintah mengenai pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis solar per 4 Agustus.

Ketua Kelompok Nelayan Mitra Mandiri Kota Semarang Remi Yulianto mengatakan pendapatan nelayan dari hasil tangkapan ikan laut bakal tergerus dengan pembatasan solar. Pasalnya, nelayan dengan kapal bertonase di bawah 30 gros ton (GT) harus membeli solar dengan jangkauan SPBU lebih jauh dari biasa.

Kondisi tersebut, kata dia, membuat biaya operasional kian membengkak.

“Sekarang nelayan lebih memilih jadi kuli bangunan. Pendapatannya jelas per hari berkisar Rp40.000, dan resikonya juga kecil,” papar Remi kepada Bisnis, Senin (11/8/2014).

Pihaknya menginginkan pemerintah pusat dalam membuat regulasi mestinya tidak merugikan rakyat kecil, seperti halnya nelayan.

Remi khawatir kebijakan pembatasan solar bersubsidi justru dimanfaatkan oknum tertentu untuk menimbun BBM.

“Misal di sini dibatasi. Namun di tempat lain ada kecurangan soal penimbunan solar bersubsidi, ini kan tidak adil,” paparnya.

Remi menjelaskan dengan kondisi cuaca normal di laut, setiap nelayan bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp100.000 per hari.

Adapun kondisi saat ini gelombang tinggi dan cuaca buruk di laut membuat nelayan enggan untuk mencari hasil tangkapan.

“Daripada merugi dan mendapatkan hasil apa-apa, lebih baik kami berhenti berlayar. Saya minta penjualan dinormalkan lagi,” tuturnya.

Beralihnya profesi nelayan menjadi kuli bangunan, kata dia, membuat hasil tangkapan ikan laut makin sedikit.

Alhasil, harga ikan laut di pasaran melonjak hingga 100%.

Dia mencontohkan harga kepiting rajungan yang semula dijual Rp40.000-Rp45.000 per kilogram (kg), kini melejit menjadi Rp80.000-Rp85.000/kg.

Kenaikan serupa terjadi pada hasil tangkapan jenis udang putih yang semula Rp40.000/kg, menjadi Rp75.000/kg.

“Karena barang tangkapan langka, harga otomatis naik. Kenaikan bisa mencapai 100% untuk jenis ikan tertentu,” paparnya.

Pejabat Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Emas Semarang Karolus Sengadji menguraikan gelombang tinggi khususnya di Pulau Jawa berpengaruh pada penundaan keberangkatan kapal yang biasa berlabuh di Tanjung Emas Semarang. Penundaan itu berlangsung selama dua hari.

Kendati demikian, pihaknya memastikan sejumlah kapal PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), kapal Darma Kencana dan kapal Kirana sudah bisa melakukan perjalanan mulai Jumat (8/8).

Karolus mengatakan para penumpang kapal yang semula tertunda keberangkatan sudah tertampung semua untuk keberangkatan awal dan berikutnya.

Tidak hanya itu, kata dia, uang penumpang dikembalikan 100% jika membatalkan pemberangkatan melalui jalur laut akibat cuaca buruk.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembatasan bbm bersubsidi
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top